Muhammadiyah Dja'far
STAIN Malang

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Islam sebagai Ideologi Alternatif di Abad ke Dua Puluh Satu Muhammadiyah Dja'far
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 1, No 3 (1999): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (977.647 KB) | DOI: 10.18860/el.v1i3.4698

Abstract

Islam is the only divine religion that is passed down to all humanity, regardless of nationality, color, language, origin, and age. Islam is a message that contains the meaning of natural mission. Nature is a sentence that has a deep, beautiful, and great meaning. The existence of a natural Islam, showing without doubt to the universality of this treatise, and its flexibility, and its absolute ability to understand all the changing times, and the development of life, as well as the human view of itself in this life in all circumstances and conditions. The mission of Islam is capable of making breakthroughs and spreads in every time and place, for he is the only religion that carries the seeds of the ultimate and noble life for mankind. Indeed Islam is the religion of human nature and in fact faith is the milestone of Islamic life. It is therefore impossible to erect the palace of true Islamic life unless it is sustained above the milestone of acknowledgment of monotheism, for it is the essential acknowledgment for man to color his life, in accordance with God's will for him. Islam adalah satu-satunya agama samawi yang diturunkan ke segenap umat manusia, tanpa memandang jenis kebangsaan, warna kulit, bahasa, asal-usul, dan zamannya. Islam adalah risalah yang bermuatan makna misi alamiah. Alamiah adalah suatu kalimat yang mempunyai arti yang dalam, indah, dan agung. Adanya Islam yang alamiah, menunjukkan tanpa keraguan kepada kesemestaan risalah ini, dan fleksibilitasnya, serta kemampuannya yang mutlak memahami segala perubahan zaman, dan perkembangan kehidupan, maupun pandangan manusia itu sendiri terhadap kehidupan ini dalam segala situasi dan kondisinya. Misi Islam mampu melakukan terobosan dan tersebar dalam setiap waktu dan tempat, karena dia adalah satu-satunya agama yang membawa benih-benih kehidupan hakiki dan mulia bagi umat manusia. Sesungguhnya Islam adalah agama fitrah kemanusiaan dan sesungguhnya iman adalah tonggak kehidupan Islam. Karena itulah tidak mungkin akan tegak istana kehidupan Islam yang benar kecuali jika ditopang di atas tonggak pengakuan tauhid, karena ia adalah pengakuan yang sangat esensial bagi manusia untuk mewarnai kehidupannya, sesuai dengan kehendak Tuhan baginya.
Menemukan Jati Diri dan Menempatkannya pada Posisinya yang Tepat Muhammadiyah Dja'far
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 2, No 2 (2000): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (403.611 KB) | DOI: 10.18860/el.v2i2.5187

Abstract

This paper discusses how to find the identity is very important to then put it in the right position. This is based on the understanding that humans who want the happiness of the Hereafter, will take the path that is not less than six kinds of positions, namely: a diligent person, or a scientist, or a student or officer, or entrepreneur, or a person solely subjected to monotheism . Whoever has attained the most honorable degree will feel the presence of his heart with God in all things. Nothing else occurred to him, and no one else tapped his hearing, nor his views, except those charged with worship. It is not worth a person who desires this dignity to himself, then becomes lazy in his worship. Indeed, the signs of this man who attains this dignity do not occur to him in an anxious, unimaginable heart, and will not be surprised by the shock of the situation anyhow. Tulisan ini membahas tentang bagaimana menemukan jati diri sangat penting untuk kemudian menempatkannya pada posisi yang tepat. Hal ini berdasarkan pemahaman bahwa  manusia yang menginginkan kebahagiaan akhirat, akan menempuh jalannya yang tidak kurang dari enam macam posisi yaitu : orang yang tekun beribadah, atau ilmuwan, atau pelajar (mahasiswa) atau pejabat, atau pengusaha, atau orang yang semata-mata menekuni tauhid. Barangsiapa telah mencapai derajat yang paling mulia akan merasakan kehadiran hatinya bersama dengan Allah dalam segala halnya. Tiada lagi hal lain terlintas dalam hatinya, dan tiada lagi yang mengetuk pendengarannya, maupun pandangannya, kecuali yang bermuatan ibadah. Tidak pantas sama sekali seorang yang menginginkan martabat ini pada dirinya, lalu menjadi malas ibadahnya. Sesungguhnya tanda-tanda orang yang mencapai martabat ini tidak terlintas dalam hatinya sifat kuatir, dan tidak terbayang suatu maksiat di dalam hatinya, serta tidak akan dikejutkan oleh kegoncangan situasi bagaimanapun.