Anak-anak di Panti Asuhan atau Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak berhak untuk hidup dengan layak seperti dalam sebuah keluarga. Komunikasi yang dilakukan pengasuh untuk menjalin ikatan kekeluargaan dengan anak asuh memerlukan adanya pola komunikasi dalam merawat dan mendidik anak asuh agar menjadi pribadi yang lebih baik. Dalam penelitian ini peneliti memilih LKSA Melati Aisyiyah Tembung, yang jarang terjadi konflik besar baik antar pengasuh maupun anak asuh. Berdasarkan latar belakang tersebut timbul pertanyaan bagaimana pola komunikasi, hambatan serta simbol-simbol yang terdapat proses komunikasi oleh pengasuh kepada anak asuh. Maka penelitian ini bertujuan untuk menjabarkan pola komunikasi, hambatanhambatan yang dialami pengasuh dan anak asuh serta simbol-simbol yang digunakan dalam berkomunikasi di LKSA Melati Aisyiyah Tembung. Jenis penelitian ini adalah kualitatif dengan pendekatan interaksi simbolik yang datanya didapatkan melalui proses observasi, wawancara dan dokumentasi secara langsung di lapangan. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori interaksi simbolik yang dipopulerkan oleh Mead dan Blumer. Hasil penelitian kali ini dapat disimpulkan bahwa pola komunikasi Interpersonal yang dilakukan pengasuh dengan anak asuh adalah pola linear dan pola sirkular. Hambatan masih dijumpai dalam proses komunikasi seperti perbedaan kharakter anak asuh, perbedaan usia yang cukup jauh membuat anak asuh segan dalam bercerita serta kurangnya pengasuh professional yang tinggal menetap di asrama panti asuhan dan banyak ditemukan simbol-simbol disekitar lingkungan LKSA Melati Aisyiyah menandakan bahwa selain kegiatan komunikasi secara verbal atau langsung dibutuhkan juga komunkasi secara nonverbal atau tidak langsung, dan diantaranya penggunaan simbol-simbol.