Dalam literatur Barat disebutkan bahwa Max Miiller (1829-1900) dianggap sebagai orang yang paling berjasa dalam melakukan studi tentang agama. Dia seorang sarjana Jerman yang istimewa. Dia memilih tinggal di Oxford dan bekerja di sana antara tahun 1854 dan 1876. Ia sangat ahli tentang bahasa Sansekerta dan seorang ahli Indologi yang besar. Dia mendalami literatur suci India. Dia juga yang telah menyusun The Sacred Books of the East (Kitab-kitab Suci Dunia Timur), 51 jilid banyaknya, yang dimulai pada tahun 1875. Kitab ini berisi terjemahan-terjemahan dari Kitab-kitab Suci dari agama-agama Timur. Tulisan-tulisan Miiller dapat diklasifikasikan ke dalam (1) tulisan-tulisan tentang agama (65 judul); (2) tulisan tentang astronomi, Ancient Hindu Astronomy and Chronology; (3) tulisan-tulisan tentang pribadi besar (6 judul); (4) tulisan tentang filologi (21 judul); (5) tulisan tentang filsafat (7 judul); (6) tulisan tentang mitologi (3 judul); (7) tulisan tentang sastra (3 judul) dan (8) tulisan tentang sejarah (5) judul). Perkembangan studi tentang agama selanjutnya dilatarbelakangi oleh pemikiran-pemikiran filsafat abad 17. dan 18. Dua negara yang sangat berjasa dalam mengembangkan pemikiran-pemikiran filsafat, ialah (1) Jerman, (2) Perancis dan Inggris. Ciri-ciri pemikiran filsafat di Perancis dan Inggris ialah positivistis, rational, skeptis dan sekuler. Aliran ini mengklaim bahwa hal-hal yang tidak rational harus tunduk kepada prinsip-prinsip yang rational. Aliran pemikiran ini antara lain mengatakan bahwa kepercayaan-kepercayaan gaib yang diajarkan oleh agama harus ditolak dengan alasan bahwa agama adalah alat bagi para pendeta dan pejabat-pejabat agama untuk menunjukkan rakyat banyak bagi kepentingan mereka. Sebaliknya dari pemikiran-pemikiran di Perancis dan Inggris itu, ialah pemikiran-pemikiran filsafat di Jerman. Ciri pemikiran di Jerman pada waktu itu antara lain menekankan bahwa agama tidak dapat dipaharni secara rational sebagaimana diusulkan oleh pemikir-pemikir filsafat di Perancis dan Inggris. Agama secara sui generis memiliki metodanya sendiri.