Kinayati Djojosuroto
FBS Universitas Negeri Manado

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Ikon Tradisi Ba’do Katupat sebagai Refleksi Kebudayaan Masyarakat Jaton di Sulawesi Utara Kinayati Djojosuroto
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 15, No 2 (2013): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (409.348 KB) | DOI: 10.18860/el.v15i2.2767

Abstract

Ba’do Katupat celebration is a tradition of Jawa Tondano (Jaton) village hold annually. It has a deep meaning to strengthen the relationship, forgive each other, as well as be grateful  for the success of fasting for the whole month. No wonder the celebration is always crowded with thousands of people from different areas, ages and beliefs, and carried out for the whole day. Ba’do Ketupat is an inherited tradition from Diponegoro, Kiai Mojo, and his followers. This Javanese tradition heritage can be found in Tondano, Minahasa as a ceremonial event held annually by people in Jaton village one week after Eid  Ba’do Ketupat contains cultural values   that include local and cultural values, as the icon and identity of  Jaton in Minahasa, as well as the acculturation resulting in solidarity and tolerance. This culture unites the minority of Jaton people with the majority of Minahasa people. The religious ritual performed by Jaton people and other Muslim accomplishes religious obligations in order to increase devotion towards Allah SWT and not to create difference. Perayaan Ba’do Katupat merupakan tradisi kampung Jawa Tondano yang dilaksanakan setiap tahun. Acara ini memiliki makna yang mendalam yaitu untuk memperkokoh tali silaturahim, bermaaf-maafan, sekaligus ucapan syukur atas keberhasilan menjalankan ibadah puasa sebulan lamanya. Tak heran perayaan tersebut selalu dipadati ribuan masyarakat dari berbagai daerah, usia dan keyakinan dan berlangsung sejak pagi hingga malam hari. Ba’do Katupat merupakan tradisi yang diwariskan Diponegoro, Kiai Mojo dan pengikut - pengikutnya. Tradisi ini adalah warisan tradisi Jawa yang ada di Tondano Minahasa dan menjadi acara seremonial yang setiap tahun diselenggarakan warga di Kampung Jaton setelah lewat satu minggu lebaran. Ba’do Katupat mengandung nilai-nilai budaya yang mencakup kearifan lokal dan kearifan budaya Jaton, sebagai ikon dan identitas warga Jaton di Minahasa, serta sebagai akulturasi budaya sehingga terjadi solidaritas dan toleransi. Budaya tersebut mempersatukan penduduk minoritas Jaton dengan penduduk mayoritas Minahasa. Ritual keagamaan yang dilakukan oleh orang Jaton maupun Muslim yang lain merupakan pelaksanaan kewajiban agama dalam upaya meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT dan bukan menciptakan perbedaan
Korelasi antara Penguasaan Kosakata, Minat Baca, dDan Kemampuan Meresepsi Cerpen Sufistik Siswa Madrasah Tsanawiyah Minahasa Kinayati Djojosuroto
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 16, No 1 (2014): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (273.805 KB) | DOI: 10.18860/el.v16i1.2773

Abstract

At Madrasah Tsanawiyah (MTs), literature is a part of Indonesian Letters and Language class. Literature can refine manners, enrich aesthetic experience, and improve the knowledge of students. Literature teaching increases their ability in understanding, enjoying, loving, and appreciating literary work, and also to help their development of psychological aspects towards shaping their character as a whole. Regarding reading interest, students were helped in understanding and comprehending sufi short story when they mastered the adequate vocabulary. The sufi short story as a work of literature is rich of life values, either local or spiritual ones. Sufi value  belongs to spiritual value  assessed to develop a person’s spiritual state. This study used the survey method with correlation technique. The respondents were tested on vocabulary mastery, given quiz for reading interest, and also taken essay test for the ability to comprehend sufi short story. It was done in MTs Kampung Jawa, Tondano, Minahasa.  Based on the analysis of the hypothesis test, all of the alternative hypothesizes (H1) given in this research were accepted. This means that the ability to comprehend sufi short story (Y) can be improved by developing the mastery of vocabulary (X1) and reading interest (X2). Di Madrasah Tsanawiyah (MTs), sastra merupakan bagian dari pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia. Sastra dapat memperhalus budi pekerti, memperkaya pengalaman estetik, dan meningkatkan pengetahuan siswa. Pengajaran sastra bertujuan untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam memahami, menikmati, mencintai, dan menghargai karya sastra, serta membantu perkembangan aspekaspek kejiwaan anak menuju terbentuknya kebulatan pribadinya. Sehubungan dengan minat baca, siswa sangat terbantu dalam memahami dan meresepsi cerpen sufistik ketika mereka menguasai kosakata yang memadai. Cerpen sufistik sebagai karya sastra, kaya akan nilai-nilai kehidupan, baik itu nilai budaya maupun nilai spiritual. Nilai sufistik termasuk dalam nilai spiritual yang apabila dikaji akan membantu mengembangkan spiritual seseorang. Penelitian ini menggunakan metode survei dengan teknik korelasi. Responden diuji dengan tes penguasaan kosakata, kuis untuk minat baca, dan tes esai untuk kemampuan meresepsi cerpen sufistik. Penelitian ini dilaksanakan di MTs Kampung Jawa Tondano, Minahasa. Berdasarkan analisis pengujian hipotesis, dapat disimpulkan bahwa semua hipotesis alternatif (H1) yang diajukan pada penelitian ini diterima. Hal ini berarti bahwa kemampuan meresepsi cerpen sufistik (Y) dapat meningkat dengan meningkatkan penguasaan kosakata (X1) dan minat baca (X2).