Mohammad Asrori Alfa
Fakultas Humaniora UIN Malang

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Menggagas Alternatif Pemikiran Aswaja di Tengah Kehidupan Masyarakat Berbasis Pesantren Mohammad Asrori Alfa
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 6, No 2 (2004): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (776.481 KB) | DOI: 10.18860/el.v6i2.4668

Abstract

The comprehension of Ahlussunnah wal Jama’ah (Aswaja) so far has been understood as ideology doctrine of certain community. As a result, there happened many misunderstandings and anxiety which give bad impact to sociocultural and socio-psychological in the life of people. In fact, the substantialism of Aswaja values itself can be the benchmark (mi’yar) of thinking method (manhaj al fikr) in several human life aspects both micro and macro. This can be implemented in the society life by using concept popularity approach which has been known: tawassut (moderate), tasamuh (tolerant), tawazun (balance), dan i’tidal (justice). In this article, the author will discuss about the history and definition of Aswaja and also the aim and advantages of learning it. Pemahaman konsep Ahlussunnah wal Jama’ah (Aswaja) selama ini sering dipahami sebagai doktrin ideologi komunitas tertentu. Akibatnya, banyak terjadi bentuk kesalahpahaman dan keresahan yang berimbas sosiokultur, sosiopolitik, dan sosio-psychologic di tengah perkembangan kehidupan umat manusia. Sesungguhnya, substantialisme nilai Aswaja itu sendiri bisa dijadikan tolok ukur (mi’yar) sarana metodologi berpikir (manhaj al fikr) dalam berbagai aspek kehidupan manusia secara mikro maupun makro. Hal ini dapat kita implementasikan di tengah masyarakat dengan menggunakan pendekatan popularitas konsep yang selama ini dimiliki: tawassut (moderat), tasamuh (toleransi), tawazun (seimbang), dan i’tidal (bersikap adil). Artikel ini akan membahas sejarah dan pengertian Aswaja serta tujuan dan manfaat mempelajarinya.
Modernisme dan Fundamentalisme sebagai Fenomena Gerakan Keagamaan dalam Sosial Masyarakat Mohammad Asrori Alfa
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 8, No 2 (2006): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1262.345 KB) | DOI: 10.18860/el.v8i2.4749

Abstract

Many issues on "Modernism" and "Fundamentalism" prove the development of ideologies and sects as religious, social, and politic phenomena existing in society. Nevertheless, this study aims to focus on the religious phenomena only because each of the ideologies and sects cannot be separated from its historical root that is related much to the problems of Christian development in western countries. Furthermore, this study results from intellectual exploration that is able to find out and sketch the characteristics of "Modernism" and "Fundamentalism" as religious phenomena existing in society. As a result, it can finally distinguish the typology of social communities that include in the category of each ideology. Moreover, it explains that that various performances of religious movements in society can be included in the typology of each ideology Banyak isu tentang "Modernisme" dan "Fundamentalisme" membuktikan perkembangan ideologi dan sekte sebagai fenomena agama, sosial, dan politik yang ada di masyarakat. Namun demikian, penelitian ini bertujuan untuk fokus pada fenomena keagamaan hanya karena masing-masing ideologi dan sekte tidak dapat dipisahkan dari akar historisnya yang terkait dengan masalah perkembangan Kristen di negara-negara barat. Selanjutnya, hasil penelitian ini berasal dari eksplorasi intelektual yang mampu mengetahui dan membuat sketsa karakteristik "Modernisme" dan "Fundamentalisme" sebagai fenomena religius yang ada di masyarakat. Akibatnya, akhirnya bisa membedakan tipologi komunitas sosial yang termasuk dalam kategori masing-masing ideologi. Terlebih lagi, ini menjelaskan bahwa berbagai pertunjukan gerakan keagamaan di masyarakat dapat dimasukkan dalam tipologi masing-masing ideologi