Firman Daud Lenjau Lung
Universitas Pelita Harapan

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

The Role of Social Media in Multi-Track Diplomacy: Jakarta Feminist Combating Violence Against Women in Indonesia [Peran Sosial Media dalam Diplomasi Multi-Jalur: Jakarta Feminist dalam Melawan Kekerasan terhadap Perempuan di Indonesia] Pincanny Georgiana Poluan; Firman Daud Lenjau Lung
Verity: Jurnal Ilmiah Hubungan Internasional (International Relations Journal) Vol 14, No 27 (2022): January - June
Publisher : Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19166/verity.v14i27.5911

Abstract

Violence Against Women (VAW), in its various forms, has become a global issue for many years; it is specifically considered a violation of human rights. With all the efforts of numerous institutions, like UN Women, VAW is still prevalent in many countries, including Indonesia. The obliviousness and never-ending occurrence of VAW in Indonesia seem to encourage some activists, both in and outside the country, to initiate movements with the help of digital media (specifically social media). One of the activist groups is Jakarta Feminist. A study shows that Jakarta Feminist is using social media to both disseminate activism information and mobilize actors. However, no study has discussed how that relates to their role as Track 6 in Multi-Track Diplomacy. This paper argues that, with its nature as a new media (emphasizes participatory culture), social media could support the implementation of MTD to abolish VAW issues in Indonesia, particularly looking at the growth of activism groups – Jakarta Feminist and/ or SEAFAM. Employing the desk research and observation methods, this paper aims to describe the role of social media in the implementation of MTD. This paper finds that social media plays a significant role as a supporting tool for Jakarta Feminist in performing their role as an activist group – Track 6. Moreover, through Instagram, Jakarta Feminist could generate power with and within their followers through educative content (Track 5) and dissemination of relevant information (Track 9). By doing so, they could hold a grassroots movement (Track 4) – Women's March, then influence the government’s decision as Track 1.Bahasa Indonesia Abstract: Kekerasan terhadap perempuan dalam berbagai bentuk telah menjadi isu global dalam beberapa tahun terakhir. Hal ini sudah dianggap secara spesifik sebagai pelanggaran terhadap hak asasi manusia. Dengan seluruh upaya dari berbagai institusi, seperti UN Women, kekerasan terhadap perempuan tetap menjadi masalah besar di berbagai negara, termasuk Indonesia. Elemen kejelasan dan peristiwa yang tidak pernah berhenti terjadi dalam kekerasan terhadap perempuan di Indonesia mulai memancing beragam aktivis, baik di dalam maupun di luar negeri, untuk memulai gerakan-gerakan dengan bantuan media digital (khususnya media sosial). Salah satu kelompok aktivis tersebut adalah Jakarta Feminist. Sebuah studi menunjukkan bahwa Jakarta Feminist menggunakan sosial media sebagai sarana diseminasi informasi aktivis dan mobilisasi aktor. Namun, belum ada studi yang membahas bagaimana hal tersebut berkaitan dengan peran aktivis sebagai bagian dari Jalur 6 dalam Diplomasi Multi-Jalur. Naskah ini berpendapat bahwa sosial media, dengan naturnya sebagai media baru (penekanan pada budaya partisipasi), dapat mendukung implementasi Diplomasi Multi-Jalur untuk memberantas isu kekerasan terhadap perempuan di Indonesia, terutama melihat pertumbuhan kelompok-kelompok aktivis seperti Jakarta Feminist dan/atau SEAFAM. Dengan menggunakan metode penelitian meja dan observasi, naskah ini bertujuan untuk menjelaskan peran sosial media dalam implementasi Diplomasi Multi-Jalur. Naskah ini menemukan bahwa media sosial memainkan peran yang signifikan sebagai alat pendukung bagi Jakarta Feminist untuk menjalankan peran mereka sebagai kelompok aktivis dan bagian dari Jalur 6. Selain itu, melalui Instagram, Jakarta Feminist dapat menghasilkan energi dan semangat di antara pengikut mereka melalui konten-konten edukasi (Jalur 5) dan diseminasi informasi yang relevan (Jalur 9). Dengan demikian, mereka dapat terus menjaga eksistensi pergerakan akar rumput (Jalur 4) dalam bentuk demonstrasi perempuan dan dapat memengaruhi keputusan pemerintah sebagai Jalur 1.
Human Development and Mental Health: A Comparative Case Study of Indonesia and Singapore [Pembangunan Manusia dan Kesehatan Mental: Studi Komparatif Indonesia dan Singapura] Firman Daud Lenjau Lung
Verity: Jurnal Ilmiah Hubungan Internasional (International Relations Journal) Vol 15, No 29 (2023): January - June
Publisher : Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19166/verity.v15i29.7404

Abstract

Mental health has been a subject of growing discussion for the past years. However, there is still an ongoing debate as to how it has been incorporated into the human development discussion, especially in the Southeast Asia region that mostly consisted of economically growing countries. This paper chooses Indonesia and Singapore to see the disparities and commonalities between the two countries in integrating mental health into their strategy and to what extent it has affected their human development. To answer the question, this paper utilises a combination of qualitative and quantitative data derived from the Human Development Index (HDI) from UNDP and other reports that constitutes the accessibility of mental health infrastructure to the general public. Despite the ongoing assumption that countries with higher HDI have better mental health coverage, the finding of this study illustrates how both in Indonesia and Singapore, access to mental health is heavily circumscribed. The growing awareness of people towards mental health problems is not being acquainted with proper response from stakeholders, namely the government; and sociocultural shift that eliminates stigmatisation surrounding the sufferers.Bahasa Indonesia Abstract: Kesehatan mental telah menjadi topik perbincangan yang hangat dalam beberapa tahun terakhir. Namun, masih terdapat beragam perdebatan mengenai bagaimana kesehatan mental dapat diintegrasikan dalam diskusi pembangunan manusia, khususnya di kawasan Asia Tenggara yang sebagian besar terdiri dari negara berkembang. Artikel ini memilih Indonesia dan Singapura untuk melihat perbedaan dan persamaan antara kedua negara dalam mengintegrasikan kesehatan mental terhadap strategi mereka dan sampai sejauh mana dapat memengaruhi pembangunan manusia mereka. Untuk menjawab pertanyaan penelitian, artikel ini menggunakan kombinasi data kualitatif dan kuantitatif yang berasal dari Human Development Index (HDI) dari UNDP dan laporan lainnya yang menjelaskan daya akses infrastruktur kesehatan mental bagi khalayak umum. Meskipun terdapat asumsi yang mengatakan bahwa negara dengan HDI yang lebih tinggi memiliki cakupan kesehatan mental yang lebih baik, temuan dari artikel ini menggambarkan bagaimana di Indonesia dan Singapura akses terhadap kesehatan mental sangat dibatasi. Kesadaran orang yang semakin tinggi terhadap masalah kesehatan mental tidak dibarengi dengan tanggapan yang tepat dari pemangku kepentingan, khususnya pemerintah, dan pergeseran sosial-budaya yang menghapus beragam stigma di sekitar para penderita.