The Sagele tradition is a planting tradition accompanied by traditional music and singing that tells the joy and gratitude of the Bima people from generation to generation starting to enter the rainy season. This study aims to describe the values and existence of sagele in the ngguda tradition in the people of Bima Regency. In addition, in this study, the author uses the theory of cultural perspective as an analytical knife to examine a problem that is carried out. The descriptive method is a method of collecting data carried out by researchers so that an analysis is formed on the values and existence of sagele in the ngguda tradition in the people of Bima Regency. The results found in this study; First, sagele has several positive values, namely: togetherness, mutual cooperation, friendship, guidance and artistic values that are born from the rhythm of sagele. Second, in the current era, the existence of sagele in the ngguda tradition in the Bima Regency community is still maintained and used by some people, but it is estimated that in the coming years sagele in the ngguda tradition will fade by itself. Tradisi sagele merupakan tradisi menanam diiringi musik dan nyanyian tradisional yang menceritakan keceriaan dan rasa syukur masyarakat Bima secara turun temurun mulai memasuki musim hujan. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan nilai dan keberadaan sagele dalam tradisi ngguda pada masyarakat Kabupaten Bima. Selain itu, dalam penelitian ini penulis menggunakan teori perspektif budaya sebagai pisau analisis untuk mengkaji suatu masalah yang dilakukan. Metode deskriptif merupakan suatu metode pengumpulan information yang dilakukan oleh peneliti sehingga terbentuk suatu analisis tentang nilai dan keberadaan sagele dalam tradisi ngguda pada masyarakat Kabupaten Bima. Hasil yang ditemukan dalam penelitian ini yaitu pertama, sagele memiliki beberapa nilai positif yaitu: kebersamaan, gotong royong, persahabatan, bimbingan dan nilai seni yang lahir dari irama sagele. Kedua, pada periode sekarang, keberadaan sagele dalam tradisi ngguda di masyarakat Kabupaten Bima masih dipertahankan dan digunakan oleh sebagian masyarakat, namun diperkirakan pada tahun mendatang sagele dalam tradisi ngguda akan memudar dengan sendirinya.