Dewa Gede Yadhu Basudewa, Dewa Gede Yadhu
Unknown Affiliation

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

LAKSANA ARCA DURGA MAHISASURAMARDINI PADA BEBERAPA PURA DI BALI SEBUAH TINJAUAN VARIASI DAN MAKNA Basudewa, Dewa Gede Yadhu
Siddhayatra Vol 24, No 2 (2019): JURNAL ARKEOLOGI SIDDHAYATRA
Publisher : Balai Arkeologi Sumatera Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1486.637 KB) | DOI: 10.24832/siddhayatra.v24i2.155

Abstract

Penelitian ini dilakukan berdasarkan keunikan variasi laksana DurgaMahisasuramardini pada beberapa pura di Bali, seperti membawa laksana sesuai denganmitologi tercipatanya Dewi Durga dan sesuai dengan keinginan pribadi pemahat (localgenius). Tujuan penelitian ini adalah mengetahui jenis-jenis variasi dan makna filosofilaksana arca Durga Mahisasuramardini pada beberapa pura di Bali. Pengumpulan datadalam penelitian ini dilakukan dengan metode observasi dan studi kepustakaan melaluipendekatan kualitatif yang selanjutnya dibahas menggunakan analisis ikonografi dan teorisemiotika. Hasil penelitian menunjukkan Durga sebagai sakti Dewa Siwa sangat sesuaidengan tugasnya sebagai penghancur kejahatan (asura) dan memiliki tugas yang samadengan Dewa Wisnu sebagai pemelihara alam semesta dari kejahatan (asura). Jenis-jenisvariasi laksana yang dibawa oleh arca Durga Mahisasuramardini dalam penelitian ini adalahcakra, sangkha, sara, gada, pasa, khetaka, khadga, trisula, sakti, pustaka, camara, aksamala,keris, kuncup padma, dan ekor mahisa. Laksana-laksana tersebut sebagai atribut DurgaMahisasuramardini memiliki makna-makna filosofi berdasarkan mitologi dan fungsinya,yaitu sebagai makna kekuatan, kesaktian, kesucian, penghalang, keagungan, dan kesuburanatau kemakmuran alam semesta.
IKHTISAR PERADABAN KOTA DENPASAR SEBAGAI KOTA PUSAKA BERDASARKAN DATA CAGAR BUDAYA BASUDEWA, DEWA GEDE YADHU
Siddhayatra Vol 25, No 2 (2020): JURNAL ARKEOLOGI SIDDHAYATRA
Publisher : Balai Arkeologi Sumatera Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/siddhayatra.v25i2.186

Abstract

Penelitian ini dilaksanakan berdasarkan keragaman pusaka yang tersebar di Kota Denpasar, khususnya pusaka budaya bersifat benda (Cagar Budaya). Keragaman pusaka budaya berupa Cagar Budaya tersebut menjadikan Kota Denpasar menyandang predikat kota pusaka. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui jenis, sebaran dan periodisasi pusaka budaya (Cagar Budaya) yang nantinya digunakan sebagai data ikhtisar peradaban Kota Denpasar sebagai kota pusaka, karena selama ini pusaka budaya yang dikenal luas hanya berupa pura, puri, purana dan pasar. Pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan metode observasi dan studi kepustakaan melalui pendekatan kualitatif di keempat kecamatan Kota Denpasar. Hasil penelitian ini menghasilkan jumlah data Cagar Budaya sebanyak 304 tersebar pada empat kecamatan di Kota Denpasar yang berasal dari masa megalitik (prasejarah) dengan jenis Cagar Budaya seperti punden berundak, arca bercorak megalitik, menhir, lumpang batu, kedok muka, palung batu, dan dolmen. Kemudian masa sejarah di mulai sekitar abad X-XIII Masehi (masa Bali Kuna), masa Bali Madya (pengaruh Majapahit) sekitar abad XIV-XVI Masehi, hingga masa Kerajaan Puri di Bali sekitar abad XVII-XX Masehi dengan jenis Cagar Budaya seperti arca, prasada, gapura, gedong, prasasti, lingga yoni, fragmen bangunan, struktur petirtaan, bale kulkul, dan keris. Selanjutnya muncul masa Islam yang berkembang sekitar abad XVII-XX Masehi dengan jenis Cagar Budaya seperti rumah panggung, masjid, mimbar, al-quran, makam, dan keranda. Masa Penjajahan Kolonial Belanda dan Jepang sekitar abad XX Masehi memperlihatkan jenis Cagar Budaya seperti museum, hotel, pertokoan, meriam, dan makam. Hingga masa setelah Kemerdekaan dengan meninggalkan jenis-jenis Cagar Budaya seperti kampus Fakultas Sastra Udayana yang resmi dibuka oleh Ir. Soekarno pada pada tanggal 29 September 1956, sekolah, dan situs kampung arab.
LAKSANA ARCA DURGA MAHISASURAMARDINI PADA BEBERAPA PURA DI BALI SEBUAH TINJAUAN VARIASI DAN MAKNA Basudewa, Dewa Gede Yadhu
Siddhayatra Vol 24, No 2 (2019): JURNAL ARKEOLOGI SIDDHAYATRA
Publisher : Balai Arkeologi Sumatera Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/siddhayatra.v24i2.155

Abstract

Penelitian ini dilakukan berdasarkan keunikan variasi laksana DurgaMahisasuramardini pada beberapa pura di Bali, seperti membawa laksana sesuai denganmitologi tercipatanya Dewi Durga dan sesuai dengan keinginan pribadi pemahat (localgenius). Tujuan penelitian ini adalah mengetahui jenis-jenis variasi dan makna filosofilaksana arca Durga Mahisasuramardini pada beberapa pura di Bali. Pengumpulan datadalam penelitian ini dilakukan dengan metode observasi dan studi kepustakaan melaluipendekatan kualitatif yang selanjutnya dibahas menggunakan analisis ikonografi dan teorisemiotika. Hasil penelitian menunjukkan Durga sebagai sakti Dewa Siwa sangat sesuaidengan tugasnya sebagai penghancur kejahatan (asura) dan memiliki tugas yang samadengan Dewa Wisnu sebagai pemelihara alam semesta dari kejahatan (asura). Jenis-jenisvariasi laksana yang dibawa oleh arca Durga Mahisasuramardini dalam penelitian ini adalahcakra, sangkha, sara, gada, pasa, khetaka, khadga, trisula, sakti, pustaka, camara, aksamala,keris, kuncup padma, dan ekor mahisa. Laksana-laksana tersebut sebagai atribut DurgaMahisasuramardini memiliki makna-makna filosofi berdasarkan mitologi dan fungsinya,yaitu sebagai makna kekuatan, kesaktian, kesucian, penghalang, keagungan, dan kesuburanatau kemakmuran alam semesta.