Pieter Anggiat Napitupulu
STT-STAPIN Majalengka

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Signifikansi Kemampuan Manajerial Gembala Jemaat dalam Upaya Mencapai Visi-Misi Gereja Pieter Anggiat Napitupulu; Christy Lumban Tobing
PNEUMATIKOS: Jurnal Teologi Kependetaan Vol. 13 No. 1 (2022): Juli 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Alkitab Penyebaran Injil Majalengka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56438/pneuma.v13i1.68

Abstract

Abstrak: Pertumbuhan Gereja seperti yang diharapkan oleh para Gembala tidak terlepas dari kemampuan manajerial seorang Gembala dalam mengupayakan pewujudan dari visi dan misi gereja tersebut. Kemampuan manajerial inilah yang harus dimiliki bahkan perlu diupgrade oleh seorang Gembala Jemaat. Terhadap pemahaman pentingnya kemampuan manajerial seorang Gembala dalam meujudkan visi dan misi gereja ternyata ada yang berpandangan negative, yang hanya mengutamakan sisi kemampuan kerohanian saja seperti mengandalkan doa dan sejenisnya. Kajian ini merupakan penelitian kualitatif literatur dengan metode deskripsi analisis interpretatif, yang bertujuan untuk mendapatkan pemahaman pentingnya kemampuan manajerial seorang Gembala Jemaat dalam mengupayakan pencapaian visi dan misi gereja sehingga akan mewujudkan pertumbuhan gereja. Hasil kajian: Seorang gembala penting untuk menetapkan dan menguasai visi, misi dan tujuan dari gereja yang digembalakannya, serta memiliki kemampuan manajerial dalam penggembalaannya. Dengan kemampuan manajerial seorang gembala akan dapat keluar dari pelayanan rutinitas sehingga gereja dapat bertumbuh dengan mencapai visi dan misi serta tujuan yang sudah ditetapkan.
Dampak Integritas Pemimpin Jemaat di Gereja Pedesaan terhadap Keharmonisan Jemaat Lokal Pieter Anggiat Napitupulu
PNEUMATIKOS: Jurnal Teologi Kependetaan Vol. 14 No. 1 (2023): Juli 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Alkitab Penyebaran Injil Majalengka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56438/pneuma.v14i1.84

Abstract

Abstract: a leader with integrity is able to create a harmony in the midst of differences in the church, especially in local congregations in rural areas. In making this article using a qualitative descriptive method, and through the results of research that the integrity of the leader is carried out by involving the Love of Christ in it, everything will be carried out well, even the congregation can accept it so that through the love of Christ in the church leader and accepted by the congregation, harmony desired will be created, through the love of Christ there is acceptance and mutual love for one another. Keywords: Integrity; leader; local congregation; harmony; the love of Christ. Abstrak: seorang pemimpin yang berintegritas sanggup menciptakan sebuah keharmonisan di tengah-tengah perbedaan didalam gereja terkhususnya pada jemaat lokal di pedesaan. Dalam pembuatan artikel ini menggunakan metode deskriptif kualitatif, dan melalui hasil penelitian bahwa integritas pemimpin di lakukan dengan melibatkan Kasih Kristus di dalamnya maka semua akan terlaksana dengan baik bahkan jemaat dapat menerima sehingga melalui kasih Kristus yang ada pada pemimpin gereja dan di terimah oleh jemaat maka keharmonisan yang diinginkan akan tercipta, melalui kasih Kristus ada penerimaan dan saling mengasihi satu dengan yang lain. Kata kunci: Integritas; pemimpin; jemaat lokal; keharmonisan; kasih Kristus.
Merespon Retorika Populisme: Analisis Naratif Pemberontakan Bilangan 16 dalam Perspektif Manajemen Konflik Pieter Anggiat Napitupulu
PNEUMATIKOS: Jurnal Teologi Kependetaan Vol. 17 No. 1: Juli 2026
Publisher : Sekolah Tinggi Alkitab Penyebaran Injil (STAPIN) Majalengka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56438/pneuma.v17i1.186

Abstract

This article analyzes Moses' leadership response to populist rhetoric in Numbers 16 and its relevance to conflict management in contemporary church leadership. Employing a qualitative method with a narrative analysis approach to Numbers 16, the study finds that Korah's rebellion was not merely a struggle for authority but also a rhetorical contest that employed narratives of equality and accusations of abuse of power to shape the community's perceptions. In response, Moses demonstrated a leadership pattern characterized by self-regulation and the use of fair procedures, the willingness to clarify accusations against his integrity, and prioritizing the well-being of the community amid a crisis of trust. These findings suggest that leadership legitimacy is grounded not in domination or popularity, but in faithful responsibility for the welfare of the community.