Sugeng Harianto
Program Studi Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum, Universitas Negeri Surabaya

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Rasionalitas Masyarakat Menyerahkan Tanah dalam Pembangunan Infrastruktur Jalan di Desa Tunggul Kecamatan Paciran Kabupaten Lamongan Moh. Rizki Nur Salam; Sugeng Harianto
Jurnal Sosialisasi: Jurnal Hasil Pemikiran, Penelitian dan Pengembangan Keilmuan Sosiologi Pendidikan Volume 9, Nomor 3, November 2022
Publisher : Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26858/sosialisasi.v1i3.39009

Abstract

Pemerintah Desa Tunggul melakukan pembangunan fisik mutlak membutuhkan tanah. Penyerahan tanah dalam pembangunan infrastruktur jalan di Desa Tunggul sudah dilakukan sejak tahun 2007 hingga sekarang. Namun, proses penyerahan tanah tidak lepas dari adanya masalah. Penyerahan tanah tersebut melibatkan mayoritas hak milik atas tanah dari warga yang bersangkutan sedangkan kebutuhan atas tanah yang semakin meningkat. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi kondisi objektif sosial dan ekonomi masyarakat yang menyerahkan tanah, mengidentifikasi proses penyerahan tanah, dan menganalisis rasionalitas masyarakat yang menyerahkan tanah. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan perspektif rasionalitas Max Weber. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kondisi objektif sosial ekonomi pemilik tanah yang menyerahkan tanah bermacam-macam mulai dari pendidikan, status sosial, pekerjaan, penghasilan dan pengeluaran, kebutuhan, dan kekayaan. Proses penyerahan tanah melalui beberapa tahapan yaitu perencanaan, persiapan, pelaksanaan, dan evaluasi. Tindakan pemilik tanah terbagi menjadi tindakan rasionalitas instrumental dan tindakan rasionalitas berorientasi nilai. Tindakan rasionalitas instrumental yaitu pemilik tanah menginginkan infrastruktur jalan desa yang baru dan pemilik tanah memiliki keinginan untuk menjual tanahnya (nilai keuntungan). Tindakan rasionalitas berorientasi nilai yaitu pemilik tanah mempertimbangkan nilai agama sebagai bentuk amal ibadah dan pemilik tanah melakukan perbuatan yang baik.
Nongkrong dalam perspektif Dramaturgi Erving Goffman Muhammad Falih Iqbal; Pambudi Handoyo; Sugeng Harianto
Dimensia: Jurnal Kajian Sosiologi Vol. 13 No. 1 (2024): Dimensia: Jurnal Kajian Sosiologi
Publisher : Departemen Pendidikan Sosiologi FISHIPOL UNY

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/dimensia.v13i1.65282

Abstract

Pelajar di Surabaya nongkrong di kafe dan restoran tidak hanya untuk mengkonsumsi produk yang ditawarkan tetapi juga untuk membentuk makna dan simbol yang memaknai identitas sosialnya. Penelitian ini menjelaskan tentang nongkrong dalam perspektif Dramaturgi Erving Goffman. Dengan melakukan wawancara terhadap mahasiswa di Surabaya, penelitian ini merumuskan beberapa temuan penting mengenai nongkrong di kafe atau restoran yang dilakukan mahasiswa. Hasil penelitian menyebutkan bahwa mahasiswa Kota Surabaya menghabiskan waktu nongkrong 2-4 kali dalam seminggu di kafe dan restoran mewah. Budaya nongkrong di kalangan pelajar Kota Surabaya terlihat dari rangkaian sandiwara dramatis yang ditampilkan di atas panggung di depan media sosial. Serangkaian sandiwara dalam bentuk postingan media sosial dilakukan untuk mengaktualisasikan diri, merepresentasikan kemewahan, meningkatkan gengsi, dan mengikuti tren masa kini.Students in Surabaya hang out in cafes and restaurants not only to consume the products offered but also to form meanings and symbols that interpret their social identity. This research explains hanging out from Erving Goffman's Dramaturgical perspective. By conducting interviews involving students in Surabaya, the research formulated several important findings regarding hanging out in cafes or restaurants by students. The results of the research state that Surabaya City students spend time hanging out 2-4 times a week in luxury cafes and restaurants. The culture of hanging out among Surabaya City students is seen as a series of dramatic plays performed on the stage in front of social media. A series of skits in the form of social media posts are carried out to actualize oneself, represent luxury, increase one's prestige and follow current trends.