Indah Fadilah
Unknown Affiliation

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Suqutul Imam Karya Nawal El-Sya’dawi; Perempuan Dalam Pergulatan Dominasi Agama Mohammad Badrus Sholih; Indah Fadilah
Tamaddun: Jurnal Kebudayaan dan Sastra Islam Vol 22 No 1 (2022): Tamaddun: Jurnal Kebudayaan dan Sastra Islam
Publisher : Fakultas Adab dan Humaniora UIN Raden Fatah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19109/tamaddun.v22i1.11612

Abstract

Tujuan penelitian ini untuk menemukan bagaimana problematika perempuan dalam pergulatan dominasi agama yang diterjadi akibat penafsiran ayat Al-Qur’an dengan menegasikan perempuan di dalamnya. Gambaran tersebut oleh Nawal El-Sa’dawi dituliskannya dalam novel Suqutul Imam. Baginya problem tersebut merupakan entry pointterjadinya segala bentuk penindasan terhadap perempuan di bawah lindungan agama Islam sehingga novel tersebut sebagai bentuk resistensi dan kritik terhadap fenomena yang terjadi. Asghar mengenai pembebasan perempuan bahwa penafsiran harus sesuai dengan nilai-nilai keadilan serta kemanusiaan. Dimulai dari tiga kerangka berfikir Asghar, dimana penafsiran harus bersifat normatif, interpretatif, dan terbuka sepanjang zaman. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif dengan menjadikan novel suqutul imam sebagai data primer penelitian. Sedangkan perspektif pembebasan perempuan Asghar dijadikan sebagai alat untuk menganalisis formasi ketimpangan terhadap perempuan akibat penafsiran dalam budaya patriarki. Hasil yang ditemukan terdapat tiga aspek penting. Pertama, agama dan dan budaya patriarki, bagaimana budaya patriarki menjadi pokok utama terjadinya penafsiran yang patriarkis. Kedua, resistensi perempuan terhadap dogmatisme agama. Resitensi yang ditunjukkan oleh Nawal merupakan usahanya untuk membebaskan perempuan.Ketiga, redefinisi Nawal terhadap perempuan untuk mencapai kesetaraan dalam berbagai bidang tatanan sosial, karena tercemarnya penafsiran-penafsiran yang bertebaran dalam agama harus direkontruksi dalam bentuknya yang baru dan membebaskan.