Penelitian ini bertujuan untuk menjadikan potensi layang-layang menjadi wisata edukasi dalam perspektif religiusitas. Perspektif religiusitas dalam festival Layang-layang dengan mengusulkan analisis strategi SWOT. Hasil analisis SWOT akan menunjukkan bahwa sektor pariwisata di Jabar Selatan ini berada pada kuadran pertumbuhan dengan strategi pertumbuhan yang bersifat stabil. Metode penelitian diawali dengan melakukan pengembangan desain model SWOT berdasarkan analisis data, yaitu dengan mengevaluasi kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. Pendekatan kualitatif ini bersifat umum menjelaskan mengenai filosofi, tujuan keberadaan layang-layang serta manfaat bagi masyarakat. Pendekatan kualitatif yang fleksibel dapat menggali essensi keberadaan layang-layang dari berbagai perspektif budaya di setiap daerahnya serta pendekatan ini bersifat dinamis agar bisa mengikuti alur pemikiran narasumber maupun pengikatan pemahamanan dari literasi dan data sekunder. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa faktor internal dan eksternal berada pada kuadran kedua dimana potensi wisata edukasi layang-layang pantai pangandaran dapat dikembangkan dengan menggunakan strategi meminimalkan masalah-masalah internal. Luaran yang ditargetkan: Hasil penelitian ini ditargetkan menghasilkan berupa artikel yang akan dimuat di Jurnal Nasional terakreditasi Sinta 1-6. The purpose of this study is to make the potential of kites into educational tours from the perspective of religiosity. The perspective of religiosity in the Kite festival by proposing a SWOT strategy analysis. The SWOT analysis results will show that the tourism sector in South West Java is in the growth quadrant with a stable growth strategy. This research method begins with developing a SWOT model design based on data analysis by evaluating the strengths, weaknesses, opportunities, and threats. This study used the descriptive qualitative method. This qualitative approach is general in nature, explaining the philosophy, purpose of kite existence, and benefits for the community. A flexible qualitative approach can explore the essence of the existence of kites from various cultural perspectives in each region and this approach is dynamic so that it can follow the flow of thought of the resource person and bind understanding from literacy and secondary data. The result of this research shows that internal and external factors are in the second quadrant where the educational tourism potential of Pangandaran beach kites can be developed using strategies to minimize internal problems. The results of this research are targeted to produce articles that will be published in the Sinta 1-6 accredited National Journal.