Basrin Melamba
Universitas Haluoleo Kendari

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Interaksi Islam dengan Budaya Barasandi dan Aktivitas Sosial Keagamaan Orang Tolaki di Sulawesi Tenggara Basrin Melamba
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 14, No 2 (2012): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (277.298 KB) | DOI: 10.18860/el.v14i2.2313

Abstract

This research aimed to describe the interaction between Islam and Tolaki tradition in South East Sulawesi. The interaction between Tolaki and Islam has two formulations, the first, Islam contaminated, changed and reformed local culture, Tolaki. This kind of formulation produced the reality of religious social life like barasandi (bersanji/aqiqah), a marriage procession (mowindahako), a celebration of circumcision (maggilo), a celebration such a praying for being saved from any problem of life, a celebration of  Prophet of  Muhammad birth (Maulud Nabi), religious activities, an art and literature like kinoho agama (religious poems), Taenango langgai saranani (the history of heroic in Islamic spreading or proselytization in Tolaki region), religious social life like how someone performed or pilgrimaged to Mecca  (hadi kobaraka), and the dynamics of social organization life. The second, Islam was contaminated by several local traditions. This case produced the process of Islam localizing in the the dynamics of Tolaki religious social community. There had been an interaction form and acculturation between Islam and Tolaki culture in Southeast Sulawesi. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan interaksi atau perjumpaan antara agama Islam dengan budaya Tolaki di Sulawesi Tenggara. Interaksi Islam dengan kebudayaan Tolaki menghasilkan dua pola, pertama, Islam memberikan warna, mengubah, mengolah, dan memperbaharui budaya lokal. Pola ini memunculkan realitas kehidupan sosial keagamaan dalam bidang budaya Barasandi (aqiqah), adat perkawinan (mowindahako), upacara sunatan (manggilo), doa selamatan (mobasa-basa), peringatan maulid (maulu nabi), aktivitas keagamaan, dalam bidang seni dan sastra seperti kinoho agama (pantun agama), dan Taenango langgai saranani (kisah kepahlawanan dalam penyebaran agama Islam di wilayah Tolaki), serta kehidupan sosial keagamaan misalnya orientasi haji (hadi kobaraka), dan dinamika kehidupan organisasi sosial. Kedua, Islam diwarnai oleh berbagai budaya lokal. Saluran ini memunculkan proses lokalisasi unsurunsur Islam dalam dinamika sosial keagamaan orang Tolaki. Telah terjadi bentuk interaksi, dan akulturasi antara Islam dan budaya Tolaki di Sulawesi Tenggara
Ijtihad Sultan Muhammad Idrus Kaimuddin Ibnu Badaruddin Al Buthuni: Akulturasi Islam dan Budaya Kesultanan Buton Basrin Melamba; Wa Ode Siti Hafsah
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 16, No 1 (2014): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (261.394 KB) | DOI: 10.18860/el.v16i1.2768

Abstract

The coming of Islam in the Buton Sultanate has brought a change in the social, political, even in the intellectual aspects. It produced scholars with the thought or ijitihad as a blend of Islamic and local cultures. One of the scholars as well as Buton Sultan was Muhammad Idrus Kaimuddin Ibnu Badaruddin Al Buthuni (1824-1851). His thought or ijitihad found the essence of the concept of manners according to the teachings of the ancestors in kabanti Bula Malino. His several works became the guidance of the public and court authorities in the Sultanate of Buton which were basically rooted from the teachings of Islam. Kaimuddin’s thought in terms of ethics, morals, manners, or advice showed his horizons of knowledge and the depth of leadership thought. The magnitude of Islamic influence in some of his works proves the enduring process of Islamic acculturation done continuously and deeply since the era of Buton Islamic empire. Kaimuddin’s thought is essentially a formation process of Buton’s civilization centered on the palace and passed to Buton society in general through the process of cultural dialogue between Buton culture (Wolio) and Islam. Masuknya agama Islam di Kesultanan Buton, telah membawa perubahan dalam bidang sosial, politik, bahkan dalam aspek intelektual. Hal ini melahirkan ulama-ulama yang memiliki pemikiran atau ijitihad yang merupakan perpaduan budaya Islam dan budaya lokal. Salah satu ulama di Buton sekaligus sebagai Sultan yaitu Muhammad Idrus Kaimuddin Ibnu Badaruddin Al Buthuni (1824- 1851). Pemikiran atau ijitihad Sultan Kaimuddin menemukan esensi konsep tata krama menurut ajaran leluhur dalam kabanti Bula Malino. Beberapa karyanya menjadi tuntunan masyarakat dan penguasa kraton di Kesultanan Buton yang banyak bersumber dari ajaran Islam. Pemikiran dalam hal etika, moral, tata krama, maupun nasehat Sultan Kaimuddin menunjukkan cakrawala pengetahuan dan mendalamnya pemikiran seorang pemimpin. Besarnya pengaruh Islam dalam beberapa karya Sultan Kaimuddin membuktikan berlangsungnya proses akulturasi Islam secara berkesinambungan dan mendalam dari masa kerajaan Islam Buton. Hasil pemikiran Sultan Kaimuddin pada hakekatnya merupakan sebuah proses pembentukan peradaban Buton yang berpusat pada kraton dan ditularkan pada masyarakat Buton secara umum melalui dialog kebudayaan antara kebudayaan Buton (Wolio) dengan Islam