Abstract: The movement of relations of the archipelago's scholars in the 18-19 centuries, especially in Sumatra and Java regions, has found its romance in the path of Sufism through a meeting of scholars who studied in Mecca. Among the Sufism figures who have traveled to the Middle East are Sheikh Abdus Shamad Palimbani and Sheikh Nawawi Banten. These two figures prove that the dynamics of Sufism became a discourse that was in great demand by Nusantara scholars in the 18-19 centuries and even today. The characteristics of the ideas of their Sufism have differences even though both of them study at Haromain. Sheikh Abdus Shamad understands Sufism as a middle way between Al Gazali and Ibn Arabi's Sufism ideas that have been processed and presented in a systematic form as a separate Sufism teaching. Abdus Shamad is clearly concerned with the characteristics of his ideas which tend to be dominated by mysticism, so he studied Sufism with Al-Sammani. While the characteristics of the ideas possessed by Sheikh Nawawi are more emphasis on the balance among sharia, tarekat, and essence. As with Sheikh Nawawi in analogizing the framework of Sufism, the Shari'a is like a sailing ship, the tarekat is like the ocean, while the essence is like the pearl.Keywords: Movement, Sufism, Nusantara.Abstrak: Pola gerakan ulama-ulama Nusantara pada abad 18-19 khususnya di wilayah Sumatra dan Jawa, telah menemukan romantismenya dalam jalur keilmuan tasawuf melalui pertemuan para ulama yang belajar di Mekah. Di antaranya tokoh tasawuf yang pernah mengembara ke Timur Tengah ialah Syekh Abdus Shamad al-Palimbani dan Syekh Nawawi al-Bantani. Dari kedua tokoh tersebut, membuktikan bahwa dinamika keilmuan tasawuf menjadi diskursus yang banyak diminati oleh para ulama-ulama Nusantara pada abad 18-19 bahkan hingga hari ini. Karakteristik gagasan tasawuf yang dimiliki kedua tokoh, memiliki karakteristik yang berbeda meskipun keduanya sama-sama menimbah ilmu di Haromain. Syekh Abdus Shamad memahami tasawuf sebagai jalan tengah antara gagasa tasawuf Al Gazali dan Ibn Arabi yang telah diolah dan disajikan dalam bentuk sistematis sebagai ajaran tasasawuf tersendiri. Abdus Shamad tampak terlihat jelas atas karakteristik gagasannya yang cenderung didominasi oleh mistisme sehingga ia mempelajari tasawuf terutama dengan Al-Sammani. Sedangkan karakterik gagasan yang dimiliki Syekh Nawawi, memiliki karakteristik tasawuf yang lebih menekanan pada keseimbangan antara syariat, tarekat, dan hakikat. Seperti halnya Syekh Nawawi dalam menganalogikan kerangka tasawuf, syariat ibaratkan kapal yang berlayar, tarekat ibarat lautan, sedangkan hakikat ibarat mutiaranya.Kata kunci: Gerakan, Tasawuf, Nusantara.