Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Semiotic Analysis of Jokowi's Political Meme "the King of Lip Service" and "YNTKTS" as Media for Criticism in the Digital Age Shakilah Faliha; Kinkin Yuliaty Subarsa Putri
Persepsi: Communication Journal Vol 5, No 2 (2022): November 2022
Publisher : UMSU

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30596/persepsi.v5i2.10183

Abstract

New media have not only made significant changes to people's communication patterns but have also built a new system called cyber-democracy. One of the phenomena that are now a place for cyber-democracy and we can find it in the density of content on the internet is memes. Memes, now referred to as internet memes, are considered promotional media that can reach a broader audience in a short time and are used by social media users as a new medium of communication to express humour with a satirical meaning. One is how memes are used to voice political aspirations and criticism or commonly known as political memes. One of the political memes that had gone viral was a political meme about President Joko Widodo on social media Twitter. Therefore, this study aims to analyze the semiotic elements in Joko Widodo's political meme circulating on social media Twitter using Charles Sanders Peirce's semiotic analysis and explain how the condition of Indonesian democracy with memes as media criticism in the digital era. The results of the study revealed that the meme did not disappoint the public towards President Joko Widodo and how democracy was limited by the Indonesian government which still did not fully accept political humour as a form of criticism.
Peran Humas LKBN ANTARA dalam Menjalin Hubungan Antar Budaya Melalui Program Pelatihan UMKM di Sembalun Shakilah Faliha; Muhammad Ferdiansyah; Dini Safitri
Communications Vol. 5 No. 1 (2023): COMMUNICATIONS
Publisher : Prodi S1 Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum, Universitas Negeri Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21009/communications.5.1.3

Abstract

Fungsi public relation adalah menjadi jembatan informasi dari perusahaan kepada khalayak maupun sebaliknya, untuk mengetahui apa saja harapan khalayak kepada perusahaan baik eksternal maupun internal. Salah satu cara berkomunikasi denga masyarakat eksternal perusahaan yakni melalui program besar dalam membantu menyelesaikan permasalahan lingkungan di sekitarnya atau biasa disebut dengan TJSL (Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan). Program TJSL merupakan program yang bisa menjadi dasar dalam menjalin hubungan yang baik dari perusahaan kepada masyarakat di sekitarnya. Kegiatan ini juga terkadang disebut sebagai Corporate Social Responsibility (CSR) yang hadir sebagai program pemberdayaan khalayak di sekitar yang harus dilakukan oleh seorang public relations. Salah satu contoh program TJSL yakni adalah Program pelatihan UMKM di Sembalun, Lombok Timur, yang diselenggarakan oleh LKBN (Lembaga Kantor Berita Nasional) dengan tujuan guna menyejahterakan masyarakat Sembalun sebagai kota wisata terutama mereka yang hidup dari usaha kecil. Untuk mengetahui lebih lanjut tentang proses komunikasi antara LKBN Antara dengan masyarakat di Sembalun, peneliti menggunakan metode Metode kualitatif yakni wawancara mendalam, serta IPPAR Model yang juga digunakan untuk mengetahui komponen etnography public realtions yang dilakukan oleh public relation LKBN Antara saat melakukan program pelatihan tersebut. Hasil yang ditemukan peneliti mengungkapkan bahwa public relation LKBN Antara menyesuaikan materi pelatihan dengan latar belakang budaya khalayak sasaran, sehingga sasaran merasa terbantu dengan pelatihan ini.