Rizqyansyah Fitramadhana
Universitas Gadjah Mada

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Pemikiran Pedagogi Kritis Henry Giroux Rizqyansyah Fitramadhana
Jurnal Pemikiran Sosiologi Vol 9, No 1 (2022): September
Publisher : Departemen Sosiologi Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jps.v9i1.72188

Abstract

Berbeda dengan mayoritas penelitian pendidikan sebelumnya yang berfokus di ranah tematik, artikel ini berusaha mengetengahkan kajian pemikiran ke permukaan. Pemikiran pedagogi kritis Henry Giroux akan menjadi pusat perhatian dalam studi kali ini. Secara ringkas, artikel ini mempunyai tiga tujuan utama. Pertama, menjelaskan latar belakang perkembangan teoretis pedagogi kritis Henry Giroux. Kedua, memperlihatkan kritik Henry Giroux terhadap pendidikan a la neoliberal. Ketiga, menampilkan alternatif serta visi pendidikan yang dipikirkan oleh Henry Giroux. Agar dapat mencapai tujuan tersebut, artikel ini menggunakan pendekatan hermeneutik kritis untuk menyingkap intisari manuskrip-manuskrip kuncinya. Bersamaan dengan itu maka metode yang digunakan adalah studi pustaka. Karya tulis Henry Giroux yang sesuai dengan pembahasan akan dibaca, ditampilkan, dan dianalisis secara mendalam. Dengan menggunakan piranti metode tersebut, penelitian ini berpendapat bahwa (a) pemikiran pedagogi kritis Giroux sangat dipengaruhi oleh kritiknya terhadap teori korespondensi dan reproduksi, (b) penolakan kerasnya kepada cara pandang sempit neoliberal yang merasuk ke dunia pendidikan membuatnya menawarkan visi baru bernama pendidikan sebagai ruang publik politik, dan (c) Giroux memperlakukan sekolah sebagai tempat produksi agensi demokratis yang mampu menciptakan tatanan normatif demokrasi radikal dan keadilan sosial.
Genealogi Kewirausahaan Sosial Rizqyansyah Fitramadhana
Sosioglobal Vol 7, No 1 (2022): Sosioglobal: Jurnal Pemikiran dan Penelitian Sosiologi
Publisher : Department of Sociology, Faculty of Social and Political Science, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jsg.v7i1.35658

Abstract

Kewirausahaan sosial sedang menjadi perbincangan hangat di Indonesia. Pemerintah, lembaga non-profit, dan universitas terus mempromosikan kehebatan kewirausahaan sosial. Mereka mengklaim bahwa kewirausahaan sosial akan menghasilkan kemaslahatan. Sayangnya, meskipun banyak penelitian menunjukkan dampak baik kewirausahaan sosial, kajian historis dan kritis tentangnya jarang sekali dilakukan di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mengisi kekosongan itu dan menunjukkan konteks serta kepentingan kewirausahaan sosial. Untuk mencapai tujuan tersebut, metode genealogi digunakan sebagai ujung tanduk penelitian dengan fokus pada studi pustaka. Setelah melakukan pembacaan kritis terhadap historiografi kewirausahaan sosial studi ini menghasilkan empat kesimpulan. Pertama, palingan sosial terjadi di tahun 1980. Ini mengizinkan lahirnya kewirausahaan sosial. Neoliberalisme dan penekanannya kepada pemotongan peran negara merupakan konteks kemunculan kewirausahaan sosial. Secara sederhana, keputusan pemerintah untuk memangkas bantuan sosial serta permasalahan sosial yang mengikutinya adalah alasan utama timbulnya ide kewirausahaan sosial. Kedua, kewirausahaan sosial lahir dari rahim kewirausahaan tradisional. Keduanya sama-sama mendayagunakan subjek kewirausahaan. Ketiga, institusionalisasi kewirausahaan sosial dipengaruhi oleh kepentingan pasar bebas dan individualisasi neoliberal. Keempat, organisasi internasional berperan penting dalam penyebaran kewirausahaan sosial di seluruh dunia, khususnya negara berkembang. In Indonesia, social entrepreneurship has became the new buzzword. Government, non-profit organizations, and university continuisly promoting the positives side of social entrepreneurship. It has been claimed that social entrepreneurship always yields prosperity. Unfortunately, although a number of publications has shown decent effects of social entrepreneurship, there was and is small attention to critical and historical reading of it. This study attempts to fill that gap and discloses the context and interest of social entrepreneurship. Genealogy method which depends on literature study will be used to attain the goals of this research. After doing critical reading of social entrepreneurship genealogy, the study has four conclusions to offer. First, social turn had been happening in the 1980 allowing the emergence of social entrepreneurship. Neoliberalism with its emphasis on minimal state was the exact context of the advent of social entrepreneurship. To simplify, government decision to retreat social benefits and social problems ensuing from it were important factors in supporting social entrepreneurship ascendancy. Second, social entrepreneurship was born out of traditional entrepreneurship. Both of them galvanize entrepeneur subject. Third, the institutionalization of social entrepreneurship was heavily influenced by neoliberal spirit of free market and individualization. Four, international organizations have been crucial to social entrepeneurship expansion across developing contries.
Ekonomi-Politik Student Loan: Analisis Komparatif Kebijakan Kredit Pendidikan di Australia dan Malaysia Rizqyansyah Fitramadhana
SOCIUS Vol 12 No 2 (2025): Jurnal Socius: Journal of Sociology Research and Education, Universitas Negeri P
Publisher : Labor Jurusan Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24036/scs.v12i2.878

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan praktik kebijakan kredit pendidikan (student loan) di Australia dan Malaysia. Riset ini didasarkan atas dua rumusan pertanyaan pokok: (a) apakah ada perbedaan antara model ICL dan TBRL? (b) Bagaimana dua sistem student loan itu dijalankan di Australia (ICL) dan Malaysia (TBRL) serta seperti apa dampaknya? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif berupa analisis komparatif, khususnya komparasi kebijakan publik untuk menyingkap perbedaan konsep, teknis, dan implementasi dua sistem kebijakan pinjaman mahasiswa. Sumber data sepenuhnya menggunakan data sekunder dengan fokus utama pada artikel jurnal, buku, pemberitaan di media, dan laporan lembaga riset. Selain itu, peneliti ini mendayagunakan ekonomi-politik finansialisasi guna menganalisis secara kritis penerapan dan dampak dari kebijakan kredit pendidikan di Australia dan Malaysia. Temuan riset ini menunjukkan bahwa (a) terdapat perbedaan antara model ICL dan TBRL khususnya pada aspek waktu pengembalian dan batas minimum pendapatan peminjam dan (b) penerapan kredit pendidikan di Australia dan Malaysia menyebabkan finansialisasi pendidikan tinggi dan penyedotan finansial. Kebaruan penelitian ini terletak pada argumen baru yang belum dieksplorasi dalam penelitian terdahulu tentang kebijakan kredit pendidikan: munculnya kredit pendidikan merupakan bentuk finansialisasi pendidikan tinggi yang disebabkan oleh berkurangnya investasi publik negara pada sektor pendidikan (the retreat of the state).