ABSTRAK Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan pendekatan studi literatur yang menggunakan teknik triangulasi; observasi, interview dan dokumentasi. Subjek penelitian adalah 5 orang pakar yang sudah dianggap senior theology yang dipilih dengan tektik purposive sampling. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan instrumen penelitian dalam bentuk angket tertutup dan interview serta observasi kajian literatur terkait dengan Perjanjian Lausanne 1974 dan implikasinya dalam kekristenan yang terfokus pada Revitalisasi Missio Dei Evanggelikal di lingkungan Kota Gunungsitoli Kepulauan Nias Sumatera Utara. Penelitian ini bertujuan untuk memberi usulan konkrit terkait cara menjaga keharmonisan dan kesatuan dalam masyarakat kota Gunungsitoli yang pluralisme. Hasil penelitian menunjukkan bahwa implikasi dari perjanjian Lausanne 1974 dalam hal Revitalisasi Missio Dei Evangelikal, menghadirkan sebuah temuan baru yakni konsep bahwa misi adalah bukan soal apa yang Allah katakan di dalam gereja melainkan apa yang Ia katakan di dalam dunia. Hal ini kemudian terekspresi secara kuat dan konkrit dimana kerjasama antar gereja dalam bentuk gerakan kehidupan dan tugas-tugas (tasks and life), Iman dan Tata Gereja (Faith and regulation) yang berjalan dengan harmonis di kota Gunungsitoli, kepulauan Nias. Interpretasi secara praksis adalah bahawa di kota Gunungsitoli tercapai cita-cita atau idealisme kemanusiaan secara utuh yang bermakana bahwa di situ pulalah misi kekristenan dilihat sebagai usaha untuk memenuhi kebutuhan dunia. Dengan kata lain, Perjanjian Lausanne dapat dikatakan sebagai refleksi keyakinan iman dan misi evangelikal yang diimplikasikan secara utuh, luas dan transformatif dimana misi di sini dilihat sebagai sebuah proses yang integral dari transformasi manusia secara keseluruhan. Kata kunci: Perjanjian Lausanne, Misi dan Penginjilan, Revitalisasi Missio Dei Evangelikal.