Fabiola B. Saroinsong
Universitas Sam Ratulangi

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Analysis of Honey Bee Business Income, Tandung Billa Farmers Group, Palopo City Fabiola B. Saroinsong; Yusfita Floria Rama; Hengki D. Walangitan
Jurnal Agroekoteknologi Terapan Vol. 3 No. 2 (2022): EDISI JULI-DESEMBER 2022
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35791/jat.v3i2.44522

Abstract

This study aims to describe the management of honey bees and analyze the income of honey bees managed by farmer groups. The method used is observation and interviews. The cost-of-income analysis uses the assumptions: (1) honey bee business revenues during 2021, (2) calculated costs include maintenance, harvesting and packaging costs, (3) costs that have been incurred in the past (sunk costs) before 2021 are not taken into account. The results showed that honey production was not harvested every month and not all stup were harvested simultaneously because it depended on the availability of feed, during the spring it could be done up to 3 times/month while during the non-flowering season harvesting was only done once in 2 months. The number of stups per harvest is 3-4 stups, the amount of production per stup is 1-2 liters, the total production based on group production data is ± 205-210 liters/year. Furthermore, honey products are packaged in 2 different types of packaging, namely 80 ml packaging with a selling price of Rp. 25,000/bottle and 525 ml packaging with a selling price of Rp. 150,000/bottle, average sales in 2021 of 150-200 liters. Based on the results of the analysis, it was found that the production cost of Rp. 29,650,000/year with an income of Rp. 61,650,000/year, thus the net income of the farmer group in the farmer group is Rp. 32,000,000 with a benefit cost ratio of 1.1. Keywords: honey, income, community forestry Abstrak Penelitian bertujuan untuk mendeskripsikan pengelolaan lebah madu dan menganalisis pendapatan lebah madu yang dikelola kelompok tani. Metode yang digunakan adalah observasi dan wawancara. Analisis biaya pendapatan menggunakan asumsi: (1) penerimaan usaha lebah madu selama tahun 2021, (2) biaya yang diperhitungkan mencangkup biaya pemeliharaan, pemanenan dan pengemasan, (3) biaya yang sudah dikeluarkan pada masa lalu (sunk cost) sebelum tahun 2021 tidak diperhitungkan. hasil penelitian menunjukkan bahwa produksi madu tidak setiap bulan dipanen dan tidak semua stup dipanen bersamaan karena tergantung dari ketersediaan pakan, saat musim bunga bisa dilakukan sampai 3 kali/bulan sedangkan saat tidak musim bunga pemanenan hanya dilakukan 1 kali dalam 2 bulan. Jumlah stup per panen sebanyak 3-4 stup, jumlah produksi per stup 1-2 liter, total produksi berdasarkan data produksi kelompok sebesar ± 205-210 liter/tahun. Selanjutnya produk madu dikemas dalam 2 jenis kemasan yang berbeda yaitu kemasan 80 ml dengan harga jual Rp 25.000/botol dan kemasan 525 ml dengan harga jual Rp. 150.000/botol, rata-rata penjualan tahun 2021 sebanyak 150-200 liter. Berdasarkan hasil analisis diperoleh bahwa biaya produksi sebesar Rp. 29.650.000/tahun dengan penerimaan sebesar Rp. 61.650.000/tahun dengan demikian pendapatan bersih kelompok tani dalam kelompok tani sebesar yaitu sebesar Rp. 32.000.000 dengan benefit cost ratio 1,1. Kata Kunci: madu, pendapatan, hutan kemasyarakatan
PENYULUHAN PENGELOLAAN LANSKAP PEMUKIMAN BERBASIS KEANEKARAGAMAN HAYATI DI KELURAHAN WINANGUN DUA KECAMATAN MALALAYANG KOTA MANADO Fabiola B. Saroinsong; Maria Y. M. A. Sumakud; Josephus I. Kalangi; Wawan Nurmawan
Jurnal Dinamika Pengabdian Vol. 11 No. 2 (2026): JURNAL DINAMIKA PENGABDIAN VOL. 11 NO. 2 JANUARI 2026
Publisher : Departemen Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian UNHAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20956/jdp.v11i2.48401

Abstract

Mitra Program Kemitraan Masyarakat (PKM) ini adalah masyarakat Kelurahan Winangun Dua Kecamatan Malalayang Kota Manado. Masalah mitra adalah ancaman menurunnya keanekaragaman hayati dalam lanskap pemukiman akibat terbatasnya ruang terbuka hijau (RTH) dan tingginya stres lingkungan diantaranya yang disebabkan polusi. Hal ini terkait juga dengan masih rendahnya pengetahuan dan keterampilan yang memadai mengenai pemanfaatan keanekaragaman hayati dalam lanskap pemukiman.  Tujuan pelaksanaan kegiatan PKM ini yaitu memberikan penyuluhan kepada masyarakat tentang pengelolaan lanskap pemukiman yang tepat untuk melestarikan sekaligus memanfaatkan keanekaragaman hayati. Solusi yang ingin dicapai adalah 1) meningkatkan pengetahuan beragam vegetasi dan desain lanskap pemukiman kawasan perkotaan untuk mendukung keanekaragaman hayati dan meningkatkan apresiasi dan motivasi untuk berkontribusi (luarannya adalah perbaikan tata nilai masyarakat yaitu pendidikan) dan 2) meningkatkan keterampilan pemanfaatan dan pelestarian keanekaragaman hayati di lanskap pemukiman dengan memberikan demo beberapa tindakan praktis pemilihan vegetasi dan aplikasi desain lanskap pemukiman (luarannya adalah peningkatan penerapan IPTEK di masyarakat dalam hal ini manajemen). Lebih spesifik lagi, melalui penyuluhan Tim Pengusul memperkenalkan beragam vegetasi dan desain lanskap yang cocok untuk pemukiman perkotaan. Pelaksanaan penyuluhan dalam PKM ini terdiri dari ceramah, tanya jawab, dan demonstrasi dengan pelibatan peserta secara langsung. Secara lebih terperinci, tahapan pelaksanaan kegiatan penyuluhan yaitu : a) Tahap peningkatan kesadaran (awareness); b) Tahap peningkatan minat (interest); c) Tahap peningkatan kemampuan menilai (evaluation); d) Tahap stimulasi untuk mencoba (trial). Kegiatan PKM ini memberikan dampak positif berupa meningkatnya pengetahuan, kesadaran, dan keterampilan masyarakat dalam pengelolaan lanskap pemukiman yang mendukung pelestarian keanekaragaman hayati.    Kata kunci: Keanekaragaman hayati, lanskap pemukiman, pendidikan lingkungan, pengelolaan lanskap, penyuluhan.   ABSTRACT The community partner for this Community Partnership Program (PKM) is the residents of Winangun Dua Village, Malalayang District, Manado City. The partner's issue revolves around the threat of declining biodiversity in residential landscapes due to limited green open spaces (RTH) and high environmental stress, including pollution. This is also related to the still low level of adequate knowledge and skills concerning the utilization of biodiversity in residential landscapes. The objective of this PKM activity is to provide education to the community on the proper management of residential landscapes to conserve and utilize biodiversity. The solutions aimed to be achieved are 1) increasing knowledge of various vegetations and urban residential landscape design to support biodiversity and enhance appreciation and motivation to contribute (the outcome being the improvement of societal values, namely education), and 2) enhancing skills in utilizing and conserving biodiversity in residential landscapes by providing demonstrations of practical actions in selecting vegetation and applying residential landscape design (the outcome being the increase in the application of science and technology in the community, specifically in management). More specifically, through educational outreach, the Proposing Team will introduce various vegetation and landscape designs suitable for urban residential areas. The implementation of educational outreach in this PKM involves lectures, question-and-answer sessions, and demonstrations that engage participants directly. The detailed stages of the educational outreach activities are a) Awareness-raising stage; b) Interest enhancement stage; c) Evaluation skill improvement stage; d) Trial stimulation stage. Keywords: Biodiversity, residential landscape, environmental education, landscape management, outreach.