Muhtar Tayib, Muhtar
Institut Agama Islam Negeri Mataram

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

PLURALISME AGAMA: STUDI TENTANG MAKNA DAN POLA KOMUNIKASI ANTAR UMAT ISLAM, HINDU DAN BUDHA DI PULAU LOMBOK. KOTA MATARAM Saputra, Hasyim Edi Rianto; Tayib, Muhtar
KOMUNIKE Vol 11 No 1 (2019): Komunikasi Politik Islam
Publisher : UIN Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (316.828 KB) | DOI: 10.20414/jurkom.v11i1.2276

Abstract

Isu pluralisme bukan lagi sebagai wacana yang diperdebatkan oleh para intelektual yangmasih berkisar pada hal-hal yang bersifat teoritis- spekulatif tetapi sudah merambah pada hal yang lebih kongkrit yaitu praktis-pragmatis. Di Indonesia sendiri istilah pluralisme agama menjadi marak diperbincangkan setelah di usung oleh Nurcholis Madjid, Mukti Ali, Djohan Efendi. Dan pada tahun terakhir ini dilanjutkan oleh generasi berikutnya. Budhy Munawar Rahman dengan Paramadinanya, Ulil Abshar Abdalla dan kawan-kawan dengan Jaringan Islam Liberalnya (JIL). Terlebih lagi di pulau lombok yang terletak di provinsi NTB (Nusa Tenggara Barat), Degan asas skularisme ini masyarakat Sasak Lombok mampu menciptakan keharmonisan dan menciptakan pluralisme agama dan budaya menjadi indah. Sehingga tetap terjalin komunikasi antar umat beragama, adapun strategi yang digunakan yang masyarakat sasak menyebutnya “Panca Budaya Pluralis” antara lain: 1) Lewat budaya saling ajinin; 2) Lewat budaya saling pesilaq; 3) Lewat budaya saling pelayarin; 4) Lewat budaya saling ayowin.
The Perspective Of Tuan Guru On Gendered Division Of Labor: Examining Gender Equality In Terong Tawah Village, Labuapi District, West Lombok Regency Tayib, Muhtar
KOMUNITAS Vol. 15 No. 2 (2024): Empowerment and Islamic Studies
Publisher : Prodi Pengembangan Masyarakat Islam Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi UIN Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20414/komunitas.v15i2.11865

Abstract

Gender extends beyond the biological distinctions between men and women, encompassing the roles and responsibilities attributed to each as a product of social construction. Achieving gender equality necessitates equitable roles for men and women, particularly within the workforce. This study employs a case study design with a qualitative methodology to explore these dynamics. The findings reveal that many women engage in public-sector work to support their partners in managing household responsibilities, often within the framework of mutual agreement. This practice aligns with the perspectives of Tuan Guru and demonstrates how the division of labor contributes to fostering a resilient and self-reliant community. However, it also highlights potential challenges, such as social disparities within families stemming from reduced social interaction.  
PLURALISME AGAMA: STUDI TENTANG MAKNA DAN POLA KOMUNIKASI ANTAR UMAT ISLAM, HINDU DAN BUDHA DI PULAU LOMBOK. KOTA MATARAM Saputra, Hasyim Edi Rianto; Tayib, Muhtar
KOMUNIKE: Jurnal Komunikasi Penyiaran Islam Vol. 11 No. 1 (2019): Komunikasi Politik Islam
Publisher : Universitas Islam Negeri Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20414/jurkom.v11i1.2276

Abstract

Isu pluralisme bukan lagi sebagai wacana yang diperdebatkan oleh para intelektual yangmasih berkisar pada hal-hal yang bersifat teoritis- spekulatif tetapi sudah merambah pada hal yang lebih kongkrit yaitu praktis-pragmatis. Di Indonesia sendiri istilah pluralisme agama menjadi marak diperbincangkan setelah di usung oleh Nurcholis Madjid, Mukti Ali, Djohan Efendi. Dan pada tahun terakhir ini dilanjutkan oleh generasi berikutnya. Budhy Munawar Rahman dengan Paramadinanya, Ulil Abshar Abdalla dan kawan-kawan dengan Jaringan Islam Liberalnya (JIL). Terlebih lagi di pulau lombok yang terletak di provinsi NTB (Nusa Tenggara Barat), Degan asas skularisme ini masyarakat Sasak Lombok mampu menciptakan keharmonisan dan menciptakan pluralisme agama dan budaya menjadi indah. Sehingga tetap terjalin komunikasi antar umat beragama, adapun strategi yang digunakan yang masyarakat sasak menyebutnya “Panca Budaya Pluralis” antara lain: 1) Lewat budaya saling ajinin; 2) Lewat budaya saling pesilaq; 3) Lewat budaya saling pelayarin; 4) Lewat budaya saling ayowin.