Claim Missing Document
Check
Articles

Found 13 Documents
Search

SPIRITUALITAS KRISTEN DALAM MATIUS 22:37-40 SEBAGAI POLA HIDUP KRISTIANI Sibarani, Yosua
Shift Key : Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 10, No 2 (2020): Shift Key: Jurnal Teologi dan Pengembangan Pelayanan
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kristus Alfa Omega

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37465/shiftkey.v10i2.95

Abstract

There are so many questions and personal struggles about the spirituality of a Christian. In practice, spirituality is separated from the reality of life; the higher a person's spirituality, the further he should be from secular life. However, in Christianity, spirituality has a much more special and unique meaning than other religions or beliefs. The Bible has given teachings about true spirituality for believers as written in Matthew 22: 37-40. This article aims to explain the correct meaning of Christian spirituality in Matthew 22: 37-40 as a Christian lifestyle
PERAN ORANG TUA DALAM MEWARISKAN IMAN BAGI PEMBINAAN ROHANI ANAK REMAJA MENURUT 2 TIMOTIUS 1:5 DALAM ERA REVOLUSI INDUSTRI 4.0 Yosua Sibarani
Jurnal STT Gamaliel Vol 3, No 1 (2021): Jurnal Gamaliel Vol. 3 No. 1 Maret 2021
Publisher : STT Gamaliel

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38052/gamaliel.v3i1.61

Abstract

ABSTRAK - Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam era revolusi industri 4.0 turut menyeret kehidupan anak remaja ke dalam berbagai penyalahgunaan dan penyimpangan. Ada banyak kenakalan remaja yang terjadi di dalam masyarakat seperti pergaulan bebas, merokok, tawuran, minuman keras dan obat-obat terlarang, bahkan seks di luar nikah. Hal tersebut dapat disebabkan kurangnya peran orang tua dalam mewariskan nilai-nilai kerohanian kepada anak remaja. Dengan demikian, tujuan penelitian ini adalah untuk menjelaskan peran orang tua dalam mewariskan iman kepada anak remaja berdasarkan 2 Timotius 1:5. Penulis membatasi penelitian ini pada pembinaan rohani anak remaja. Untuk mencapai tujuan tersebut, maka penulis menerapkan metode penelitian kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi literatur. Dalam hal ini, penulis juga menganalisis teks 2 Timotius 1:5 melalui prinsip hermeneutik Perjanjian Baru untuk mendapatkan peran orang tua dalam mewariskan iman bagi pembinaan rohani anak remaja. Sebagai hasil dari penelitian ini, peran orang tua dalam mewariskan iman kepada anak remaja adalah sebagai pendidik (edukator), sebagai pembimbing (mentor), dan sebagai pendorong (motivator). Kata Kunci: Warisan Iman; Anak Remaja; Pembinaan Rohani; 2 Timotius 1:5 ABSTRACT – The advancement of science and technology in the industrial revolution era 4.0 also dragged the lives of teenagers into various abuses and deviations. There are many juvenile delinquencies that occur in society such as promiscuity, smoking, brawl, alcohol and drugs, and even sex outside of marriage. This can be due to the lack of the role of parents in passing on spiritual values to adolescents. Thus, the purpose of this study is to explain the role of parents in passing on faith to adolescents based on 2 Timothy 1: 5. The author limits this research to the spiritual formation of adolescents. To achieve these objectives, the authors apply descriptive qualitative research methods with a literature study approach. In this case, the author also analyzes the text of 2 Timothy 1:5 through the New Testament hermeneutic principles to get the role of parents in passing on faith for the spiritual formation of adolescents. As a result of this study, the role of parents in passing on faith to adolescents is as educators, as mentors, and as motivators. Keywords: Faith Heritage; Teenager; Spiritual Formation; 2 Timothy 1: 5
Alegorisasi Hagar Sebagai Gunung Sinai dan Yerusalem dalam Penafsiran Paulus: The Allegorization Hagar's as Mount Sinai and Jerusalem in Paul's Interpretation Yosua Sibarani
PASCA : Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen Vol 17 No 2 (2021): PASCA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Baptis Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46494/psc.v17i2.144

Abstract

This article aims to explain the allegorization of Hagar and Mount Sinai in Paul's theology as written in Galatians 4:24-25 as a result of exegesis studies. To achieve this goal, the author uses a historical-grammatical approach. In addition, the author presents the interpretation debate by New Testament theologians about the text as consideration for deciding the interpretation following Paul's intent. In conclusion, Paul uses an allegorical interpretation of Galatians 4:24-25 by explaining that Hagar as Mount Sinai and Jerusalem is an allusion to the Old Testament and legalistic Judaism, not grace.
Studi Evaluatif Model Khotbah Topikal Bagi Pengkhotbah Kristen Yosua Sibarani
Jurnal Teologi (JUTEOLOG) Vol. 1 No. 1 (2020)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kadesi Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52489/juteolog.v1i1.11

Abstract

Sermon plays an important role in Christian worship because it is the proclamation of God's word to the people. There are several models of preaching that can be applied by the preacher, one of which is the topical preaching model. Unfortunately, there are preachers who do not understand the essence of topical preaching by using Bible verses as a cover for other topics the preacher wants to address. This study is descriptive-evaluative about the topical preaching model and how it is implemented for Christian preachers so that readers are able to reconstruct the meaning of the topical sermons that have been carried out so far. This study finds that topical preaching is preaching that has advantages and disadvantages. This sermon model is in demand by many preachers because it is easier to prepare and effective in delivery. However, the preacher needs to be aware of the abuse of the topical method of inserting ideas into the biblical text (eisegesis). In fact, all preaching methods including topical must be exposition with the correct hermeneutic method.
Tinjauan Etika Kristen tentang Praktek Penggelembungan Dana (Mark-up) Bagi Pebisnis Kristen Yosua Sibarani
CARAKA: Jurnal Teologi Biblika dan Praktika Vol. 2 No. 1 (2021): Mei 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Injil Bhakti Caraka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46348/car.v2i1.43

Abstract

AbstractIn the realities of everyday life, Christians often encounter various kinds of temptations to do things that are hated by God. Of the many temptations, dishonesty has become a struggle for all Christians, including Christian businessmen. This form of dishonesty is inflating funds or often known as mark-up. This paper discusses the practice of mark-up and how Christian businessmen react to it from a Christian ethical perspective. A Christian businessman should glorify God through his business activities by rejecting behavior that is contrary to Christian faith. As a follower of Christ, he must have a different attitude from society in general. The Bible as the word of God is the basis for studying the practice of inflating these funds so that Christian businessmen can apply it in their life in general and their business activities in particular. AbstrakDalam kenyataan hidup sehari-hari, tidak jarang orang Kristen berhadapan dengan berbagai macam godaan berbuat hal yang dibenci oleh Allah. Dari sekian banyak godaan, ketidakjujuran menjadi pergumulan semua kalangan Kristen, termasuk pebisnis Kristen. Bentuk ketidakjujuran tersebut adalah penggelembungan dana atau sering dikenal dengan istilah mark-up.  Tulisan ini membahas tentang praktek penggelembungan dana (mark-up) dan cara pebisnis Kristen menyikapinya berdasarkan perspektif etika Kristen. Seorang pebisnis Kristen seharusnya memuliakan Allah melalui aktivitas bisnis yang dilakukannya dengan menolak perilaku yang bertentangan dengan iman Kristen. Sebagai pengikut Kristus, ia harus memiliki sikap yang berbeda dengan masyarakat pada umumnya. Alkitab sebagai firman Allah menjadi landasan untuk mengkaji praktek penggelembungan dana tersebut sehingga pebisnis Kristen dapat menerapkannya dalam hidupnya secara umum dan aktivitas bisnisnya secara khusus.
MAKNA "LETIH LESU DAN BERBEBAN BERAT" DALAM INJIL MATIUS 11:28 BERDASARKAN PRINSIP HERMENETIKA INJIL Yosua Sibarani
Voice of Wesley: Jurnal Ilmiah Musik dan Agama Vol 4, No 2 (2021): J.VoW Vol 4. No. 2 (2021)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologia Wesley Methodist Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36972/jvow.v4i2.82

Abstract

AbstractA reader of the Bible should know that ancient copies of the Old and New Testaments sometimes use different or inexact wordings regarding certain texts. This fact shows that the Bible needs to be interpreted based on the principle of correct interpretation so that today's readers understand the meaning of the text that is being read. The text of the Gospel of Matthew 11:28 is one of the many biblical texts that Christians have misunderstood as a result of the preacher's error in presenting it. This study aims to describe the concept of "tired and heavy laden" in Matthew 11:28 based on the interpretive principle that places Matthew specifically as one of the Gospels in the New Testament canon using qualitative research methods. As a result of this research, the phrase “weary and laden with weight” refers to Jews who are exhausted from carrying out the demands of the law for salvation, not to people who experience problems or problems of daily life of a physical nature. AbstrakSeorang pembaca Alkitab perlu mengetahui bahwa salinan kuno dari Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru kadang-kadang menggunakan susunan kata yang berbeda atau tidak sama persis mengenai teks tertentu. Fakta tersebut menunjukkan bahwa Alkitab perlu ditafsirkan berdasarkan prinsip penafsiran yang benar agar pembaca masa kini memahami makna teks yang sedang dibaca. Teks Injil Matius 11:28 adalah salah satu dari sekian banyak teks Alkitab yang disalahpahami oleh orang Kristen sebagai akibat dari kekeliruan pengkhotbah menyampaikannya. Penelitian ini bertujuan untuk memaparkan konsep “letih lesu dan berbeban berat” dalam Matius 11:28 berdasarkan prinsip penafsiran yang menempatkan Matius secara khusus sebagai salah satu dari Injil dalam kanon Perjanjian Baru menggunakan metode penelitian kualitatif. Sebagai hasil dari penelitian ini, frase “letih lesu dan berbeban berat” merujuk kepada orang-orang Yahudi yang mengalami kelelahan karena melakukan tuntutan hukum Taurat untuk mendapatkan keselamatan, bukan orang-orang yang mengalami masalah atau persoalan hidup sehari-hari yang bersifat jasmani.
Analisis Teologis Akal Budi Manusia dan Relevansinya Bagi Iman Kristen Yosua Sibarani
DUNAMOS: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen Vol. 2 No. 1 (2021): Vol 2 No 1 (2021): Dunamos (Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Happy Family

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (339.583 KB) | DOI: 10.54735/djtpak.v2i1.1

Abstract

Salah satu persoalan yang dihadapi oleh orang percaya adalah perdebatan tentang iman dan akal budi. Perdebatan ini berkaitan dengan peran akal budi dalam iman Kristen. Pada akhirnya muncul dua sisi berseberangan yaitu anti akal budi dan pengagungan terhadap akal budi. Pemahaman seseorang tentang hal tersebut tentu mempengaruhi praktek hidup sebagai orang percaya. Oleh sebab itu, penelitian ini bertujuan untuk memaparkan relevansi akal budi bagi iman Kristen. Untuk mencapai tujuan itu, penulis menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan analisis deskriptif. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Alkitab tidak pernah melarang orang percaya untuk menggunakan akal budi yang dianugerahkan Allah. Orang percaya harus memiliki akal budi yang dibaharui oleh Roh Kudus untuk dapat mengerti kehendak Allah melalui firman Allah sehingga pertumbuhan iman dapat tercapai (Ef. 4: 23 ; Rm. 10: 17).
Konseling Pastoral bagi Remaja Korban Kekerasan Fisik pada Masa Pandemi Covid-19 Yosua Sibarani
DUNAMOS: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen Vol. 2 No. 2 (2022): Vol. 2 No. 2 (2022): Dunamos (Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Happy Family

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (337.489 KB) | DOI: 10.54735/djtpak.v2i2.11

Abstract

Kasus kekerasan terhadap anak tergolong meningkat pada masa pandemi Covid-19 ini. Di antara kekerasan yang terjadi seperti kekerasan fisik, psikis, dan seksual; kekerasan fisik berada pada posisi pertama dalam urutannya. Kekerasan fisik yang dialami oleh remaja mempengaruhi perilaku dalam interaksi sosialnya. Tidak hanya itu, kekerasan tersebut juga memberi dampak buruk terhadap kesehatan mental remaja. Oleh sebab itu, remaja memerlukan pendampingan konseling pastoral yang efektif dari gereja. Tujuan artikel ini adalah menjelaskan prinsip konseling pastoral bagi remaja korban kekerasan fisik pada masa pandemi. Untuk mencapai tujuan itu, artikel ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Berdasarkan metode tersebut, maka penelitian ini menemukan hasil bahwa gereja mendapat anugerah dari Allah untuk menyatakan kasih Tuhan Yesus Kristus melalui konseling pastoral bagi remaja yang menjadi korban kekerasan fisik. Konseling pastoral bagi remaja korban kekerasan fisik meliputi: membangun hubungan dengan konseli, meyakinkan konseli butuh pertolongan, membawa konseli pada pertobatan, mendengarkan konseli, mengidentifikasi masalah dan mencari solusi, pemulihan, pengampunan, dan pemuridan.
Hidup Selibat Sebagai Karunia Tuhan: Studi Eksposisi 1 Korintus 7:7 Yosua Sibarani
CARAKA: Jurnal Teologi Biblika dan Praktika Vol. 3 No. 2 (2022): November 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Injil Bhakti Caraka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46348/car.v3i2.120

Abstract

Everyone has a unique calling from God, including the call to life whether married or not. There is an assumption that celibacy is an unusual or abnormal life. On the other hand, celibacy is made an absolute requirement for an ordained priest in the Catholic church. The Bible upholds marriage, but it also teaches about the gift of celibacy (1 Cor. 7:7). This article aims to explain celibacy as a gift from God based on the study of the exposition of 1 Corinthians 7:7 and the theological implications for the lives of believers. For this reason, the author uses a qualitative method with a literature study approach. This article concludes that celibacy is a special gift from God for certain people. Finally, the implications of celibacy as a gift from God are that celibacy is not a curse or a disgrace, celibacy is not a matter of being more spiritual (holy) or not, and celibacy is not an absolute requirement to be a servant of God.
Fenomena narsis beragama di media sosial: Sebuah analisis-reflektif Matius 6:1 Haposan Silalahi; Yosua Sibarani; Kevin Boris Marbun
KURIOS Vol. 9 No. 1: April 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v9i1.566

Abstract

Sometimes social media is used to insult and attack people who do not share the same faith or religion and spiritual understanding through religious narcissism. This article explains the meaning of Jesus' warning in Matthew 6:1 regarding religious activities as God's people's efforts to reject the phenomenon of religious narcissism on social media. Through the exegetical study method, the principle contained in Matthew 6:1 is not showing off and seeking human praise in carrying out religious or pious activities. Social media is an opportunity to show the existence of a believer's faith to bring others to repentance, not a place to show off piety.  AbstrakTerkadang media sosial digunakan untuk menghina dan menyerang orang yang tidak memiliki keyakinan atau agama serta pemahaman spiritual yang sama melalui perilaku narsisme beragama. Artikel ini bertujuan untuk menjelaskan makna teguran Yesus dalam Matius 6:1 tentang kegiatan agama sebagai upaya umat Tuhan menolak fenomena narsisme beragama di media sosial. Melalui metode studi hermeneutik, prinsip yang terkandung dalam Matius 6:1 adalah tidak pamer dan mencari pujian manusia dalam melakukan kegiatan agama atau kesalehan. Pada dasarnya, media sosial merupakan peluang untuk menunjukkan eksistensi iman orang percaya untuk membawa orang lain kepada pertobatan, bukan ajang pamer kesalehan.