Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Wujud Karakter Masyarakat Aceh Utara dalam Sastra Lisan Aceh di Kabupaten Aceh Utara Safriandi Safriandi
EUNOIA (Jurnal Pendidikan Bahasa Indonesia) Vol 2, No 2 (2022): EUNOIA (Jurnal Pendidikan Bahasa Indonesia)
Publisher : Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30821/eunoia.v2i2.2036

Abstract

Penelitian ini mengkaji wujud karakter masyarakat Aceh Utara dalam sastra lisan Aceh di Kabupaten Aceh Utara. Penelitian ini dilakukan karena beberapa alasan berikut: (1) tidak semua sastra lisan Aceh dikenal oleh semua generasi Aceh sehingga dapat dikatakan bahwa sastra lisan Aceh di ambang kepunahan; (2) dalam sastra lisan terkandung karakter masyarakatnya. Tujuan penelitian ini mendeskripsikan wujud karakter masyarakat Aceh Utara dalam sastra lisan Aceh di Kabupaten Aceh Utara. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, sedangkan jenis penelitian ini berupa penelitian deskriptif. Lokasi penelitian ini di Kabupaten Aceh Utara. Karena luasnya Aceh Utara, penelitian dibatasi pada beberapa kecamatan, yaitu Kecamatan Dewantara, Matangkuli, Muara Batu, Nisam, Nisam Antara, Paya Bakong, Samudera, Tanah Jambo Aye, Baktya, Syamtalira Aron, Meurah Mulia, Tanah Pasir, Lhoksukon. Data penelitian ini adalah sastra lisan di Kabupaten Aceh Utara. Sumber data peneliti adalah masyarakat Kabupaten Aceh Utara di Kecamatan Dewantara, Matangkuli, Muara Batu, Nisam, Nisam Antara, Paya Bakong, Samudera, Tanah Jambo Aye, Baktya, Syamtalira Aron, Meurah Mulia, Tanah Pasir, Lhoksukon. Sumber data ditentukan dengan teknik sampling snowball. Data penelitian ini dikumpulkan dengan teknik observasi, wawancara, dan kuesioner. Hasil penelitian ini adalah wujud karakter masyarakat Aceh Utara dalam sastra lisan di Kabupaten Aceh Utara adalah religius, toleransi, kerja keras, kreatif, mandiri, semangat kebangsaan, cinta tanah air, bersahabat/komunikatif, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, dan tanggung jawab. Adapun saran yang dapat direkomendasikan untuk penelitian ini ialah perlu dilakukan penelitian lebih lanjut terkait kondisi sastra lisan Aceh di Kabupaten Aceh Utara. Selain itu, perlu juga dilakukan inventarisasi sastra lisan di Kabupaten Aceh Utara.
Exploring Devayan Language Maintenance among Parents in Simeulue Regency, Indonesia Yesi Oresah; Idaryani Idaryani; Safriandi Safriandi
Jurnal Ilmiah Kanderang Tingang Vol 17 No 01 (2026): Jurnal Ilmiah Kanderang Tingang
Publisher : FKIP Universitas Palangka Raya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37304/jikt.v17i01.441

Abstract

This study examines the parents’ efforts and their attitudesto maintain Devayan language withinnon-formaldomain. and factors that influence the preservation of the Devayan language among parentsin Simeulue Regency, Indonesian. Drawing on qualitative descriptive methods, data were collected through semi-structured interviews and observation, involving six Devayan-speaking parents. The findings demonstrated that Devayan remains actively maintained through consistent intergenerational transmission to their children, positive parental language attitudes, and dense local speech networks that extend beyond the household into neighborhoods, markets, and social gatherings. Parents play a central role by establishing Devayan as the dominant home language, modelling consistent speaking the Devayan with their children, and embedding language use within culturally meaningful activities. Parents are highly aware of the importance of passing on the Devayan language to their children as a cultural heritage that must be preserved. These practices position Devayan not merely as a communicative tool, but as a marker of identity for Devayan community. The study contributes to heritage language maintenance by highlighting the synergistic relationship between parents’ consistency and community-level validation in language use. The findings suggest that effective language maintenance emerges from everyday practices grounded in affective commitment of parents to their children, cultural transmission, and adaptive bilingualism. Kata Kunci Language maintenance, Devayan language, Parents