Dalam meningkatkan kesejahteraan hidup masyarakat dapat digambarkan melalui pendapatan nyata perkapita, sedangkan mutu kehidupan tercermin dari pengeluaran konsumsi dengan tujuan  mempertahankan derajat hidup  manusia secara  wajar.  Pendapatan perkapita merupakan rata-rata pendapatan untuk setiap individu. Individu-individu akan mempergunakan pendapatannya untuk menkonsumsi berbagai barang dan jasa. Pada umumnya, kesejahteraan akan dicapai apabila seseorang dapat memenuhi kebutuhan diri sendiri dan keluarga dengan pendapatan yang dihasilkan. Pengeluaran konsumsi merupakan salah satu instrumen dalam menetapkan garis kemiskinan. Menurut BPS, Garis Kemiskinan (GK) merupakan penjumlahan dari Garis Kemiskinan Makanan (GKM) dan Garis Kemiskinan Non Makanan (GKNM).  Penduduk yang memiliki rata-rata pengeluaran perkapita per bulan dibawah Garis Kemiskinan dikategorikan sebagai penduduk miskin. Kemudian terjadinya konsumsi dipengaruhi oleh berbagai macam faktor diantaranya faktor ekonomi dan faktor sosial. Dari segi ekonomi, konsumsi secara langsung dapat dipengaruhi oleh pendapatan. Semakin tinggi pendapat kepala keluarga maka akan meningkatkan konsumsi keluarganya. Sedangkan dari segi sosial, konsumsi dapat dipengaruhi oleh jumlah anggota keluarga, pendidikan, dan jam kerja. Apabila suatu keluarga memiliki banyak anggota keluarga yang tertanggung maka akan semakin tinggi pula kebutuhan yang harus terpenuhi. Kemudian apabila  memiliki  tingkat  pendidikan  yang  tinggi  maka  seseorang  akan  lebih  memilih meningkatkan konsumsi non pangan daripada konsumsi pangan yang merupakan cerminan kesejahteraan. Sedangkan dari segi jam kerja, apabila seseorang memiliki jam kerja tinggi maka semakin besar beban kerja yang diterima yang secara langsung akan mempengaruhi konsumsi pangan maupun non pangan. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui pengaruh sosial ekonomi terhadap pengeluaran konsumsi keluarga miskin. Dalam penelitian ini  yang menjadi sampel adalah kepala keluarga miskin di Desa Gisikcemandi dan Desa Tambakcemandi Kecamatan Sedati Kabupaten Sidoarjo, dimana secara wiayah dan karakteristik penduduknya masuk dalam indikator  kemiskinan.  Penelitian  ini  menggunakan pendekatan  kuantitatif  deskriptif  dengan metode  analisis regresi  berganda. Hasil  penelitian menunjukkan bahwa pendapatan, jumlah anggota keluarga, pendidikan, dan jam kerja mempengaruhi pengeluaran konsumsi keluarga miskin. Kata kunci: Pengeluaran Konsumsi, Pendapatan, Jumlah Anggota Keluarga, Pendidikan, Jam Kerja. Â