Pendahuluan: Diabetes mellitus merupakan salah satu penyakit dengan jumlah kasus yang cukup tinggi. Komplikasi diabetes mellitus, seperti ulkus kaki diabetikus, jarang dibahas. Pengobatan ulkus kaki diabetikus sering menjadi beban karena mahalnya biaya perawatan luka sehingga dibutuhkan terobosan. Flavonoid sering dilaporkan memiliki manfaat terhadap penyembuhan luka. Salah satu tanaman yang mengandung flavonoid adalah bunga kamboja (Plumeria sp.). Metode: Krim dibuat dengan 3 konsentrasi, yaitu 25%, 50%, dan 75%. Krim diberikan pada tikus putih sebanyak 24 ekor dan diinduksi aloksan. Krim diberikan sebanyak 2 kali sehari dan diamati luas luka nya selama 7 hari. Lalu, tikus akan dieuthanasia untuk diambil kulitnya dan dilakukan pengamatan histologi dengan preparat hematoxylin eosin untuk melihat kolagen. Luas kolagen dihitung dengan aplikasi ImageJ. Hasil: Penutupan luka dan luas kolagen kelompok dengan perlakuan lebih baik daripada tanpa perlakuan. Rata-rata penutupan luka hewan kelompok I adalah 37,25%, kelompok II adalah 75,75%, kelompok III adalah 66,67%, dan kelompok IV adalah 61,70%. Sedangkan rata-rata luas kolagen kelompok I adalah 265776 pixel2, kelompok II 399579,5 pixel2, kelompok III 281749,75 pixel2, dan kelompok IV 271382,9 pixel2. Pembahasan: Hasil terbaik adalah kelompok II. Peningkatan dosis krim tidak memberikan efek yang lebih signifikan sehingga dosis 25% adalah dosis maksimal efektif/Maximum Effective Dose (MaxED). MaxED ini berarti peningkatan dosis tidak akan menunjukkan adanya peningkatan efikasi. Simpulan: Pemberian krim ekstrak bunga kamboja (Plumeria sp.) dengan konsentrasi 25% memiliki efektivitas yang paling tinggi untuk penyembuhan ulkus kaki diabetikus. Kata kunci: Bunga kamboja, Ulkus kaki diabetikus, Kolagen, Flavonoid