Mira Munira
Universitas Pancasila, Indonesia

Published : 4 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Socioeconomic Wellbeing Amid The COVID-19 Crisis : Indonesia and Malaysia Nurul Hilmiyah; Mira Munira; Dewi Tri Rahayu; Muhammad Hakimi Shafiai; Zulfa Emeliya Zein
Tazkia Islamic Finance and Business Review Vol. 16 No. 1 (2022)
Publisher : Institute for Research and Community Empowerment (LPPM TAZKIA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Massive and ongoing outbreaks of the corona virus have become a serious threat with a negative impact on the living standards and socio-economic well-being of the community. The objective of this study is to investigate the severe level of pandemic impact on both countries, Indonesia and Malaysia, and analyze the effectiveness of policy response, particularly on the economic stimulus to bring back socioeconomic well-being on the right track. This article employs content analysis as well as a comparative approach between two countries, Indonesia and Malaysia. Both mitigation plans from Indonesia and Malaysia have advantages and disadvantages to their economy and socioeconomic conditions. It is expected that this study contributes both theoretically and practically to the field of socioeconomic well-being in both countries. Keywords: Covid-19, Socioeconomic Wellbeing, Mitigation Policy, Malaysia, Indonesia
Analisis Dampak Implementasi PSAK 72 Terhadap Kinerja Keuangan pada Perusahaan Manufaktur di Indonesia Rafrini Amyulianthy; Theresya Indah Rahmat; Mira Munira
JRAP (Jurnal Riset Akuntansi dan Perpajakan) Vol 9 No 2 (2022)
Publisher : Magister Akuntansi Universitas Pancasila

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35838/jrap.2022.009.02.13

Abstract

ABSTRACT This study aims to determine how the impact of the implementation of PSAK 72 on the financial performance of manufacturing companies. Statement of Financial Accounting Standards (PSAK) 72 regarding Revenue from Contracts with Customers. This research was conducted on manufacturing companies in the industrial sector because it was considered as one of the sectors that was significantly affected by the change from PSAK 23 to PSAK 72. The variables used in this study were PSAK 72, Current Ratio, Debt to Asset Ratio, Net Profit Margin, and Price to Earning Ratio. The analysis of this research uses quantitative descriptive analysis techniques with the help of SPSS analysis tools and purposive sampling sampling techniques in industrial sector manufacturing companies listed on the Indonesia Stock Exchange. The research sample companies are 92 companies with an observation period of 2019 – 2020. The results show that the implementation of PSAK 72 has a significant impact on the financial performance of manufacturing companies in the industrial sector and PSAK 72 presents financial statements that are more transparent so that it has a positive impact on investor decision making. as well as companies. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana dampak implementasi PSAK 72 terhadap kinerja keuangan perusahaan manufaktur. Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) 72 mengenai Pendapatan dari Kontrak dengan Pelanggan. Penelitian ini dilakukan pada perusahaan manufaktur sektor industri karena dinilai sebagai salah satu sektor yang terdampak cukup signifikan atas perubahan PSAK 23 menjadi PSAK 72. Variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah PSAK 72, Current Ratio, Debt to Asset Ratio, Net Profit Margin, dan Price to Earning Ratio. Analisis penelitian ini menggunakan teknik analisis deskriptif kuantitatif dengan SPSS dan teknik pengambilan sampel purposive sampling pada perusahaan manufaktur sektor industri yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Perusahaan yang menjadi sampel penelitian berjumlah 92 perusahaan dengan periode observasi 2019 – 2020. Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi PSAK 72 memberikan dampak yang signifikan pada kinerja keuangan perusahaan manufaktur sektor industri dan PSAK 72 menyajikan laporan keuangan yang lebih transparan sehingga memberikan dampak positif dalam pengambilan keputusan investor maupun perusahaan.
Strategi Pengembangan Pariwisata Kota Cilegon: Peluang & Tantangan Aulia Keiko Hubbansyah; Gunawan Baharuddin; Mira Munira
Jurnal Riset Bisnis Vol. 6 No. 2 (2023): April
Publisher : Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Pancasila Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35814/jrb.v6i2.4110

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah memetakan potensi wisata dari beberapa alternatif destinasi wisata di Kota Cilegon, dengan mengidentifikasi masalah utama yang menghambat pengembangan destinasi pariwisata dan merumuskan strategi pengembangan destinasi wisata di Kota Cilegon. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan eksploratif dengan dua pendekatan. Pertama, identifikasi masalah dan solusi pemberdayaan masyarakat, khususnya di daerah yang menjadi lokasi penelitian. Kedua, analisis SWOT. Hasil observasi menilai bahwa Bukit Teletubbies memiliki nilai komersial yang lebih tinggi dibandingkan Gua Jepang dan Makam Syekh Djamaluddin. Dari puncak Bukit dapat dilihat pemandangan Selat Sunda dan pesisir laut yang indah. Selain itu, banyak aktivitas wisata yang mungkin dilakukan, mulai dari hiking, camping, hingga melihat sunset. Berdasarkan pendekatan MAAMS diidentifikasi beberapa faktor permukaan yang membuat belum optimalnya Bukit Teletubbies sebagai destinasi wisata di kota Cilegon. Munculnya faktor-faktor ini dikarenakan belum adanya program pendampingan dan pemberdayaan warga, keterbatasan modal pemilik lahan, wilayah menuju lokasi yang dipadati oleh pemukiman warga, serta kurangnya literasi SDM pengelola objek wisata atas berbagai aspek manajerial dan teknologi. Akar dari permasalahan ini, berdasarkan analisis MAAMS, adalah kurangnya alokasi anggaran pemerintah daerah untuk pemberdayaan sektor pariwisata.
Rekonstruksi Sistem jaminan Pangan halal: kerangka Konseptual Berbasis Maqāṣid al-Shariah untuk Integrasi Ṭayyib kontemporer Nurul Hilmiyah; Mira Munira; Ameilia Damayanti; Nazwa Safinatus Zingga; Faiz Al Ghani Alamsyah
Jurnal Humaniora, Ekonomi Syariah dan Muamalah Vol. 4 No. 3 (2026): Jurnal Humaniora, Ekonomi Syariah dan Muamalah (Juli - September 2026)
Publisher : Siber Nusantara Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38035/jhesm.v4i3.806

Abstract

Makalah ini mengembangkan kerangka konseptual yang menjelaskan mengapa sertifikasi halal dan jaminan keberlanjutan—meski memiliki asal-usul normatif yang sama dalam perintah Al-Qur’an “ḥalālan ṭayyiban”—telah berkembang menjadi sistem jaminan yang secara struktural tidak kompatibel, serta arsitektur kelembagaan apa yang diperlukan untuk mendamaikan keduanya. Makalah ini bersifat konseptual dan membangun teori. Makalah ini dikemukakan melalui pendekatan problematisasi, bukan sekadar mengidentifikasi celah: makalah ini mengkritisi asumsi yang dianggap lumrah bahwa jaminan halal dan jaminan keberlanjutan adalah instrumen yang saling melengkapi dan dapat ditumpuk satu sama lain. Empat bidang literatur diintegrasikan —maqāṣid al-sharīʿah, teori akuntabilitas Islam, karya neo-institusional tentang decoupling, serta ekonomi barang kepercayaan dan jaminan pihak ketiga—untuk merumuskan kerangka kerja multi-tingkat dan dua belas proposisi yang dapat diuji. Makalah ini memperkenalkan tiga konstruk. Defisit ṭayyib adalah kesenjangan antara atribut kualitas hidup yang secara normatif dituntut oleh ṭayyib dan yang sebenarnya diverifikasi oleh sistem jaminan yang ada. Interoperabilitas jaminan adalah sejauh mana sistem halal dan keberlanjutan berbagi cakupan, dasar bukti, frekuensi audit, dan wewenang sanksi. Materialitas yang diprioritaskan berdasarkan Maqāṣid adalah aturan penetapan prioritas pengungkapan yang menggantikan urutan ḍarūriyyāt > ḥājiyyāt > taḥsīniyyāt sebagai pengganti materialitas keuangan konvensional atau materialitas pemangku kepentingan. Semua ini dirangkum ke dalam kerangka kerja Integrated Ṭayyib Assurance (ITA), sebuah arsitektur empat lapis—normatif, kelembagaan, operasional, dan epistemik—di mana penutupan defisit ṭayyib bergantung secara bersama-sama pada interoperabilitas dan kredibilitas fungsi jaminan, dan di mana interoperabilitas tanpa acuan normatif bersama akan menghasilkan kenaikan biaya tanpa pengurangan defisit. Makalah ini memformulasikan ulang masalah halal–keberlanjutan dari masalah desain indikator menjadi masalah arsitektur jaminan, serta menentukan kondisi batas di mana rezim sertifikasi halal wajib cenderung meningkatkan, alih-alih mengurangi, kepatuhan seremonial