Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

VIRTUALISASI KATALOG SENAYAN LIBRARY MANAGEMENT SYSTEM (SLiMS) BERBASIS 3D Sopingi Sopingi; Mei Purweni
Telematika Vol 11, No 2: Agustus (2018)
Publisher : Universitas Amikom Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (774.199 KB) | DOI: 10.35671/telematika.v11i2.700

Abstract

Kemajuan information and communication technology telah merubah paradigma pola pembelajaran, pola interaksi dan pola pengelolaan sistem di perguruan tinggi. Saat ini di lingkungan perguruan tinggi, perpustakaan digital diperlukan untuk mendukung pelaksanaan pendidikan dan pengajaran, penelitian serta pengabdian dan pelayanan pada masyarakat. Aplikasi open source perpustakaan digital yang ada di Indonesia adalahSenayan Library Management System yang menyediakan fitur Online Public Access Catalog (OPAC). Permasalahan yang terjadi adalah OPAC dari SLiMS tidak ada fitur yang menunjukan lokasi dari buku. Tujuan penelitian ini adalah menghasilkan aplikasi virtualisasi katalog SLiMS untuk penataan buku di rak dan pencarian buku dalam bentuk 3D serta mengetahui keakuratan dan performance. Metode dilakukan diawali membuat struktur vertex dari buku dan rak dengan menggunakan data polyhedron dari objek kubus. Data polyhedron dapat dibaca dengan aplikasi Blender 3D, kemudian penulis analisis untuk mendapatkan rumus pembentuk polyhedron serta mendapatkan urutan index dari vertex. Data masukkan yang digunakan untuk membentuk polyhedron buku adalah panjang, lebar dan tebal buku, sedangkan untuk polyhedron rak adalah panjang, lebar, tinggi dan tebal papan. Data masukkan disimpan di basis data agar dapat diakses dan dikonversi menjadi 3D dengan pemrograman web.Hasil penelitian berupa aplikasi prototype yang dapat membuat almari dan rak dalam bentuk 3D serta membuat buku dalam bentuk 3D berdasarkan data dari basis data SLiMS. Berdasarkan hasil pengujian protoype, aplikasi dapat berjalan sesuai kebutuhan dengan hasil sangat setuju 65%, setuju 25% dan cukup setuju 10%. Buku yang dapat ditampilkan dalam bentuk 3D kurang dari 250 buku.
Model Inspeksi Keamanan Jaringan Nirkabel Dengan Teknik Wardrving Berbasis ChatBot Mei Purweni; Dedy Hariyadi; Faulinda Ely Nastiti; Fazlurrahman Fazlurrahman
Jurnal Komtika (Komputasi dan Informatika) Vol 6 No 2 (2022)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Magelang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31603/komtika.v6i2.7943

Abstract

Penggunaan perangkat jaringan nirkabel seperti Access Point perlu dianalisis untuk menghindari serangan intersep ataupun bypass oleh pelaku kejahatan. Kegiatan inspeksi keamanan jaringan nirkabel dalam inspeksi/operasi intelligen harus dilakukan secara rahasia, akurat dan cepat. Penelitian ini mengusulkan pengembangan aplikasi pengumpulan informasi dan pemetaan perangkat jaringan access point dalam operasi intelijen oleh petugas lapangan sebagai bahan rujukan dalam penyajian laporan saat proses penyidikan. Pengumpulan informasi pada penelitian ini dilakukan dengan pendekatan Signal Intelligence yang telah diselaraskan dengan model Signal Intelligence dan Intelligence Collection System. Penelitian ini telah menggunakan kedua cabang tersebut dikolaborasikan dengan komunikasi chatbot untuk mempermudah proses analisis petugas lapangan yang disertai dengan aktivitas menyaru data jaringan di tengah-tengah masyarakat.
Environmental Scanning and Early Warning Against Counterfeit Heritage Textiles: Systematic Review and Conceptual Framework Hajar Yuwono; Mei Purweni; Haris Annisari Indah Nur Rochimah
International Journal of Informatics, Economics, Management and Science Vol. 5 No. 2 (2026): IJIEMS (August 2026)
Publisher : Sekolah Tinggi Manajemen Informatika dan Komputer Jayakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52362/ijiems.v5i2.2650

Abstract

Counterfeit and imitation goods have posed a persistent commercial threat to heritage textile industries, batik and ikat among a wider family of regionally distinctive crafts. Environmental scanning (ES) and early warning systems (EWS) would seem the natural instruments for meeting that threat, embedded as both constructs are within strategic management and supply chain risk scholarship. The difficulty lay elsewhere. Work applying them to counterfeit detection in heritage textiles had accumulated in scattered pockets across management, law and engineering, with little sustained exchange between them. This study accordingly undertook a systematic literature review pursuing four lines of inquiry, namely how ES and EWS were operationalised to surface counterfeit risk, which technological and procedural components sustained systems that produced usable alerts, what systematic scanning yielded relative to unsystematic monitoring, and which barriers obstructed deployment among small and medium sized enterprises (SMEs) in developing economies. A fifth aim drew the four together into a conceptual framework. Retrieval proceeded through the Consensus academic search engine, which aggregates Semantic Scholar, Scopus, PubMed and arXiv. Nine thematic clusters returned 179 matched records, of which 90 unique records were screened in detail and 54 retained for narrative synthesis. Four patterns emerged. No system built expressly for heritage textile settings was found; the architectures encountered belonged to generic supply chain risk and brand protection frameworks, leaving the provenance concerns peculiar to heritage products unaddressed. Enabling technologies, among them RFID, blockchain, anomaly detection through artificial intelligence, and optical or fluorescent security materials, matured at considerable speed, yet their cost structures often placed them beyond the reach of artisan scale producers. Technological availability was less often the limiting factor than affordability and the capacity to implement and act on these technologies. The reviewed evidence consistently favoured systematic monitoring over ad hoc alternatives, although returns on protective investment were nonlinear. Adoption among SMEs stalled less on technical grounds than on the familiar triad of constrained finance, uneven digital literacy and thin institutional support, a pattern intensifying sharply in the Indonesian batik industry, where geographical indication and copyright registration among artisans remained sparse. The review advances a cooperative level conceptual framework that integrates scanning, early warning, affordability tiered technology, moderating conditions, and collective response pathways for heritage textile protection.