Robby Indarjono
Sekolah Tinggi Teologi Iman Jakarta

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Revitalisasi Kristen: Tinjauan Historis Konsep Kelahiran Kembali dan Signifikansinya bagi Orang Kristen Robby Indarjono; Megawati Silaban
EPIGRAPHE (Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani) Vol 6, No 1: Mei 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Torsina Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33991/epigraphe.v6i1.83

Abstract

Born again or born anew is not a new term for Christians. Almost every church encourages the congregation to experience being born again or born anew. But, is their understanding of born again or born anew correct as the Bible implies? In John 3, Jesus taught this to Nicodemus, a Pharisee, a Jewish religious leader. Even Jesus had to repeat his explanation in order for Nicodemus to truly understand that spiritually born again or born anew is something that is absolutely necessary for a person to enter the kingdom of God (John 3:3, 5-7). It is ironic that the understanding of many Christians, both congregations and clergies, regarding the term born again or born anew is often not quite as accurate as Nicodemus. This concern has prompted the author to take library research regarding Christian revitalization, using a historical review of the concept of born again, with the aim that clergies and congregations have a correct understanding of the doctrine of being born again according to the Bible.AbstrakKelahiran kembaliatau kelahiran baru bukan istilah asing bagi orang Kristen. Hampir setiap gereja mendorong jemaat untuk mengalami kelahiran kembali atau kelahiran baru. Tetapi, apakah pemahaman mereka tentang kelahiran kembali atau kelahiran baru sudah benar seperti yang Alkitab maksud-kan? Dalam Yohanes 3:1-21, Yesus mengajarkan hal ini kepada Nikodemus, seo-rang Farisi, pemimpin agama Yahudi. Bahkan Yesus harus mengulang penjelasan-nya agar benar-benar dipahami oleh Nikodemus bahwa kelahiran kembali atau kelahiran baru secara rohani adalah hal yang mutlak dialami seseorang untuk masuk ke dalam Kerajaan Allah (Yoh. 3:3, 5-7). Sungguh ironis jika pemahaman banyak orang Kristen, baik jemaat maupun hamba Tuhan, tentang istilah kelahiran kembali atau kelahiran baru ini seringkali kurang tepat seperti halnya Nikodemus. Keresahan ini telah mendorong penulis melakukan penelitian pus-taka tentang revitalisasi Kristen, dengan melakukan tinjauan historis konsep kela-hiran kembali, dengan harapan agar hamba Tuhan dan jemaat memiliki pemaha-man yang benar tentang doktrin kelahiran kembali menurut Alkitab.
Pembinaan Menuntaskan Amanat Agung dalam Panggilan Misi Apostolik: Kerjasama Asosiasi Misiolog Indonesia dengan Beberapa Sekolah Tinggi Teologi di Indonesia Fransiskus Irwan Widjaja; Robby Indarjono; Andreas Jonathan; Esther Budhi; Yusuf Susanto; Andreas Sembiring; Deni Iskandar; Yohanis Patandean; Rudhy Christyawan; Sandy Tejalaksana; Riston Batuara
Real Coster : Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Vol. 6 No. 2: September 2023
Publisher : Institut Agama Kristen REAL Batam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53547/realcoster.v6i2.430

Abstract

Jesus' words, "The harvest is many, but laborers are few" (Matt. 9:37), is a concerning fact to this day. After two thousand years, it turned out that the number of mission personnel never increased significantly. Church youth and students of the Theological College need to be encouraged to be more enthusiastically involved in missionary service. This raises the spirit of togetherness of various Theological College in Indonesia who are called in the mission field to carry out Community Development through coaching students and mission lecturers in completing the Great Mandate. Even together with the Indonesian Missiologists Association, these Theological College representatives thought of creating a joint mission curriculum that could encourage apostolic mission vocations in this era.Keywords: Apostolic; Indonesian Missiologists Association; mission curriculum; The Great CommissionAbstrakPerkataan Yesus “Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit” (Mat. 9:37), merupakan fakta yang memprihatikan hingga hari ini. Setelah dua ribu tahun ternyata jumlah tenaga misi tidak pernah bertambah secara signifikan. Pemuda gereja maupun mahasiswa Sekolah Tinggi Teologi (STT) perlu didorong agar lebih antusias terlibat dalam pelayanan misi. Hal ini membangkitkan semangat kebersamaan berbagai STT di Indonesia yang terpanggil dalam bidang misi untuk melakukan Pembinaan kepada Masyarakat (PkM) melalui pembinaan para mahasiswa dan dosen misi dalam menuntaskan Amanat Agung. Bahkan bersama Asosiasi Misiolog Indonesia (AMI), para perwakilan STT-STT ini memikirkan untuk membuat kurikulum misi bersama yang dapat mendorong panggilan misi apostolik pada zaman ini. Kata Kunci: Apostolik; Asosiasi Misiolog Indonesia; kurikulum misi; Amanat Agung