Nopi Sari
Institut Al-Ma'arif Way Kanan, Indonesia

Published : 6 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

Model Pembelajaran Kooperatif Two Stay Two Stray Dapat Meningkatkan Kemandirian Belajar dan Hasil Belajar Siswa SDS Madang Jaya Nopi Sari
Tadzkirah : Jurnal Pendidikan Dasar Vol. 3 No. 2 (2021)
Publisher : STAI Al-Ma`arif Way Kanan Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (192.736 KB) | DOI: 10.55510/tadzkirah.v3i1.56

Abstract

Belajar sudah menjadi kebutuhan pokok saat ini. Kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan dewasa ini telah menyebabkan informasi dapat tersedia dalam jumlah yang tak terbatas dan dengan akses yang mudah. Hal ini menjadikan banyak perubahan serta perkembangan dari berbagai aspek kehidupan. Perubahan ini tentunya perlu direspon dengan penyelesaian pendidikan yang profesional dan bermutu. Dalam upaya untuk mencapai tujuan matematika, guru merupakan salah satu faktor yang menentukan keberhasilan siswa. Hasil observasi peneliti menunjukkan bahwa pada proses pembelajaran terlihat suasana kelas yang kurang kondusif. Kebiasaan siswa dalam pembelajaran adalah duduk, diam, dengar, catat, siswa tidak aktif bertanya jika kurang paham dengan materi yang disampaikan, siswa hanya mengingat pelajaran matematika pada saat belajar dan setelah itu lupa, siswa terbiasa menghafal rumus tanpa memahaminya. Permasalahan ini disebabkan karena model ataupun pendekatan pembelajaran yang digunakan belum melibatkan peran aktif siswa. Penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK), peneliti bertindak sebagai pendidik dan pendidik mata pelajaran sebagai observer. Pembelajaran dilakukan selama 2 siklus dengan 6 kali pertemuan. Metode pengumpulan data menggunakan tes tertulis, lembar observasi untuk mengamati aktivitas siswa dan metode dokumentasi, serta wawancara. Berdasarkan hasil analisis dari penelitian dapat disimpulkan hal-hal sebagai berikut: 1) Penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Two Stay Two Stray dapat meningkatkan kemandirian belajar siswa seiring dengan pergantian siklus. 2) Penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Two Stay Two Stray ini dapat meningkatkan hasil belajar siswa. 3) Penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Two Stay Two Stray dapat meningkatkan kemandirian belajar dan hasil belajar siswa pada mata pelajaran matematika. Hal ini dapat dilihat dari hasil belajar siswa yang mengalami peningkatan dari siklus I ke siklus II
METODE PENEMUAN (DISCOVERY) DALAM MENINGKATKAN MOTIVASI DAN PRESTASI BELAJAR IPA PADA MATERI KESEIMBANGAN EKOSISTEM Nopi Sari
Tadzkirah : Jurnal Pendidikan Dasar Vol. 4 No. 1 (2022): tadzkirah
Publisher : STAI Al-Ma`arif Way Kanan Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (290.205 KB) | DOI: 10.55510/tadzkirah.v3i2.97

Abstract

Belajar sudah menjadi kebutuhan  pokok  saat  ini.  Kemajuan  teknologi dan ilmu  pengetahuan  dewasa  ini  telah menyebabkan  informasi  dapat tersedia dalam  jumlah  yang  tak  terbatas  dan  dengan akses  yang  mudah.  Hal  ini menjadikan   banyak  perubahan   serta   perkembangan   dari   berbagai   aspek kehidupan.   Perubahan   ini   tentunya   perlu   direspon   dengan   penyelesaian pendidikan yang profesional dan bermutu. Dalam upaya untuk mencapai tujuan  matematika,  guru  merupakan  salah  satu  faktor  yang  menentukan  keberhasilan siswa.  Hasil  observasi  peneliti  menunjukkan  bahwa  pada proses  pembelajaran terlihat   suasana   kelas   yang   kurang   kondusif.   Kebiasaan   siswa   dalam  pembelajaran adalah duduk, diam, dengar, catat, siswa tidak aktif bertanya jika kurang  paham  dengan  materi  yang  disampaikan,  siswa  hanya  mengingat pelajaran  matematika  pada  saat  belajar  dan  setelah  itu  lupa,  siswa  terbiasa menghafal  rumus  tanpa  memahaminya.  Permasalahan  ini  disebabkan  karena model  ataupun  pendekatan  pembelajaran  yang  digunakan  belum  melibatkan peran aktif siswa. Penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK), peneliti bertindak sebagai pendidik dan  pendidik  mata  pelajaran  sebagai  observer.  Pembelajaran  dilakukan Selama 2 siklus dengan 6 kali pertemuan. Metode pengumpulan data menggunakan  tes  tertulis,  lembar  observasi  untuk  mengamati  aktivitas  siswa dan metode dokumentasi, serta wawancara Dari  hasil  analis didapatkan bahwa  motivasi  siswa  serta  prestasi  belajar  siswa  mengalami  peningkatan  dari  siklus  I  sampai  siklus  II  yaitu,  siklus  I  (45.45%), siklus II (81.91%). Kesimpulan  dari  penelitian  ini  adalah  metode  penemuan (discovery) dapat  berpengaruh positif terhadap  motivasi  belajar  Siswa  kelas  VI  SDS  Madang  Jaya,  Serta  metode  pembelajaran  ini  dapat  digunakan  sebagai  salah  satu alternatif pembelajaran IPA  
METODE PENEMUAN (DISCOVERY) DALAM MENINGKATKAN MOTIVASI DAN PRESTASI BELAJAR IPA PADA MATERI KESEIMBANGAN EKOSISTEM Nopi Sari
Tadzkirah : Jurnal Pendidikan Dasar Vol. 4 No. 1 (2022): Tadzkirah : Jurnal Pendidikan Dasar
Publisher : LPPM Institut Al-Ma`arif Way Kanan Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55510/tadzkirah.v3i2.97

Abstract

Belajar sudah menjadi kebutuhan  pokok  saat  ini.  Kemajuan  teknologi dan ilmu  pengetahuan  dewasa  ini  telah menyebabkan  informasi  dapat tersedia dalam  jumlah  yang  tak  terbatas  dan  dengan akses  yang  mudah.  Hal  ini menjadikan   banyak  perubahan   serta   perkembangan   dari   berbagai   aspek kehidupan.   Perubahan   ini   tentunya   perlu   direspon   dengan   penyelesaian pendidikan yang profesional dan bermutu. Dalam upaya untuk mencapai tujuan  matematika,  guru  merupakan  salah  satu  faktor  yang  menentukan  keberhasilan siswa.  Hasil  observasi  peneliti  menunjukkan  bahwa  pada proses  pembelajaran terlihat   suasana   kelas   yang   kurang   kondusif.   Kebiasaan   siswa   dalam  pembelajaran adalah duduk, diam, dengar, catat, siswa tidak aktif bertanya jika kurang  paham  dengan  materi  yang  disampaikan,  siswa  hanya  mengingat pelajaran  matematika  pada  saat  belajar  dan  setelah  itu  lupa,  siswa  terbiasa menghafal  rumus  tanpa  memahaminya.  Permasalahan  ini  disebabkan  karena model  ataupun  pendekatan  pembelajaran  yang  digunakan  belum  melibatkan peran aktif siswa. Penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK), peneliti bertindak sebagai pendidik dan  pendidik  mata  pelajaran  sebagai  observer.  Pembelajaran  dilakukan Selama 2 siklus dengan 6 kali pertemuan. Metode pengumpulan data menggunakan  tes  tertulis,  lembar  observasi  untuk  mengamati  aktivitas  siswa dan metode dokumentasi, serta wawancara Dari  hasil  analis didapatkan bahwa  motivasi  siswa  serta  prestasi  belajar  siswa  mengalami  peningkatan  dari  siklus  I  sampai  siklus  II  yaitu,  siklus  I  (45.45%), siklus II (81.91%). Kesimpulan  dari  penelitian  ini  adalah  metode  penemuan (discovery) dapat  berpengaruh positif terhadap  motivasi  belajar  Siswa  kelas  VI  SDS  Madang  Jaya,  Serta  metode  pembelajaran  ini  dapat  digunakan  sebagai  salah  satu alternatif pembelajaran IPA  
Model Pembelajaran Kooperatif Two Stay Two Stray Dapat Meningkatkan Kemandirian Belajar dan Hasil Belajar Siswa SDS Madang Jaya Nopi Sari
Tadzkirah : Jurnal Pendidikan Dasar Vol. 3 No. 2 Tdzkirah: Jurnal Pendidikan Dasar
Publisher : LPPM Institut Al-Ma`arif Way Kanan Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55510/tadzkirah.v3i1.56

Abstract

Belajar sudah menjadi kebutuhan pokok saat ini. Kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan dewasa ini telah menyebabkan informasi dapat tersedia dalam jumlah yang tak terbatas dan dengan akses yang mudah. Hal ini menjadikan banyak perubahan serta perkembangan dari berbagai aspek kehidupan. Perubahan ini tentunya perlu direspon dengan penyelesaian pendidikan yang profesional dan bermutu. Dalam upaya untuk mencapai tujuan matematika, guru merupakan salah satu faktor yang menentukan keberhasilan siswa. Hasil observasi peneliti menunjukkan bahwa pada proses pembelajaran terlihat suasana kelas yang kurang kondusif. Kebiasaan siswa dalam pembelajaran adalah duduk, diam, dengar, catat, siswa tidak aktif bertanya jika kurang paham dengan materi yang disampaikan, siswa hanya mengingat pelajaran matematika pada saat belajar dan setelah itu lupa, siswa terbiasa menghafal rumus tanpa memahaminya. Permasalahan ini disebabkan karena model ataupun pendekatan pembelajaran yang digunakan belum melibatkan peran aktif siswa. Penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK), peneliti bertindak sebagai pendidik dan pendidik mata pelajaran sebagai observer. Pembelajaran dilakukan selama 2 siklus dengan 6 kali pertemuan. Metode pengumpulan data menggunakan tes tertulis, lembar observasi untuk mengamati aktivitas siswa dan metode dokumentasi, serta wawancara. Berdasarkan hasil analisis dari penelitian dapat disimpulkan hal-hal sebagai berikut: 1) Penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Two Stay Two Stray dapat meningkatkan kemandirian belajar siswa seiring dengan pergantian siklus. 2) Penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Two Stay Two Stray ini dapat meningkatkan hasil belajar siswa. 3) Penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Two Stay Two Stray dapat meningkatkan kemandirian belajar dan hasil belajar siswa pada mata pelajaran matematika. Hal ini dapat dilihat dari hasil belajar siswa yang mengalami peningkatan dari siklus I ke siklus II
Improving Learning Independence of Elementary Students through the Two Stay Two Stray Method Nopi Sari
Journal of Childhood Development Vol. 4 No. 1 (2024): Journal of Childhood Development
Publisher : Program Studi Pendidikan Islam Anak Usia Dini, Institut Agama Islam Ma'arif (IAIMNU) Metro Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25217/jcd.v4i1.3970

Abstract

This study aims to find out how much the learning independence of students increases after the application of the Two Stay Two Stray method in the learning process. The type of research is Classroom Action research. Data collection methods through in-depth observation (observation) and documentation. The research was conducted in two cycles. The results showed an increase in student learning activities, namely in the aspect of student enthusiasm increased by 49%, seriousness in paying attention to the teacher's explanation increased by 40%. The cohesiveness of discussing in groups increased by 39%, and responding to questions increased by 52%. While in the aspect of learning independence shows an increase in the indicator of critical attitude in learning there is a significant increase of 53%. Creative learning indicators increased by 42%. Indicators of having innovation in learning increased by 84%, Indicators Not affected by other groups / not cheating increased by 34%. The indicator of not asking for help from other groups in solving problems increased by 42%. And the critical thinking indicator increased significantly by 42%. So it can be concluded that this method is able to increase student learning independence
Islamic Religious Education Learning in the Era of Artificial Intelligence: Ethical and Pedagogical Challenges Mohamad Din Hadi; Toto Dwi Pambudi; Muhammad; Nopi Sari
Attractive : Innovative Education Journal Vol. 8 No. 1 (2026): Attractive : Innovative Education Journal
Publisher : CV. Creative Tugu Pena

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51278/aj.v8i1.2335

Abstract

The rapid advancement of artificial intelligence (AI) has significantly transformed educational practices, including Islamic Religious Education (IRE). While AI offers substantial potential to enhance learning effectiveness through personalization, adaptive instruction, and data-driven assessment, its integration into IRE raises critical ethical and pedagogical concerns. This study aims to examine the implications of AI for Islamic Religious Education, with particular attention to the challenges of maintaining ethical values and pedagogical integrity in technology-mediated learning environments. Using a qualitative literature review approach, this study analyzes relevant theoretical and empirical studies on AI in education, Islamic pedagogy, and Islamic ethics. The findings indicate that although AI can support instructional efficiency and learner engagement, it is limited in addressing the affective and spiritual dimensions central to IRE. Ethical issues such as data privacy, algorithmic bias, and the authority of religious knowledge, along with pedagogical challenges related to moral formation and teacher–student interaction, remain significant. The study concludes that a human-centered and ethically grounded integration of AI is essential to ensure that technological innovation aligns with the moral and spiritual objectives of Islamic Religious Education.