Dengan meneliti aspek komunikasinya, dapat diketahui bahwa kemunculan ayat al-Qurán dalam fenomena Aksi Bela Islam 212 dilatarbelakangi berbagai kepentingan dan juga misi propaganda. Dengan demikian maka dapat dipahami mengapa kehadiran ayat utama, surat al-Maidah ayat 51, dapat berlanjut dengan kemunculan ayat lain yang secara umum tidak memiliki keterkaitan makna. Kemunculan “ayat 212” di landasi oleh kepentingan komunikator untuk membangun opini masyarakat dan melakukan propaganda dengan membuat masyarakat terpengaruh oleh informasi yang diberikan. Muatan ayat al-Qurán yang dinilai sacral menjadi nilai utama yang membuat informasi dari komunikator dipercayai oleh segolongan masyarakat. Saat kepercayaan telah terbangun dalam masyarakat, maka hal berikutnya yang terjadi adalah tindakan masyarakat yang telah terpengaruh oleh informasi yang dibentuk oleh komunikator. Titik tindakan inilah yang menunjukkan keberhasilan komunikasi al-Qur’an yang dilakukan dalam fenomena Aksi 212, sekaligus menunjukkan bagaimana al-Qurán secara fungsional hidup ditengah segolongat umat Islam. Selain menunjukkan bagaimana proses realitas al-Qurán dalam masyarakat, kajian ini juga menunjukkan bagaimana munasabah ayat memiliki bentuk baru. Relasi ayat yang selama ini ditentukan oleh makna ayat, dalam fenomena ini ditentukan secara simbolis menggunakan symbol 212. Sekali lagi bentuk munasabah baru ini terjadi karena sebuah kepentingan dibalik penghadiran ayat al-Qurán dalam fenomena 212.