Amos 5:21-27 shows the Israelite sacrifice being rejected by God, even though the sacrifice fulfilled the ritual requirements. The people of Israel in the time of Amos were required by God to do justice and righteousness, but they did not do so, and the Lord sentenced them. Some scholars also argue about this rejection, and they fall into two groups. The first group concludes that God rejected the sacrifice because He did not need it. The second group believes that sacrifice is needed but must be followed by people living based on justice and righteousness. The Israelite people during Amos's time ignored justice; corruption, economic inequality, and poverty were rampant. Even though its people are religious, Indonesia also has serious social injustice problems. The poverty rate is high, economic inequality is wide, and corruption is easy to find. The interpretation of Amos 5:21-27 about justice is relevant to Pancasila, especially the fifth principle, "Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia".AbstrakAmos 5:21-27 menampilkan kurban orang Israel ditolak oleh TUHAN, meskipun kurban telah memenuhi syarat ritual. Orang Israel pada masa Amos dituntut oleh TUHAN untuk melakukan keadilan dan kebenaran, namun mereka tidak melakukannya dan TUHAN menjatuhkan hukuman. Beberapa ahli pun berargumen tentang penolakan itu dan mereka terbagi dalam dua kelompok. Kelompok pertama menyimpulkan TUHAN menolak kurban karena tidak membutuhkannya. Kelompok kedua berpendapat kurban tetap dibutuhkan tetapi harus diikuti kehidupan umat yang berlandaskan keadilan dan kebenaran. Mengunakan metode kualitatif dengan pendekatan eksegesa maka didapa kesimpulan bahwa, kehidupan orang Israel pada masa Amos mengabaikan keadilan, sehingga korupsi, ketimpangan ekonomi dan kemiskinan pun merajalela. Indonesia, meski rakyatnya beragama juga memiliki masalah serius yakni ketidakadilan sosial. Angka kemiskinan tinggi; ketimpangan ekonomi lebar; korupsi mudah ditemukan. Hasil tafsir menghasilkan pertama teologi kurban yang direlevansikan untuk memaknai persembahan dan kedua keadilan Amos relevan dengan Pancasila, khususnya sila kelima “Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia”.