Jakarta menjadi pusat dari semua pusat kegiatan di Indonesia. Jakarta seolah menawarkan harapan kehidupan yang lebih baik bagi masyarakat di luar kota lain. Minimnya lapangan pekerjaan dan tingkat kemiskinan yang tinggi juga mendorong masyarakat untuk bermigrasi ke kota-kota besar dalam upaya mencari pekerjaan dengan kehidupan yang lebih baik. Penduduk lokal maupun pendatang yang tidak beruntung dalam industri pekerjaan bekerja di sektor informal, seperti menjual koran, menjual minuman, dan di jalanan. Kehadiran teknologi telah mengubah dan membawa masyarakat melalui berbagai tahapan peradaban. Kehadirannya menciptakan berbagai kemudahan dalam melakukan aktivitas dan memperoleh informasi, yang berdampak pada perubahan gaya hidup masyarakat. Saat ini sarana komunikasi seperti televisi, surat kabar dan radio lambat laun ditinggalkan oleh masyarakat. Akses media konvensional kini berbasis internet. Serta media cetak berupa surat kabar dan majalah kini dapat diakses melalui media elektronik seperti internet melalui berbagai jenis aplikasi. Kajian ini akan membahas bagaimana masyarakat perkotaan mempersepsikan keberadaan penjual koran dan faktor-faktor yang mempengaruhi keberadaan penjual koran bertahan hingga saat ini. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif berupa kata-kata tertulis dengan dua tujuan utama yaitu, menggambarkan dan mengungkapkan dan menggambarkan dan menjelaskan. Kesimpulan yang didapat dari pandangan masyarakat perkotaan terhadap keberadaan penjual koran dilihat dari era digitalisasi ini bahwa penurunan minat pembaca koran tidak hanya berdasarkan pada perkembangan teknologi informasi dan komunikasi, namun juga didasarkan pada kebutuhan masyarakat untuk menemukan informasi dengan cepat dan mudah. Keberadaan beberapa masyarakat lanjut usia yang masih tidak mengerti menggunakan teknologi informasi juga menjadi alasan penjual koran masih bertahan di era digitalisasi ini.