Menurut analisis global WHO, selama Maret 2019 hingga November 2020 setidaknyatelah terdapat 87 ribu ton alat pelindung diri (APD) yang disalurkan di seluruh dunia.Sebagian besar peralatan ini diperkirakan akan berakhir sebagai limbah. Jumlah tersebutbelum termasuk limbah masker sekali pakai yang digunakan oleh masyarakat.SelainAPD, analisis tersebut juga menunjukkan bahwa selama pandemi lebih dari 140 juta alatuji telah digunakan. Limbah medis tersebut berpotensi menghasilkan 2.6 ribu ton limbahplastik, dan 731 ribu liter limbah kimia, yang setara dengan sepertiga kolam renangukuran Olimpiade. Vaksinasi juga turut andil menyumbangkan pencemaran limbahmedis, lebih dari 8 miliar dosis vaksin telah diberikan secara global dan menghasilkan144 ribu ton limbah tambahan dalam bentuk jarum suntik, jarum, dan kotak pengaman. Sumber limbah medis di indoesia melimpah selama pandemi, pandemi covid 19menyebabkan kuantitas limbah medis semakin meningkat. Hal ini berpotensi menimbulkanresiko lingkungan dan kesehatan. Produksi limbah medis berjumlah 296 ton/hari dan naikmenjadi 382 ton/hari saat pandemi. Tercatat sumber limbah medis dari rumah sakitberjumlah 2.852, puskesmas berjumlah 9.909 dan bersumber dari klinik berjumlah 8.841. Sejak Maret 2020 hingga Juni 2021, pandemi virus corona (Covid-19) di Indonesia telahmenghasilkan sebanyak 18.460 ton limbah medis kategori bahan berbahaya dan beracun(B3). (KLKH,2020).Kesimpulan dari penelitian ini adalah Ada hubungan pengetahuanbidan terhadap pelaksanaan pembuangan limbah cair dan pengelolaan dengan p value0.002 < 0.05.Ada hubungan sikap bidan terhadap pelaksanaan pembuangan limbah cair dan pengelolaan dengan p value 0.001 < 0.05