Umar Asasuddin
State Islamie University (UIN) Sunan Kalijaga, Yogyakarta

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Dinasti Al-Murabitun dan Al-Muwahhidun di Andalusia (suatu Studi Perbandingan) Umar Asasuddin
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies No 40 (1990)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.1990.040.44-59

Abstract

Setelah jatuhnya dinasti Amawiyah di Spanyol tahun 1031, maka terjadilah disintegrasi pada kerajaan Islam itu. Kerajaan itu jatuh dan terbagi-bagi ke tangan "raja-raja golongan" (muluk-al-tawaif). Sebetulnya "raja-raja golongan" ini telah menduduki sebagian besar daerah kekuasaan bani Umayyah sejak tahun 1009. Raja-raja golongan ini terdiri atas tiga kelompok etnik: Barbar, Saqabilla ("Slavs") dan Andalusia; termasuk kepada yang terakhir ini semua orang Islam Arab dan keturunan Iberia (dan barangkali sebagian keturunan para pemukim Barbar terdahulu), yang sekarang hampir berfusi ke dalam suatu golongan sehingga orang-orang Arab tidak dihitung sebagai "golongan" terpisah. Dalam suatu daerah satu "golongan" cenderung mendominasi dan memerintah terutama untuk kepentingan sendiri tanpa memikirkan banyak untuk kepentingan penduduk lainnya. Dengan demikian di sana ada kekurangan persatuan, bahkan kekurangan itu ada dalam negara-negara kecil yang di dalamnya Spanyol sekarang terbagi. Orang-orang Barbar menguasai pantai selatan dari Guadal-quivir ke Granada dengan lautnya. Sebuah dinasti yang terkemuka adalah Hammudiah yang sebelum tahun 1031, telah menghasilkan tiga tuntutan kepada khilafah dan yang memerintah Malaga dan Algericas hingga sesudah pertengahan abad itu. Kira-kira pada waktu yang sama Algericas dan kota-kota kecil di antaranya dan Guadal quivir menjadi tunduk kepada Seville. Orang-orang Saqabilla umumnya pindah ke bagian timur di kala keruntuhan pemerintahan pusat, dan sebagian dari mereka memperoleh kekuasaan di kota-kota pantai seperti Almeria, Valencia dan Tortossa; tetapi mereka tidak membentuk dinasti-dinasti seperti orang-orang Barbar. Di antara "orang-orang Andalusia" dinasti mereka yang terkuat adalah Abbadiah di Seville. Pendirinya adalah qadhi Muhammad ibn 'Abbad, yang memegang kekuasaan tertinggi dari 1013-1042. Dia digantikan oleh anaknya dan cucunya, biasa dikenal dengan gelar kehormatan Al-Mu'tadid (1042-1068) dan Al-Mu'tamid (1068-1091). Al-Mu'tadid meluaskan kerajaan Seville yang kecil ke barat dan barat-daya, dan berperang melawan Cordova dan Granada di timur. Cordova akhirnya termasuk dalam kerajaannya oleh al-Mu'tamid.
Peran Cendikiawan dalam Perjuangan Kemerdekaan Palestina Pendekatan Sejarah Umar Asasuddin
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies No 51 (1993)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.1993.051.1-20

Abstract

Sebetulnya Palestina pada mulanya memang merupakan tanah air bagi bangsa Israel yaitu dari 1000 SM - 135 M.  ada tahun 1000 SM Nabi Daud a.s. bersama dengan raja Thalut (lihat Al-Qur'an 2:246-251) dapat mengalahkan bangsa Ammonit (Amaliqah) dan Philistine (rakyat yang suka berperang di Palestina) dari negeri Palestina. Setelah kemenangan itu maka Daud a.s. bersama dengan keturunannya menjadi raja di sana. Dalam rentang waktu yang lama itu (1000 SM - 135 M) negeri Palestina pernah berada di bawah kerajaan Achaemanid Persia (539 SM - 330 SM. Kira-kira dua abad sebelumnya negeri itu berada di bawah kerajaan Assyria dan Babilonia. Nebuchadrezzar dari Babilonia menguasai Suriah dan Palestina tahun 598 SM. Setelah itu selama ±300 tahun Palestina berada di bawah dinasti Ptolemy dari Mesir dan dinasti Seleucid dari Asia Kecil bagian barat. Kira-kira tahun 100 SM Roma muncul dalam arena percaturan politik. Pompey yang Agung yang baru saja menaklukkan kerajaan Seleucid, juga mengatur situasi di Palestina (63 SM). Tahun 66 M timbul huruhara oleh orang-orang Yahudi, namun tahun 67 M Vespasian, raja yang akan datang, dengan anaknya Titus, datang dengan kekuatan kira-kira 60.000 orang dan peperangan bertambah menjadi. Menjelang akhir tahun 67 Galillee direbut, dan Judea diambil dalam tiga kali pertempuran yang berakhir dengan kejatuhan Jerusalem tahun 70 M. Palestina sekarang menjadi provinsi Judea (nama bagian yang dipakai untuk keseluruhan).