Mohammad Syawaluddin
Unknown Affiliation

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Pemikiran Islam Liberal di Indonesia (Dinamika Perkembangan Tahun 1980-2010) Sintia Aprianty; Mohammad Syawaluddin; Otoman Otoman
Tanjak: Sejarah dan Peradaban Islam Vol 2 No 3 (2022): Tanjak : Jurnal Sejarah dan Peradaban Islam
Publisher : Program Studi Sejarah Peradaban Islam UIN Raden Fatah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19109/tanjak.v2i3.14029

Abstract

Artikel ini merupakan hasil penelitian yang dilakukan guna menjawab permasalahan terkait diskursus yang terjadi pada pemikiran Islam Liberal di Indonesia baik di awal munculnya, perkembangannya selama kurun waktu tahun 1980 hingga 2010. Penelitian ini menggunakan metode penelitan kualitatif dengan sumber yang berasal dari kepustakaan. Pendekatan yang digunakan oleh penulis yaitu historis dan sosiologis. Dari hasil penelitian ini diketahui bahwa perkembangan pemikiran Islam yang bersifat rasional telah muncul pada era Khulaffaurrasyidin, sebagai respon dari perbedaan pendapat umat muslim di akhir masa jabatan Khalifah Ali bin Abi Thalib yang mengakibatkan lahirnya aliran teologi dalam pemikiran Islam. Persentuhan kembali dunia Barat dan Timur melalui kolonialisme dan imperialisme mendorong lahirnya kembali pemikiran rasional dalam Islam. Lahirnya pemikiran Islam Liberal di Indonesia dilatarbelakangi oleh beberapa tokoh yang mengembangkan pemikiran ini sebagai hasil belajar mereka di dunia Barat. Dimana mereka memiliki latar belakang pendidikan yang sama, yaitu berasal dari dunia Barat. Selain itu tantangan modernisasi yang dihadapi umat muslim juga ikut mendorong perkembangan pemikiran ini. Pasca reformasi pemikiran Islam Liberal semakin dikenal, yaitu setelah berdirinya suatu organisasi yang menjadi wadah pergerakan dan pembaharuan dengan mengusung agenda dan aksi-aksinya kepada masyaraat di Indonesia
Sultan Abdurrahman Khalifatul Mu’minin Sayyidul Imam : Perannya terhadap Kesultanan Palembang Darussalam Ade Tunggal Bahial Halim; Mohammad Syawaluddin; Padila
Tanjak: Sejarah dan Peradaban Islam Vol. 4 No. 2 (2024): Tanjak: Jurnal Sejarah dan Peradaban Islam
Publisher : Program Studi Sejarah Peradaban Islamm UIN Raden Fatah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19109/tanjak.v4i2.23920

Abstract

This research discusses the role of Kimas Hindi or Sultan Abdurrahman Khalifatul Mu’minin Sayyidul Imam in establishing the Palembang Sultanate which began because of the feud between the Palembang Kingdom and the Mataram Sultanate, which made Kimas Hindi as the ruler of the Palembang Kingdom desperate to break free from Mataram’s power, then deliberately made Palembang a sultanate so that its position became equal to Mataram. The framework of this subject matter, among others: (1) How is the socio-cultural description of the Palembang Sultanate? (2) How is the role of Sultan Abdurahman Khalifatul Mu’minim Sayyidul Imam in establishing the Palembang Sultanate and his role in government. This research uses qualitative data. While the data sources in this study come from primary data and secondary data. Then data collection uses interpretation or historical analysis, as well as historiography. From the results of the research, it can be seen that the socio-cultural life in the Palembang Sultanate is very From the results of the research, it can be seen that the socio-cultural life in the Palembang Sultanate was very concerned so as not to conflict with Islamic law. The culture that had existed before the Palembang Sultanate was improved so as not to conflict with the Sharia. The socio-cultural life that spread in various aspects of life in the Palembang Sultanate included clothing or clothing, arts, titles (status), customary law, language, and so on. While the formation of the Palembang Sultanate was the role of Sultan Abdurrahman Khalifatul Mu’minin Sayyidul Imam after breaking away from the power of the Mataram Sultanate and making the Palembang Kingdom an independent state by changing it to the Palembang Sultanate so that the position of Palembang and Mataram became equal. The role of Sultan Abdurrahman in his government included moving the center of government which was originally in Kuto Gawang then transferred to Beringin Janggut, re-establishing relations with the Dutch in trade matters, spreading Islam, and establishing relations with other kingdoms.
DECENTRALIZATION AND RELIGIOUS IDENTITY IN POST–NEW ORDER INDONESIA: A SOCIAL HISTORY OF ISLAMIC MODERATION AND LOCAL GOVERNANCE (1998–PRESENT) Mohammad Syawaluddin; M.Husni Candra; Muhammad Husni; Tjik Harusn
Tanjak: Sejarah dan Peradaban Islam Vol. 6 No. 2 (2026): Jurnal Tanjak: Jurnal Sejarah dan Peradaban Islam
Publisher : Program Studi Sejarah Peradaban Islamm UIN Raden Fatah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19109/tanjak.v6i2.35101

Abstract

From a social history perspective, decentralization influenced not only political institutions but also everyday social life. Local elites often used religious symbols and narratives to gain legitimacy and strengthen their political influence. In several regions, this process contributed to the emergence of faith-based local regulations. One example is the implementation of Islamic law in Aceh, where regional autonomy allowed religious norms to become integrated into governance and public life.However, decentralization also produced complex consequences. Although autonomy was intended to strengthen democracy and accommodate local diversity, it sometimes intensified identity-based politics. Religious discourse could be used strategically by political actors to gain support and authority. As a result, debates about religious identity often overshadowed broader social issues such as poverty, inequality, and corruption. This study shows that Islamic moderation in post–New Order Indonesia has developed through interactions between local communities, religious institutions, and political actors within decentralized governance structures.