Rika Agustina
Penciptaan dan Pengkajian Seni Institut Seni Indonesia Yogyakarta, Yogyakarta, Indonesia

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Kajian Tradisi Membangun Rumah Adat Kampung Bena, Flores Muchammad Rizky Kadafi; Rika Agustina
DESKOVI : Art and Design Journal Vol 5, No 2 (2022): DESEMBER 2022
Publisher : Universitas Maarif Hasyim Latif

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51804/deskovi.v5i2.2002

Abstract

Tradisi membangun rumah adat di Kampung Bena, Flores tidak sekedar proses mendirikan sebuah hunian melainkan memiliki banyak makna dan nilai yang kaya akan pengetahuan baru didalamnya. Tradisi membangun rumah bagi masyarakat adat merupakan suatu kegiatan yang penuh kesakralan yang secara turun temurun sudah dilakukan oleh leluhur mereka hingga anak cucunya saat ini. Proses membangun rumah adat Kampung Bena terdiri dari puluhan proses ritual yang harus dilakukan dari awal hingga akhir pembangunannya. Hal ini menarik perhatian penulis untuk mengkaji bagaimana tradisi dalam membangun rumah adat Kampung Bena. Kajian ini meliputi bagaimana faktor kepercayaan masyarakat Bena dan faktor material, konstruksi, dan teknologi yang menjadi dasar dalam proses pembangunan rumah adat Bena. Dalam penelitian ini digunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan arsitektur vernakular guna membantu dalam menjawab rumusan masalah secara rinci dan faktual. Teori alternative theories of house form oleh Amos Rapoport (1969) digunakan sebagai pisau bedah pada kajian ini.Hasil yang diperoleh pada kajian ini adalah Rumah adat kampung Bena tidak hanya sekedar mampu dipahami selaku ekspresi dan artefak budaya masyarakat hukum setempat, melainkan nilai-nilai, representasi dan jiwa yang terdapat di dalamnya. Masyarakat Bena bertaut teguh pada kehadiran daya-daya transenden roh leluhur yang dikenal dengan Mori Ga’e. Setidaknya ada 17 tahapan ritual atau upacara adat yang wajib dilaksanakan pada metode mendirikan rumah adat bagi masyarakat Bena. Hal ini dibuat agar mewujudkan keharmonian dan menjauhi bencana atau musibah dari daya transendental tersebut. 
Kajian Tradisi Membangun Rumah Adat Kampung Bena, Flores Muchammad Rizky Kadafi; Rika Agustina
DESKOVI : Art and Design Journal Vol. 5 No. 2 (2022): DESEMBER 2022
Publisher : Universitas Maarif Hasyim Latif

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51804/deskovi.v5i2.2002

Abstract

Tradisi membangun rumah adat di Kampung Bena, Flores tidak sekedar proses mendirikan sebuah hunian melainkan memiliki banyak makna dan nilai yang kaya akan pengetahuan baru didalamnya. Tradisi membangun rumah bagi masyarakat adat merupakan suatu kegiatan yang penuh kesakralan yang secara turun temurun sudah dilakukan oleh leluhur mereka hingga anak cucunya saat ini. Proses membangun rumah adat Kampung Bena terdiri dari puluhan proses ritual yang harus dilakukan dari awal hingga akhir pembangunannya. Hal ini menarik perhatian penulis untuk mengkaji bagaimana tradisi dalam membangun rumah adat Kampung Bena. Kajian ini meliputi bagaimana faktor kepercayaan masyarakat Bena dan faktor material, konstruksi, dan teknologi yang menjadi dasar dalam proses pembangunan rumah adat Bena. Dalam penelitian ini digunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan arsitektur vernakular guna membantu dalam menjawab rumusan masalah secara rinci dan faktual. Teori alternative theories of house form oleh Amos Rapoport (1969) digunakan sebagai pisau bedah pada kajian ini.Hasil yang diperoleh pada kajian ini adalah Rumah adat kampung Bena tidak hanya sekedar mampu dipahami selaku ekspresi dan artefak budaya masyarakat hukum setempat, melainkan nilai-nilai, representasi dan jiwa yang terdapat di dalamnya. Masyarakat Bena bertaut teguh pada kehadiran daya-daya transenden roh leluhur yang dikenal dengan Mori Ga’e. Setidaknya ada 17 tahapan ritual atau upacara adat yang wajib dilaksanakan pada metode mendirikan rumah adat bagi masyarakat Bena. Hal ini dibuat agar mewujudkan keharmonian dan menjauhi bencana atau musibah dari daya transendental tersebut.