Zahrina Zatadini
Institut Seni Indonesia Yogyakarta, Indonesia

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Perancangan Interior Perpustakaan Daerah Jawa Tengah Semarang Zahrina Zatadini
Saraswati Jurnal Mahasiswa Desain Interior
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/srs.v0i0.1079

Abstract

Perpustakaan Daerah Jawa Tengah merupakan Perpustakaan yang dikelola oleh pemerintah .Perpustakaan Daerah Jawa Tengah pada awalnya merupakan Perpustakaan Negara Semarang yang didirikan pada tanggal 1 Agustus 1951 yang sampai sekarang dikenal dengan Perpusda. Sebagai perpustakaan yang mengelola arsip penting di daerah jawa tengah, perpustakaan ini menjadi pilihan utama bagi masyarakat untuk mengumpulkan dan menambah wawasan. Pengunjung yang datang pun berasal dari berbagai usia dan latar belakang pendidikan yang berbeda. Mereka memiliki kepentingan yang berbeda saat mengunjungi perpustakaan. Seperti kepentingan untuk pendidikan, pelestarian, penelitian, informasi dan rekreasi. Perpustakaan ini diharapkan bisa menjadi pusat pencarian informasi dan pendidikan yang mampu mengikuti perkembangan jaman dan menjadi agen perubahan dan agen kebudayaan dari masa lalu dan masa yang akan datang. Pengunjung merasa nyaman dan ter adiksi untuk terus mencari informasi dan menggali pengetahuan di perpustakaan, sehingga akan menaikkan citra perpustakaan di mata masyarakat. Harapan ini diwujudkan dengan re-design dalam konsep “Timeless Flare, The Knowledge Spirit”. Konsep tersebut diambil dari tema lampu teplok yang memiliki filosofi mengenai sebuah perjuangan dan pencerahan. Pada perancangan ini menggunakan pendekatan tema combined metaphor. Dari pendekatan tema ini diharapkan tema lampu teplok tidak hanya dapat dilihat dan dirasakan oleh pengunjung perpustakaan melalui pola dan bentuk tetapi juga melalui suasana interiornya. Kata kunci : Perancangan, Perpustakaan, Semarang
PENATAAN ARTISTIK FILM TARI ‘WATESMANTRA’ BERBASIS PUISI Zahrina Zatadini; Pandan Pareanom Purwacandra
EKSPRESI: Indonesian Art Journal Vol 12, No 1 (2023)
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/ekp.v12i1.10207

Abstract

AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk merancang penataan artistik film tari yang berbasis puisi berjudul “Watesmantra”. Puisi “Watesmantra” mengisahkan seorang anak yang turun ke dunia dan mencari pemaknaan dari semua ilmu pengetahuan serta pengalaman hidup yang ingin dan sudah ia dapatkan. Film Tari dikemas dengan pendekatan tradisi kontemporer. Perancangan dilakukan dengan menginterpretasi puisi dan mewujudkan visualnya dengan prinsip-prinsip desain elementer sesuai dengan tema dan konsep yang telah ditentukan. Metode yang dilakukan adalah dengan penelitian artistik, yaitu dengan melibatkan penciptaan suatu karya seni sebagai bentuk pengumpulan data atau informasi. Penelitian dilakukan dengan tahap pengamatan, analisis data, penciptaan karya seni, evaluasi dan interpretasi karya seni. Penulisan berupa deskripsi analitis dengan teori prinsip desain elementer. Analisis data bermula dengan menguraikan puisi per bait, interpretasi, dan memvisualisasikan dalam bentuk unsur rupa sebagai penanda dari makna yang akan disampaikan. Hasil dari penelitian ini adalah berupa rancangan penataan artistik dengan uraian rinci puisi yang terwujud dalam proses praproduksi.Kata kunci: Tata Artistik, Film Tari, Desain Elementer. AbstractThis study aims to design the artistik arrangement of a poetry-based dance film entitled “Watesmantra”. “Watesmantra”'s poem tells of a human who comes to earth and seeks meaning from all the knowledge and life experiences that he wants and got. This dance film wrapped in a contemporary tradition approach. The design is done by interpreting the poetry and realizing the visuals with elementary design principles in accordance with predetermined themes and concepts. The method used is artistik research, involving the creation of a work of art as a form of data or information collection. The research was carried out with the stages of observation, data analysis, creation of works of art, evaluation and interpretation of works of art. Writing in the form of an analytical description with the theory of design principles. Data analysis begins with a breakdown of the poem per stanza, interpretation is carried out and visualization in the form of visual elements as markers of the meaning to be conveyed. The result of this research is in the form of an artistik arrangement design with a poetry breakdown which is materialized in the pre-production process.Keywords: Art Development, Dance Film, Design Principles.
AI as a Creative Tool in Documentary Directing “Yogyakarta Hari Ini” Developing a Prototype in the Digital Landscape Era Diyah Verakandhi; Zahrina Zatadini; Gregorius Arya Dhipayana
Jurnal Lingua Idea Vol 17 No 1 (2026): June 2026
Publisher : Faculty of Humanities, Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.jli.2026.17.1.19375

Abstract

This research adopts a Practice-Led Research method by involving twenty-eight students to record fragments of urban reality in Yogyakarta from their respective perspectives. The heterogeneous collection of videos is briefly described to map the diversity of visual representations, and subsequently examined through a documentary film entitled “Yogyakarta Hari Ini.” Specifically, this study examines how ChatGPT was employed as a narrative structuring tool: textual descriptions of the 28 footage clips were submitted to the model in randomized order, and the AI-generated sequence recommendations were subsequently evaluated and refined by the director during the editing phase. The findings demonstrate that AI effectively accelerated the categorization and narrative structuring of heterogeneous footage, while also revealing clear limitations in aesthetic judgment, atmospheric continuity, and socio-cultural sensitivity or areas that required consistent human intervention and correction. The study confirms that AI can serve as a creative tool in transforming raw visual data into a coherent narrative, functioning as a “dramaturgical assistant” during the directing phase. However, the director’s aesthetic judgment remained indispensable: approximately one-third of the AI-generated sequence recommendations required revision due to mechanical transitions and disregard for atmospheric continuity. This human-machine collaborative model contributes to the discourse on Indonesian film aesthetics in the digital landscape, offering a replicable prototype for documentary practice confronting heterogeneous visual archives.