Yedija Remalya Sidjabat 1111652013, Yedija Remalya Sidjabat
Institut Seni Indonesia Bali

Published : 7 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 7 Documents
Search

Analisis Musikologis Penyajian Gondang Mula-Mula Pada Upacara Pernikahan Adat Batak Toba Di Yogyakarta Yedija Remalya Sidjabat 1111652013
Saraswati Jurnal Mahasiswa Seni Musik
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/srs.v0i0.1015

Abstract

Gondang Mula-Mula adalah sebuah repertoar yang disajikan pada upacara adat Batak Toba, salah satunya adalah upacara pernikahan. Gondang Mula-Mula memiliki peranan yang penting di setiap upacara adat. Kemajuan jaman dan masuknya budaya baru pada masyarakat Batak Toba menimbulkan pergeseran makna sosial dan perubahan dalam bentuk musik. Penyajian Gondang Mula-Mula jaman dahulu berfungsi sebagai perantara manusia dengan Tuhan. Pada masa kini penyajian Gondang Mula-Mula berfungsi sebagai pendahuluan di upacara adat. Penyajian Gondang Mula-Mula tradisional diiringi oleh ansambel gondang sabangunan. Pengaruh perubahan sosial pada masyarakat Batak Toba menyebabkan ansambel gondang sabangunan sudah jarang dipakai di upacara pernikahan, khususnya di Yogyakarta. Penyajian Gondang Mula-Mula pada upacara pernikahan di Yogyakarta diiringi oleh instrumen modern dan beberapa instrumen dari gondang sabangunan. Penyajian Gondang Mula-Mula yang diiringi oleh ansambel gondang sabangunan yang lengkap sudah sangat jarang ditemukan. Kehadiran instrumen modern pada penyajian Gondang Mula-Mula masa kini menyebabkan perubahan bentuk musik. Bentuk musik Gondang Mula-Mula pada masa kini telah menyesuaikan dengan instrumen pengiring yang dipakai. Masyarakat Batak Toba khususnya di Yogyakarta sebagian besar lebih tertarik pada penyajian Gondang Mula-Mula modern dibandingkan dengan versi tradisional yang merupakan wujud kebudayaan Batak Toba. Kata kunci : gondang Mula-Mula, perubahan, pernikahan
SIMBOLISME ALAM DALAM KARYA MUSIK DIALITA SEBAGAI EKSPRESI MEMORI KOLEKTIF PASCATRAGEDI 1965 Sidjabat, Yedija Remalya
Prosiding Bali Dwipantara Waskita: Seminar Nasional Republik Seni Nusantara Vol. 4 (2024): Prosiding Bali Dwipantara Waskita: Seminar Nasional Republik Seni Nusantara
Publisher : UPT Pusat Penerbitan LP2MPP ISI Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini menganalisis peran simbolisme alam dalam karya musik paduan suara Dialita. Dialita adalah kelompok perempuan mantan tahanan politik peristiwa 1965 yang memanfaatkan alam sebagai medium untuk mengekspresikan memori kolektif dan menyuarakan pengalaman trauma. Penelitian ini berfokus pada lagu berjudul Taman Bunga Plantungan yang mengeksplorasi elemen-elemen alam, seperti taman dan bunga yang digambarkan sebagai saksi bisu dari penderitaan serta pengingat atas memori yang dibungkam oleh negara. Berdasarkan teori memori kolektif yang dipaparkan oleh Maurice Halbwachs, alam dipahami sebagai idiom kultural yang memungkinkan para penyintas membentuk ruang sakral untuk merefleksikan dan menghubungkan pengalaman kolektif dengan audiens. Penelitian ini dilakukan melalui analisis lirik dan observasi video pertunjukan di platform online. Pengamatan yang dilakukan memperlihatkan bahwa simbolisme alam menciptakan kesadaran kolektif dan ruang rekonsiliasi yang dapat menghubungkan generasi terdahulu dan kini dalam memahami sejarah yang terlupakan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa alam tidak hanya menjadi latar estetis, tetapi juga ruang kesakralan yang memperkuat proses pemulihan sosial dan memori kolektif dalam konteks pascakonflik.
Analisis Konsep Seni dan Kreativitas dalam Konser Hologram “Glenn Fredly: 25 Years of Music” Prasetyo, Guntur Eko; Sidjabat, Yedija Remalya; Wiyati, Wahyu Sri
Journal of Music Science, Technology, and Industry Vol. 7 No. 2 (2024)
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan: penelitian ini berfokus pada eksplorasi konsep seni dan kreativitas dalam konser hologram “Glenn Fredly: 25 Years of Music.” Tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk memahami bagaimana seni dan kreativitas diwujudkan dalam konteks konser hologram, khususnya dalam mengenang mendiang musisi Glenn Fredly. Metode penelitian: Metode penelitian kualitatif digunakan dengan menggunakan pendekatan studi kasus deskriptif. Tahapan penelitian meliputi identifikasi penelitian terdahulu, pengembangan kerangka konseptual, observasi dan wawancara dengan pemangku kepentingan, serta analisis konten online. Variabel yang diukur dalam penelitian ini meliputi ekspresi artistik, respon penonton, dan unsur kreatif dalam konser hologram. Hasil dan pembahasan: Penelitian ini dilatarbelakangi oleh adanya tren inovasi dalam industri musik, memperkenalkan pertunjukan hologram sebagai sarana penghormatan dan rekonsiliasi terhadap artis yang telah meninggal. Penelitian ini menghadapi tantangan dalam memahami perpaduan seni dan teknologi dalam konteks pertunjukan hologram. Keunikan penelitian ini terletak pada fokusnya pada konser “Glenn Fredly: 25 Years of Music” yang memadukan unsur seni musik dan teknologi hologram. Implikasi: kontribusi penelitian ini adalah untuk meningkatkan pemahaman tentang interaksi antara seni dan teknologi dalam konteks konser hologram, serta berkontribusi terhadap perkembangan industri musik yang sedang berlangsung.
POLITIK IDENTITAS DALAM PERSPEKTIF POSKOLONIAL STUDI KASUS HIP HOP DANGDUT GRUP NDX A.K.A Sidjabat, Yedija Remalya; Yulianto, Vissia Ita; Koapaha, Royke Bobby
CaLLs (Journal of Culture, Arts, Literature, and Linguistics) Vol 4, No 2 (2018): December 2018
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (216.238 KB) | DOI: 10.30872/calls.v4i2.1693

Abstract

Hip hop dangdut is music identity of NDX A.K.A group. Hip hop dangdut that became popular in society also bring the pros and cons for some groups. Political identity in this research investigates background in choosing music dangdut and hip hop that integrated in NDX’s songs. Political identity used to see the factor that played a role in  formation of hip hop dangdut, but not fully realized by NDX group. Political identity in  formation of hip hop dangdut then analyzed in textual and contextual to answer the contestation of hip hop dangdut in postcolonial perspective. The concept postcolonial in this research is criticized dominance or the form of leadership culture (hegemony) conducted by capitalists. Hip hop dangdut formed because of the hegemony of media in popularizing hip hop that occurs massively. Contestation on hip hop dangdut identity is analyzed using the concept of mimicry and hybridity to see ‘in-between’ space or third space that can be described the position of hip hop dangdut. Negotiations between hip hop and dangdut is a form of hybridity that takes place in ambivalence, which is mimicking and mocking, and not entirely subordinated to the cultural discrimination that occurs to the strategy of globalization. The performance and NDX music that performed on stage shows the cultural identity negotiations between hip hop and dangdut that formed in the third space.
Songs of Resistance: Subaltern Voices and Digital Solidarity from Pramoedya Ananta Toer to Band Sukatani Remalya Sidjabat, Yedija
Proceeding Bali-Bhuwana Waskita: Global Art Creativity Conference Vol. 5 (2025): Proceedings Bali-Bhuwana Waskita: Global Art Creativity Conference
Publisher : UPT Pusat Penerbitan LP2MPP ISI Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31091/bbwp.v5i1.626

Abstract

This paper explores subaltern representation and digital solidarity, connecting literary resistance in Pramoedya Ananta Toer’s works with contemporary digital expressions, exemplified by Band Sukatani’s protest song. It addresses how Pramoedya’s narratives of subaltern struggles resonate in modern digital contexts. Utilizing textual analysis of selected Pramoedya novels, content analysis of Sukatani’s lyrics, and online discourse analysis, this study applies theories from subaltern studies, nationalism and identity, and digital affect to examine persistent issues of censorship, institutional oppression, and mobilization of digital solidarity. Findings demonstrate continuity in forms of resistance from literary to musical and digital platforms, highlighting the enduring relevance of Pramoedya’s works and contemporary activism through digital media. The study concludes that subaltern resistance remains dynamic and robust, reinforced by digital cultural expressions that sustain and amplify the legacy of Pramoedya Ananta Toer.
THE TRANSFORMATION OF BALINESE GAMELAN: AUTHENTICITY AND HERITAGE POLITICS IN DIGITAL PLATFORMS Sidjabat, Yedija Remalya; Krishnanandayani, Jyothi Devi
Proceeding Bali-Bhuwana Waskita: Global Art Creativity Conference Vol. 4 (2024): Proceedings Bali-Bhuwana Waskita: Global Art Creativity Conference
Publisher : UPT Pusat Penerbitan LP2MPP ISI Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31091/bbwp.v4i1.610

Abstract

The digital era has significantly transformed traditional arts, particularly in how cultural authenticity and heritage politics are negotiated. The Gamelan Bali application represents an important case study of this transformation, showcasing Balinese gamelan on a digital platform designed for global accessibility. This research aims to explore how the Gamelan Bali application navigates cultural authenticity and negotiates heritage politics in the context of digital platforms. This study employs content analysis of the Gamelan Bali application and user reviews available on public platforms. Patterns of cultural authenticity and usability perceptions were identified. The application simplifies certain cultural elements to suit digital usability while expanding the global reach of Balinese gamelan, reflecting a negotiation between traditional preservation and digital innovation. The Gamelan Bali application demonstrates how digital platforms mediate between cultural preservation and transformation, emphasizing the dynamic interplay of tradition and technology in a globalized context.
Penguatan Deep Learning melalui Pendidikan Musik bagi Siswa Tunagrahita di SLB Negeri 3 Denpasar I Komang Darmayuda; Yedija Remalya Sidjabat
Journal of Music Science, Technology, and Industry Vol. 9 No. 1 (2026)
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Purpose: This study examines how educational management can be transformed to strengthen deep learning practices in inclusive school environments, particularly in the context of special education for students with intellectual disabilities. Using a qualitative descriptive research design, the study draws on observational, interview-based, and documentary evidence gathered from music-interactive learning sessions at SLB Negeri 3 Denpasar. The research aims to identify how structured, multisensory music activities can stimulate deep learning processes and how school-level management practices adapt to support such innovations. Method: Using a qualitative descriptive research design, the study draws on observational, interview-based, and documentary evidence gathered from music-interactive learning sessions at SLB Negeri 3 Denpasar. Result and Discussion: Results show that interactive music learning promotes sustained attention, emotional engagement, collaborative behavior, and intuitive pattern recognition among students with intellectual disabilities—indicating early markers of deep learning. Teachers also experienced a pedagogical shift, moving from passive supervision to active facilitation, demonstrating increased confidence and adaptive classroom management skills. Additionally, the school management exhibited incremental but meaningful transformations, including allocating consistent instructional time, reorganizing activity schedules, and providing more flexible learning spaces. Implication: These findings highlight that deep learning in inclusive settings does not depend solely on advanced technologies of Society 5.0 but can emerge through human-centered, experience-based pedagogical approaches such as music interaction. The study concludes that strengthening educational management through inclusive, creative, and multisensory learning environments can significantly enhance deep learning outcomes for students with intellectual disabilities. It also recommends broader institutional support for teacher capacity-building and the integration of arts-based strategies into inclusive education frameworks.