Ibnu 'Arabi, nama lengkapnya adalah Muhammad bin Ali bin Muhammad bin Ahmad Abdullah al Thai al Hatimi, lahir 17 Ramadlan 560 H, atau 27 Juli 1165 M di Mursia Andalus, wafat 638 H /1240 M. Nama Ibnu 'Arabi diberikan oleh orang-orang Abbasiyah, sedang di Andalus dikenal dengan nama Ibnu Quraqah. Dia adalah seorang tokoh sufi dan filsafat agama yang produktif yang berhasil merekonstruksikan pendekatan tasawuf dengan filsafat dalam mengkaji masalah "wujud" yang kemudian dipadukan menjadi satu kesatuan yang utuh dalam ajaran "wahdatul wujud") Ajaran ini cukup menggemparkan dunia tasawuf sehingga kepadanya diberikan gelar Syekh al Akbar. Uraian pemikirannya sistematis, luas dan mendalam tentang tasawuf. Hal mana belum didapati pada sufi sebelum bahkan sesudahnya. Ajaran "wahdatu al wujud" dalam tasawuf Ibnu 'Arabi merupakan suatu ajaran yang melihat masalah wujud dalam hal ini Tuhan, alam dan manusia sebagai suatu kesatuan. Namun berada pada dimensinya masing-masing, dan Tuhan meliputi segala yang ada. Sehingga yang "ada" bersifat nisbi; merupakan "ada" yang diadakan tidak lain dari yang mengadakannya. Sebab apa yang ada merupakan penampakan bagi diriNya, dan segala yang ada bersumber dariNya serta Dia pulalah yang menjadi esensinya. Namun itu tidak berarti yang diadakan dan yang terbatas menjadi yang tak terbatas. Tidak berarti alam semesta dan manusia menjelma menjadi Tuhan dan Tuhan menjadi manusia. Antara Tuhan, alam semesta dan manusia sekalipun dikatakan berada dalam satu keberadaan atau wahdatu al wujud namun alam semesta dan manusia nisbi dan terbatas. Keberadaannya bergantung pada Yang Tak Terbatas. Sedang Tuhan yang tidak terbatas ada di luar relasi, bukan yang ada dalam pengertian dan perasaan. Tuhan adalah independen atau mandiri dari semua makhlukNya. AdaNya bukan dari luar diriNya dan bukan pula karena selain diriNya. Akan tetapi ada karena diriNya dan oleh diriNya sendiri. Ia meliputi semua yang diciptakanNya. Hubungan dengan segala yang diciptakanNya. Dia membutuhkan mereka dalam kaitannya dengan ketuhananNya. Sebab tanpa makhluk ciptaanNya Dia tidak dikenal sebagai Tuhan; yaitu obyek pujaan (ilah) sampai ma'luh (komplemen logis dari ilah) diketahui. Maka Ibnu 'Arabi melihat realitas alam dan manusia tidak lain dari tajalli ilahi sekaligus sebagai cermin untuk melihat diriNya yang maha sempurna. Demikian pula sebagai pengenaIan akan keberadaanNya. Hal yang demikian ini pulalah yang menjadi tujuan dari penciptaan-Nya.