Adinda Setyaning Putri
Unknown Affiliation

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

PENYALAHGUNAAN IMMUNITY OLEH ANGGOTA KELUARGA PEJABAT DIPLOMATIK BELGIA BERDASARKAN KONVENSI WINA 1961 Adinda Setyaning Putri
Kumpulan Jurnal Mahasiswa Fakultas Hukum Sarjana Ilmu Hukum, Juli 2022
Publisher : Kumpulan Jurnal Mahasiswa Fakultas Hukum

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Adinda Setyaning Putri, Setyo Widagdo, Agis Ardhiansyah Fakultas Hukum Universitas BrawijayaJl. MT. Haryono No. 169 Malange-mail: adindasputri@student.ub.ac.id ABSTRAK Permasalah yang diangkat merupakan kasus dari Xiang Xueqiu, istri dari pejabat diplomatik Belgia untuk Korea Selatan yang tertangkap kamera CCTV melakukan tindakan kekerasan kepada 2 karyawan butik di sebuah butik yang terletak di kawasan Seoul, Korea Selatan. Selepas kejadian tersebut, ia mengajukan kekebalan diplomatik miliknya untuk menghindari sanksi pidana yang hendak ditujukan kepadanya, sehingga pada akhirnya sanksi pidana tidak bisa diberlakukan kepadanya. Kekebalan diplomatik memang tidak hanya berlaku pada pejabat diplomatik saja, namun juga anggota keluarga pejabat diplomatik sesuai dengan ketentuan dalam Pasal 37 Konvensi Wina 1961. Dalam Konvensi Wina 1961, yang menjadi aturan hukum utama berjalannya sebuah hubungan diplomatik memang belum diatur mengenai sanksi terhadap penyalahgunaan kekebalan diplomatik, sehingga yang menjadi permasalahan hukum disini adalah sejauh mana kekebalan diplomatik (immunity) dapat berlaku terhadap anggota keluarga pejabat diplomatik, dan juga bagaimana seharusnya bentuk pertanggungjawaban dapat dilakukan, serta bagaimana solusi yang tepat agar permasalahan serupa tidak terulang kembali. Hasil penelitian membuktikan bahwa kekebalan diplomatik bagi anggota keluarga diplomatik bersifat mutlak dalam yurisdiksi pidana, namun terdapat batasan-batasan dalam yurisdiksi perdata dan administrasi. Sedangkan, bentuk pertanggungjawaban yang dapat dilakukan selain opsi untuk melakukan recall (oleh negara pengirim), persona non-grata (oleh negara penerima), dan permintaan untuk menanggalkan kekebalan diplomatik, melakukan perbaikan (reparation) baik bagi kerugian imateriil maupun kerugian materiil juga wajib dilakukan, dimana hal ini berkesesuaian dengan Pasal 14 ILC’s Articles on Responsibility of States for Internationally Wrongful Acts 2001. Kata Kunci: Pertanggungjawaban, Penyalahgunaan Kekebalan Diplomatik, Anggota Keluarga Pejabat Diplomatik, Konvensi Wina 1961 ABSTRACT This research investigates the case of Xiang Xueqiu, a wife of a diplomatic official in Belgium for South Korea caught on camera physically attacking two shopkeepers in a boutique in Seoul, South Korea. Following this attack, she requested diplomatic immunity to escape criminal sanctions and no sanctions could be imposed. It holds true that diplomatic immunity also applies to the family members of a diplomat as in line with the provisions in Article 37 of the Vienna Convention 1961. However, this convention does not govern sanctions imposed on the abuse of immunity in regard to diplomatic relations. It raises another question regarding to what extent the diplomatic immunity can take place for family members of a diplomatic official, what responsibilities can be taken, and what solutions can be given to prevent this from happening. The research results reveal that diplomatic immunity is absolute in the criminal jurisdiction, but there are some restrictions in private jurisdiction and administration. The responsibilities may involve, in addition to recall, persona non-grata, request to waive the immunity, and reparation for either material or immaterial losses that must be considered, as in line with Article 14 of ILC’s Articles on Responsibility of States for Internationally Wrongful Acts 2001. Keywords : responsibility, abuse of diplomatic immunity, family members of diplomatic official, Vienna Convention 1961