Claim Missing Document
Check
Articles

Found 11 Documents
Search

EFFECTIVENESS OF CLAY PLASTICINE PLAY THERAPY ON FINE MOTOR DEVELOPMENT IN CHILDREN erlina suci astuti
Indonesian Journal of Health Care Management Vol 3, No 1 (2022): Indonesian Journal Health Care Management
Publisher : STIKes Kepanjen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36053/ijohcm.v3i2.42

Abstract

Fine motor development in children aged 3-5 years is very fundamental for the next child's life. Periods like this are the first basic period in developing potential, attitudes, skills and creativity. The preliminary study conducted on June 6-24 2022 at Pelita Hati Malang PAUD aims to find out how much influence it has on the fine motor development of children by using the plasticine clay method. This research method is a quantitative experimental research with a quasi-experimental research method with a pre-test and post-test research design with control group design. The sampling technique uses a simple random sampling technique. Sampling consisted of 30 respondents divided into 2 groups, namely the treatment and control groups. Data analysis used the Wilcoxon test and the Man Whitney test. The statistical test results showed Asymp.Sig (2-tailed) of 0.035 <0.05. It can be concluded that the difference in results between the treatment group and the control group. Because there is a significant difference, it can be said that there is an influence in the use of clay plasticine playing methods on children's fine motor development. Some suggestions that can be recommended are the development of Human Resources (HR) through changes in planning in learning and selecting learning methods so that in delivery. All aim so that effectiveness can be realized in the development of children's fine motor skills.
Pengaruh Meremas Squishy Terhadap Tingkat Kecemasan Pada Pasien Pre Operasi Dengan General Anestesi Di Instalasi Bedah Rumah Sakit Wava Husada Karmelia Dwi Maharani; Rudi Hamarno; Imam Subekti; Erlina Suci Astuti
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 7 No. 2 (2025)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i1.382

Abstract

Kecemasan pra operasi merupakan masalah psikologis yang umum dialami pasien, khususnya pada tindakan dengan general anestesi, yang dapat berdampak negatif terhadap kondisi fisiologis pasien selama operasi. Salah satu intervensi nonfarmakologis yang sederhana untuk mengurangi kecemasan adalah teknik relaksasi meremas squishy yang memberikan efek menenangkan melalui stimulasi sensorik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh intervensi meremas squishy terhadap tingkat kecemasan pasien pre operasi dengan general anestesi di Instalasi Bedah RS Wava Husada. Penelitian menggunakan desain quasi-eksperimen dengan pendekatan Non-Equivalent Group Pre-test dan Post-test pada 36 responden yang mengalami kecemasan sedang hingga berat. Kelompok perlakuan diberikan intervensi meremas squishy selama 2–5 menit pada 30–60 menit sebelum operasi, sedangkan tingkat kecemasan diukur menggunakan kuesioner Amsterdam Preoperative Anxiety and Information Scale (APAIS). Hasil analisis Mann-Whitney menunjukkan adanya perbedaan signifikan antara skor kecemasan pre-test dan post-test dengan nilai p = 0,000 (<0,05). Hasil ini membuktikan bahwa teknik meremas squishy efektif dalam menurunkan kecemasan pra operasi. Intervensi ini dapat direkomendasikan sebagai alternatif sederhana dalam asuhan keperawatan untuk meningkatkan kenyamanan pasien sebelum tindakan pembedahan.
Hubungan Antara Lama Hari Hospitalisasi Anak Dengan Tingkat Kecemasan Orang Tua Di Ruang Topaz RS IHC Lavalette Malang Tahun 2025 Nur Aini Isma; Erlina Suci Astuti; Nurul Pujiastuti; Supono
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 7 No. 2 (2025)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i1.387

Abstract

Hospitalisasi pada anak tidak hanya memengaruhi kondisi fisik dan psikologis anak, tetapi juga berdampak pada kondisi emosional orang tua, salah satunya berupa kecemasan yang dapat dipengaruhi oleh lama rawat inap anak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara lama hospitalisasi anak usia 6–12 tahun dengan tingkat kecemasan orang tua di Ruang Rawat Inap Anak Topaz IHC RS Lavalette Malang. Desain penelitian menggunakan korelasional dengan pendekatan cross sectional, teknik pengambilan sampel non-probability sampling dengan metode purposive, dan jumlah sampel 30 responden sesuai perhitungan rumus Slovin. Variabel independen adalah lama hospitalisasi anak, sedangkan variabel dependen adalah tingkat kecemasan orang tua. Analisis data dilakukan secara univariat untuk menggambarkan karakteristik responden dan bivariat menggunakan uji Spearman Rank. Hasil penelitian menunjukkan nilai koefisien korelasi (r) sebesar 0,809 yang berarti hubungan sangat kuat dengan p value = 0,000 (p < 0,05), sehingga dapat disimpulkan ada hubungan signifikan antara lama hospitalisasi anak dengan tingkat kecemasan orang tua. Upaya yang dapat dilakukan untuk meminimalkan kecemasan adalah pemberian edukasi oleh tim medis, gizi, dan keperawatan terkait kondisi, perawatan, serta kebutuhan nutrisi anak selama dirawat.
Pengaruh Pemberian Hot Pack Terhadap PONV (Post Operative Nausea and Vomitus) Pada Pasien Post Operasi Dengan General Anestesi Di IHC Rumah Sakit Lavalette Malang Fadghom Febrian Dharma Rodansyah; Rudi Hamarno; Nurul Hidayah; Erlina Suci Astuti
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 7 No. 2 (2025)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i1.405

Abstract

Post Operative Nausea and Vomiting (PONV) merupakan salah satu efek samping yang sering muncul setelah tindakan pembedahan dengan anestesi umum dan dapat memperlambat proses pemulihan pasien. Salah satu pendekatan non-farmakologis yang berpotensi menurunkan PONV adalah pemberian hot pack, yang diharapkan mampu menstimulasi kembali gerak peristaltik usus yang menurun pasca operasi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh pemberian hot pack terhadap tingkat PONV pada pasien pasca operasi dengan anestesi umum di RS IHC Lavalette Kota Malang. Desain penelitian menggunakan quasi experimental dengan pendekatan pre-test post-test control group. Sebanyak 68 responden dipilih menggunakan rumus Slovin dan dibagi menjadi kelompok intervensi serta kontrol sesuai kriteria inklusi dan eksklusi. Intervensi dilakukan dengan pemberian hot pack pada area abdomen region 7–9 selama 15 menit pada suhu 40°C. Intensitas PONV diukur menggunakan Nausea Vomiting Scale (NVS) sebelum dan sesudah intervensi. Hasil uji Wilcoxon menunjukkan penurunan tingkat PONV yang signifikan pada kelompok intervensi, dari rata-rata 2,53 menjadi 1,59 (penurunan sebesar 0,94; p<0,05), sedangkan hasil uji Mann-Whitney menunjukkan tidak terdapat perbedaan signifikan antara kelompok intervensi dan kontrol setelah perlakuan (p=0,321). Hal ini mengindikasikan bahwa hot pack berpengaruh terhadap penurunan PONV dalam kelompok intervensi, namun belum menunjukkan perbedaan nyata dibandingkan kelompok kontrol. Intervensi hot pack dapat dipertimbangkan sebagai alternatif non-farmakologis untuk mendukung pemulihan pasien pasca operasi, meskipun penelitian lanjutan dengan kontrol variabel lebih ketat disarankan.
Hubungan Dukungan Personal Preference Dan Pencegahan Hiperglikemia Pada Individu Penderita Diabetes Mellitus Tipe 2 Di Puskesmas Dinoyo Refina Dwi Anjarwati; Erlina Suci Astuti; Sulastyawati
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 2 (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i2.1042

Abstract

Diabetes mellitus tipe 2 merupakan penyakit kronis yang ditandai dengan hiperglikemia akibat gangguan sekresi maupun resistensi insulin. Pencegahan hiperglikemia membutuhkan pengelolaan jangka panjang, tidak hanya melalui terapi farmakologis tetapi juga melalui dukungan Personal Preference yang sesuai dengan kondisi individu. Tujuan: Tujuan penelitian ini yaitu mengidentifikasi dukungan Personal Preference, pencegahan hiperglikemia, dukungan Personal Preference yang paling berperan, dan menganalisis hubungan antara dukungan Personal Preference dengan pencegahan hiperglikemia pada individu penderita Diabetes Mellitus Tipe 2 di Puskesmas Dinoyo. Metode: Penelitian ini menggunakan desain analitik korelasional dengan pendekatan cross-sectional. Sampel penelitian adalah pasien DM tipe 2 di Puskesmas Dinoyo yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling sebanyak 152 responden. Instrumen penelitian berupa kuesioner dukungan Personal Preference dan kuesioner pencegahan hiperglikemia. Analisis data dilakukan dengan uji Spearman Rank. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan bermakna antara dukungan Personal Preference dengan pencegahan hiperglikemia pada pasien DM tipe 2 di Puskesmas Dinoyo (p-value = 0,025). Bentuk dukungan yang paling dominan adalah dukungan emosional dan instrumental. Pasien dengan dukungan optimal lebih konsisten dalam menerapkan diet sehat, melakukan aktivitas fisik, serta mematuhi pengobatan. Kesimpulan: Dari hasil penelitian terdapat hubungan yang signifikan antara dukungan Personal Preference dengan pencegahan hiperglikemia pada pasien diabetes mellitus tipe 2 di Puskesmas Dinoyo. Semakin tinggi dukungan yang diberikan keluarga atau orang terdekat, semakin baik perilaku pencegahan hiperglikemia yang dilakukan pasien. Dengan demikian, diperlukan upaya peningkatan dukungan keluarga melalui edukasi kesehatan berbasis keluarga, pendampingan berkelanjutan, dan pembentukan kelompok dukungan pasien di tingkat puskesmas untuk memperkuat pengelolaan diabetes dan mencegah komplikasi.
Pengaruh Diit Ubi Ungu Terhadap Kadar Gula Darah 2 Jam Post Prandial Pada Pasien Diabetes Mellitus Tipe II Di Puskesmas Donomulyo Kabupaten Malang Anestha Dewi Rahmadianti; Nurul Hidayah; Erlina Suci Astuti
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 2 (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i2.1044

Abstract

Diabetes Mellitus Tipe II merupakan penyakit metabolik kronis yang ditandai oleh hiperglikemia akibat gangguan sekresi dan resistensi insulin. Pengelolaan kadar gula darah dapat dilakukan melalui terapi farmakologis dan nonfarmakologis. Salah satu intervensi nonfarmakologis yang berpotensi membantu menurunkan kadar gula darah adalah konsumsi ubi ungu (Ipomoea batatas L.), yang kaya serat dan antosianin. Kandungan tersebut mampu memperlambat absorpsi glukosa, meningkatkan sensitivitas insulin, dan mendukung pengendalian glikemik. Tujuan Penelitian: Mengetahui pengaruh diit ubi ungu terhadap kadar gula darah 2 jam post prandial pada pasien Diabetes Mellitus Tipe II di Puskesmas Donomulyo Kabupaten Malang tahun 2025. Metode Penelitian: Penelitian ini menggunakan desain quasi-experiment dengan pendekatan pre–post test with control group. Sebanyak 36 respondenberpartisipasi, yang dipilih berdasarkan kriteria inklusi. Kelompok intervensi diberikan diit ubi ungu sesuai takaran yang ditentukan, sedangkan kelompok kontrol tidak mendapatkan perlakuan. Kadar Gula Darah Puasa (GDP) dan Gula Darah 2 Jam Post Prandial (G2PP) diukur menggunakan glukometer digital. Analisis data menggunakan Independent t-test dengan tingkat signifikansi α =0,05. Hasil Penelitian: Rata-rata GDP pre-test kelompok intervensi sebesar 168,00 mg/dL dan kontrol 153,00 mg/dL. Setelah intervensi, rata-rata G2PP kelompok intervensi menurun menjadi 159,71 mg/dL, sedangkan kelompok kontrol meningkat menjadi 232,00 mg/dL. Hasil uji statistik menunjukkan tidak terdapat perbedaan signifikan pada GDP (p = 0,139), namun terdapat perbedaan sangat signifikan pada G2PP (p = 0,000). Kesimpulan: Diit ubi ungu terbukti berpengaruh signifikan dalam menurunkan kadar gula darah sewaktu, terutama pada parameter G2PP. Intervensi ini sebagai strategi nonfarmakologis dalam pengendalian gula darah pasien DM Tipe II.
Hubungan Perilaku Self Management Dengan Kadar Gula Darah Pada Pasien Diabetes Mellitus Tipe 2 Di Wilayah Kerja Puskesmas Cisadea Kota Malang Kharisma Rindi Fitriani; Erlina Suci Astuti; Supono Supono; Naya Ernawati
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 2 (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i2.1045

Abstract

Pengendalian kadar gula darah pada pasien Diabetes Mellitus Tipe 2 masih menjadi tantangan di Puskesmas Cisadea. Studi pendahuluan menunjukkan banyak pasien datang dengan gula darah tinggi akibat pola makan yang tidak teratur, rendahnya frekuensi kontrol kesehatan, ketidakpatuhan konsumsi obat, serta kurangnya pemantauan gula darah mandiri. Aktivitas fisikyang minim juga memperburuk kondisi pasien. Permasalahan-permasalahan ini mengindikasikan bahwa perilaku self management pasien belum optimal sehingga berdampak pada tidak terkendalinya kadar gula darah. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara perilaku self management dengan kadar gula darah pada pasien Diabetes Mellitus Tipe 2 di wilayah kerja Puskesmas Cisadea Kota Malang. Metode: Penelitian menggunakan desain analitik korelasional dengan pendekatan cross sectional. Sampel penelitian sebanyak 115 responden dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Instrumen penelitianberupa kuesioner DSMQ serta pemeriksaan gula darah sewaktu menggunakan glukometer digital. Analisis data dilakukan dengan uji Chi-Square pada tingkat signifikansi α = 0,05. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas responden memiliki perilaku self management baik (81,7%), dan 65,2% di antaranya memiliki kadar gula darah terkontrol. Uji Chi-Square menghasilkan nilai p = 0,002 yang menunjukkan hubungan signifikan antara perilaku self management dan kadar gula darah. Kesimpulan: Terdapat hubungan yang signifikan antara perilaku self management dengan kadar gula darah pada pasien Diabetes Mellitus Tipe 2. Pasien dengan perilaku self management yang baik cenderung memiliki kadar gula darah yang lebih terkontrol. Peningkatan edukasi dan pendampingan pasien perlu dilakukan untuk memperkuat perilaku self management sebagai bagian dari pengendalian penyakit diabetes secara berkelanjutan.
Analisis Faktor yang Berhubungan dengan Kesulitan Makan pada Anak Usia Prasekolah di PAUD Kasih Bunda Kota Malang Yusnia Alfiah Zumroh; Naya Ernawati; Fitriana Kurniasari Solikhah; Erlina Suci Astuti
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 2 (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i2.764

Abstract

Latar Belakang: Kesulitan makan pada anak usia prasekolah merupakan masalah yang dapat berdampak pada pertumbuhan, perkembangan, serta status gizi anak. Penyebab kesulitan makan meliputi faktor anak (usia, jenis kelamin, riwayat kesehatan, sensitivitas sensorik, temperamen) maupun faktor orang tua (pendidikan ibu, keterlibatan orang tua, lingkungan makan). Tujuan Penelitian: Menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan kesulitan makan pada anak usia prasekolah di PAUD Kasih Bunda Kota Malang. Metode: Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain cross-sectional. Populasi sebanyak 65 orang ibu yang memiliki anak usia prasekolah (3–6 tahun). Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling sebanyak 39 responden. Teknik pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner. Analisis data menggunakan uji Chi- square. Hasil Penelitian: Terdapat hubungan signifikan antara riwayat kesehatan anak (P-Value = 0,012), sensitivitas sensorik (P-Value = 0,010), dan pendidikan ibu (P-Value = 0,018) dengan kesulitan makan pada anak usia prasekolah. Sedangkan faktor usia anak, jenis kelamin, temperamen anak, keterlibatan orang tua, dan lingkungan makan tidak berhubungan signifikan (P-Value > 0,05). Hasil analisis multivariat dengan regresi logistik ganda menunjukkan sensitivitas sensorik merupakan faktor dominan yang memengaruhi kesulitan makan pada anak usia prasekolah (P-Value = 0,030). Anak dengan gangguan pemrosesan sensorik memiliki peluang tiga kali lebih tinggi untuk mengalami kesulitan makan dibandingkan anak dengan fungsi sensorik normal (Exp (B) = 3,030; 95% CI: 1,110–8,260). Kesimpulan: Ada hubungan faktor riwayat kesehatan, sensitivitas sensorik, dan pendidikan ibu dengan kesulitan makan. Sensitivitas sensorik menjadi faktor dominan yang memengaruhi kesulitan makan pada anak usia prasekolah di PAUD Kasih Bunda Kota Malang.
Jenjang Karir, Interaksi Antar Kolega Dan Stres Kerja Perawat Viona Adelia Rosa; Kissa Bahari; Erlina Suci Astuti
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 2 (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i2.1251

Abstract

Latar Belakang: Stres kerja merupakan masalah utama yang dialami perawat akibat tuntutan tugas, beban kerja yang berat, dan tekanan lingkungan rumah sakit. Kondisi ini berdampak pada kesejahteraan psikologis perawat, mengurangi kualitas layanan, dan berpotensi membahayakan keselamatan pasien. Tujuan: Menganalisis hubungan antara tingkat karir, interaksi antar kolega, dan tingkat stres kerja terhadap kinerja perawat. Metode: Desain korelasional kuantitatif, studi potong lintang, melibatkan 168 perawat yang dipilih menggunakan teknik pengambilan sampel bertujuan. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner terstruktur dan dianalisis menggunakan uji korelasi Spearman. Hasil: Hampir setengah dari responden berada dalam kategori perawat klinis III (42,9%), sebagian besar responden memiliki tingkat interaksi antar kolega yang tinggi (62,5%), dan sebagian besar responden berada dalam kategori stres kerja sedang (53,6%). Uji korelasi peringkat Spearman menunjukkan hubungan yang signifikan dan negatif antara tingkat karier dan stres kerja (p < 0,001; r = -0,686), serta antara interaksi antar kolega dan stres kerja (p < 0,001; r = -0,525). Kesimpulan: Temuan ini menegaskan bahwa semakin tinggi tingkat karir dan semakin baik kualitas interaksi antar kolega, semakin rendah stres kerja yang dialami perawat. Oleh karena itu, manajemen rumah sakit perlu memperhatikan pengembangan tingkat karier dan membangun budaya kerja kolaboratif untuk menjaga kualitas layanan perlindungan dan meningkatkan keselamatan pasien.
PENGEMBANGAN MODEL EDUKASI BERBASIS KELUARGA UNTUK PENCEGAHAN PENULARAN HIV DARI IBU KE ANAK Erlina Suci Astuti; Fitriana Kurniasari Solikhah; Kasiati Kasiati; Fitra Rismatul; Anisya Aprilia; Nadila Mahardini
Jurnal Informasi Kesehatan Indonesia (JIKI) Vol. 10 No. 3 (Suplemen) (2024): Jurnal Informasi Kesehatan Indonesia
Publisher : Politeknik Kesehatan Kemenkes Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31290/jiki.v10i3 (Suplemen).6487

Abstract

Background: Mother-to-child transmission (MTCT) of HIV is a serious health issue with transmission risks ranging from 15-45% without effective intervention. In the Dau Community Health Center area, prevention is still hindered by low family knowledge and support, as well as strong HIV stigma. This study aims to develop a valid, feasible, and applicable family-based education model for MTCT prevention in high-risk groups. Subjects and Method: This study employed a Research and Development (R&D) design with a mixed-methods approach. The study was conducted in the working area of the Dau Community Health Center, Malang Regency. Research subjects included high-risk women of reproductive age (n=30), nuclear family members (n=30), and 5 health workers as informants. Sampling was performed using purposive sampling. Dependent variables included knowledge, attitudes, and family support, while the independent variable was the family-based education model. Data collection instruments consisted of validated questionnaires and interview guides. Quantitative data analysis utilized simulative statistical tests to observe changes before and after the intervention. Results: The developed education model achieved an average expert validity score of 89.7% (very valid). Limited trial results showed significant increases in family knowledge (58.4 to 84.6; p=0.001), attitude scores (3.02 to 4.18; p=0.002), and family support scores (2.94 to 4.11; p=0.001). The model obtained a practicality score of 88.0% (highly practical) based on assessments from users and health workers. Conclusion: The developed family-based education model is proven to be highly valid, practical, and effective in increasing family capacity for MTCT prevention. Implementing this model at the primary care level can strengthen social support for mothers in high-risk groups to support the 2030 HIV elimination target.