This Author published in this journals
All Journal Ruang
Wakhidah Kurniawati
Departemen Perencanaan Wilayah dan Kota, Universitas Diponegoro|Universitas Diponegoro|Indonesia

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Bentuk Hunian Informal: Studi Kasus tentang Hunian Bertahap di Kampung Melayu Semarang Desmalinda Kurniati Daraz; Wakhidah Kurniawati
Ruang Vol 7, No 1 (2021): Ruang
Publisher : Department of Urban and Regional Planning, Faculty of Engineering, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/ruang.7.1.46-55

Abstract

Permukiman informal mendominasi struktrur kota-kota di dunia dan menjadi tempat tinggal bagi mayoritas penduduk kota. Tahun 2014 tercatat sebanyak 29.7%, atau setara 881 juta penduduk perkotaan di negara-negara berkembang yang tinggal di hunian informal. Selama lebih dari 50 tahun, sudah dilakukan upaya untuk menghadapi keberadaan hunian informal, tetapi tantangan permukiman informal tidak bisa diatasi hanya dengan penggusuran. Pemerintah telah berupaya melakukan peningkatan kualitas fisik Kampung Melayu melalui program KOTAKU yang berfokus menata kawasan hunian informal agar sesuai dengan standar yang ditetapkan. Program tersebut seharusnya juga dapat mengakomodasi kebutuhan spasial penduduk sehingga perlu untuk memahami lokasi secara mendalam untuk dapat mengetahui kebutuhan spasial penduduk yang dilihat dari kondisi fisik eksisting dan bentuk penyediaan huniannya. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji karakteristik fisik hunian informal di Kampung Melayu yang berfokus pada hunian informal di Jalan Melayu Tengah. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara, observasi dan dokumentasi. Data dianalisis menggunakan teknik analisis isi dan analisis deskriptif. Hasil menunjukkan bahwa kondisi hunian menggunakan pencampuran material permanen dan non-permanen, fasilitas terbatas dan kondisi infrastruktur tidak sesuai standar, ruang publik terbatas pada ruang jalan dan drainase yang diokupansi hunian. Penduduk melakukan berbagai bentuk hunian bertahap yang dibangun berdasarkan kebutuhan spasial penghuninya.