Dalam kesejarahan agama-agama, agama akan selalu tersebar melintasi batas-batas geografis kepercayaan atau budaya lain. Dalam penyeebarannya tidak dapat dihindari adanya kontak, hubungan, pertemuaan atau pergumulan, percampuran dan peleburan dengan agama-agama, kepercayaan-kepercayaan, dan budaya setempat. Dalam penyebaran agama dimaksud, sering dilakukan dengan jalan damai oleh para penyiarnya dan tidak jarang dilakukan dengan melalui peperangan (Pedagang). Kalau agama disebarkan dengan cara ekspedisi militer dengan sendirinya aka nada bangsa yang ditaklukkan dan bangsa yang menaklukkan. Dalam penaklukan ini antara budaya pendatang seringkali dapat hidup berdampingan dengan budaya yang ada (yang didatangi) akan tetapi tidak jarang terjadi saling mengadopsi, saling memungut, saling mengisi dan saling mempengaruhi antar kepercayaan (budaya) penaklukkan. Dalam pertemuan atau percampuran ini seringkali tidak terjadi perubahan struktur dan sifat dari kepercayaan dan budaya yang saling bertemu akan tetapi juga seringkali tidak terjadi perubahan struktur asasinya sehingga masih memiliki identitas masing-masing (1). Dalam perjalanan kesejahteraan dari agama, kepercayaan dan budaya, biasanya akan menimbulkan beberapa problem identitas bagi agama, kepercayaan dan budaya, biasanya akan menimbulkan beberapa problem identitas bagi agama atau budaya, biasanya akan menimbulkan beberapa problem identitas bagi agama atau budaya tersebut, dan fenomena percampuran dua agama (dan Budaya) atau lebih, baik saling meminjam atau saling memungut tadi, biasanya diberi label dengan sikretisme.