lslamisasi Nusantara adalah topik yang banyak menarik perhatian kalangan sejarawan. Kapan, dari mana dan bagaimana penduduk Nusantara mulai menganut agama Islam, telah diperdebatkan di berbagai tulisan dan seminar-seminar. Karena langkanya bukti-bukti, kesimpulan dari proses yang rumit ini belum juga sampai ke titik yang memuaskan. Menurut M.C. Ricklefs, biarpun islamisasi Nusantara adalah proses yang sangat penuog dalam sejarah Indonesia, namun juga yang paling tidak jelas. Sejarah Islam Nusantara, terutama di masa awal, memang galau dan rumit. Azyumardi Azra, dalam kata pengantar untuk buku suntingannya. Perspektif Islam di Asia Tenggara, menyebut kegalauan dan kerumitan itu terutama karena kajian-kajian sejarah Islam dengan berbagai aspeknya di wilayah ini, oleh sejarawan asing maupun pribumi, hingga kini belum mampu merumuskan suatu paradigma historis yang dapat dijadikan pegangan bersama. Ada perbedaan-perbedaan dasar di kalangan para ahli yang kadang kadang sulit dipertemukan sama sekali. Kedua, fenomena Islam di Nusantara demikian kompleks. Islam bukanlah agama besar pertama yang tumbuh subur di sini. Masing-masing agama itu, Hindu, kemudian Buddha, Islam dan lalu Kristen yang bergerak dan datang berurutan dalam urutan sejarah secara gars besar menawarkan model-model yang telah membentuk matriks budaya-agama pribumi selama ratusan bahkan ribuan tahun. Walaupun dampak tradisi agama agama besar ini pada pola-pola kebudayaan pribumi tingkatnya berbeda-beda dari tempat ke tempat, namun sering-sering tampak mereka kurang sekall meninggalkan lapisan-lapisan endapan yang dapat dibedakan dengan Islam. Justru, terjadilah persenyawaan yang unik di antara tradisi-tradisi agama itu, yang barangkali tidak ada taranya di kawasan lain. Islam juga hars menghadapi kompleksitas geografis kawasan ini, dengan ribuan pulau dan iklim tropisnya yang sungguh-sungguh sorga bagi rempah-rempah, dan yang telah menarik segenap bangsa untuk datang dan mengadu untung. Malaka, yang terletak di jantung geografis kepulauan ini, lebih dari sekedar suatu pusat perdagangan yang cosmopolitan par excellence di abad ke-15, tetapi juga pusat aktivitas budaya dan politik gerakan pribumi pemeluk agama Islam di kawasan ini. Akhirya, jumlah penduduk yang banyak dan kemajemukan etnisnya yang luar biasa, adalah keunikan Asia Tenggara di sisi lain. Oleh karena itu, kita melihat banyak "Islam" di sini: Islam Melayu, Islam Aceh, Islam Bugis, Islam Sunda, Islam Jawa, Islam Madura dan sebagainya. Belum termasuk kantong-kantong muslim dari belahan dunia Islam lain, yang sebagian telah menetap berabad-abad, bukan hanya menambah kompleksitas matriks agama, tetapi juga heterogenitas etnis.