Claim Missing Document
Check
Articles

Found 10 Documents
Search

Pandangan Orang Tua Anak Usia Dini Terhadap Bullying atau Perundungan Dwiyani Anggraeni; Azimatur Rahmi
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 6 No. 2 (2022): Agustus 2022
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (413.598 KB)

Abstract

Setiap anak dilahirkan dengan doa dan harapan dari kedua orang tua. Seiring dengan pertambahan usia anak maka anak memasuki jenjang pendidikan sekolah untuk mempersiapkan masa depan anak kelak. Di sekolah tidak jarang banyak masalah dialami oleh anak. Kasus terberat yang mungkin dihadapi anak adalah kasus bullying. Bullying adalah suatu prilaku agresif yang hendak merusak, mengganggu dan membahayakan kondisi fisik dan emosional anak. Tujuan dari bullying adalah mendominasi kekuasaan atas diri anak. Akibat dari kasus bullying sangat menimbulkan trauma mendalam pada diri anak korban bullying.Anak dikatakan sebagai korban bullying apabila anak tersebut mengalami prilaku yang tidak menyenangkan dari seseorang atau sekelompok orang secara terus menerus atau dalam kurun waktu berbeda. Korban bullying adalah anak yang memiliki self esteem rendah sehingga mudah merasa panik, cemas dan takut, sedangkan pelaku bullying adalah anak dengan prilaku agresif, sulit menerima rasa frustasi dan kurang memiliki empati kepada orang lain. Salah satu faktor pembentuk karakter bullying pada anak adalah pola asuh orang tua. Orang tua atau keluarga yaitu ayah dan ibu yang terikat dalam pernikahan yang sah yang memiliki tanggung jawab merawat dan mendidik anak agar kelak siap memasuki dunia masyarakat. Orang tua diharapkan dapat memberikan contoh yang baik kepada anak.Fokus penilitian ini adalah melihat sejauh mana pandangan dan pemahaman orang tua terhadap Bullying. Penelitian ini adalah penelitian Deskriptif Kuantitatif dengan metode angket.Populasi pada penelitian ini adalah orang tua TK Budi Mulia Lourdes. Hasil dari penelitian diperoleh bahwa orang tua anak usia dini sudah memiliki pemahaman mengenai prilaku bulliying, sudah menjelaskan kepada anak mengenai bulliying, siap menolong anak yang mengalami bulliying, orang tua menyadari bahwa bulliying dapat terjadi di jenjang anak usia dini dan akan menimbulkan trauma yang mendalam pada anak, namun ada beberapa orang tua yang belum memahami bentuk prilaku bulliying serta orang tua percaya bahwa pelaku bullying tidak berkaitan dengan pembiasaan prilaku yang Nampak pada anak di rumah.
Pengaruh Dongeng terhadap Pendidikan Karakter Anak Usia Dini Dwiyani Anggraeni; Syawalia Rafiyanti
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 6 No. 1 (2022): April 2022
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (147.381 KB)

Abstract

Setiap anak dilahirkan dengan memiliki potensi masing-masing.Potensi dapat berupa faktor turunan dan faktor pembiasaan. Penelitian ini akan membahas mengenai cara pengembangan karakter dengan menanamkan karakter positif sejak usia dini melalui mendongeng. Dongeng adalah suatu cerita uang berupa tulisan atau lisan yang disampaikan secara turun temurun selama berabad-abad dari generasi ke generasi selanjutnya sebagai alat komunikasi. Pendidikan karakter adalah suatu sistem keadaan yang dengan sengaja diciptakan di sekolah, dengan beberapa komponen penanaman moral, etika dan akhlak yang berisi pengetahuan, kesadaran dan tindakan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, orang lain, lingkungan dan bangsa. Penelitian ini menggunakan penelitian deskriptif kuantitatif. Populasi pada penelitian ini adalah para guru KB Kurnia. Hasil yang diperoleh dari hasil kuesioner Pengaruh Dongeng terhadap Pendidikan Karakter Anak Usia Dini memperoleh hasil yang sangat positif, guru PAUD masa masa sekarang masih memiliki pandangan bahwa metode mendongeng merupakan metode pembelajaran yang baik untuk mengembangkan kemampuan berbahasa dan menanamkan nilai-nilai positif yang baik kepada para siswa, para guru PAUD juga sudah menggunakan metode mendongeng dengan alat dan tanpa alat. Hanya masih terdapat beberapa pendapat dari para guru PAUD bahwa guru belum yakin dongeng dapat mengubah sikap negatif pada siswa.
Peran Executive Function (Fungsi Eksekutif) terhadap Kesiapan Sekolah: Pemahaman Guru PAUD Muchammad Arif Muchlisin; Ika Juhriati; Dwiyani Anggraeni; Rini Meiwaty; Rini Arbaniyah
Indonesian Journal of Early Childhood: Jurnal Dunia Anak Usia Dini Vol. 5 No. 1 (2023)
Publisher : Universitas Ngudi Waluyo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (717.306 KB) | DOI: 10.35473/ijec.v5i1.2185

Abstract

Previous research discussed teachers' understanding of the role of the executive function in learning mathematics, reading, arithmetic, and those with neurological disorders. The focus of this research is to explore teachers' understanding of the role of the executive function on school readiness. A quantitative approach is applied in this study with a survey model. A total of 95 teachers of Early Childhood Education (PAUD) in Bekasi and Klaten Regencies participated in filling out the questionnaire. Data was collected using a questionnaire instrument by considering several literatures. Research data analysis was assisted by the SPSS version 25 program to present data descriptively, then analyzed by One-Way ANOVA, Two-Way ANOVA and independent sample t tests. The first finding indicates that PAUD teachers consider the role of the executive function for school readiness to be quite important. Then, this understanding is not related to the teacher's years of teaching experience. In addition, teachers who know about executive functions differ significantly from teachers who do not know about executive functions. The implications of these findings are discussed. ABSTRAK Penelitian sebelumnya membahas tentang pemahaman guru terhadap peran fungsi eksekutif terhadap pembelajaran matematika, membaca, aritmatika, dan dengan gangguan neurologis. Fokus penelitian ini adalah untuk mengeksplorasi pemahaman guru tentang peran fungsi eksekutif terhadap kesiapan sekolah. Pendekatan kuantitatif diterapkan dalam studi ini dengan model survei. Sebanyak 95 guru Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) di Kabupaten Bekasi dan Klaten berpartisipasi untuk mengisi kuesioner. Data dikumpulkan menggunakan instrumen kuesioner dengan mempertimbangkan beberapa literatur. Analisis data penelitian dibantu dengan program SPSS versi 25 untuk menyajikan data secara deskriptif, kemudian dianalisis dengan uji One-Way ANOVA, Two-Way ANOVA dan independent sample t test. Temuan pertama mengindikasikan bahwa Guru PAUD menganggap peran fungsi eksekutif untuk kesiapan sekolah tergolong cukup penting. Kemudian, pemahaman ini tidak berhubungan dengan tahun pengalaman mengajar guru. Selain itu, guru yang mengetahui tentang fungsi eksekutif jauh berbeda secara signifikan dibandingkan dengan guru yang tidak tahu tentang fungsi eksekuitf. Implikasi dari temuan ini dibahas.
Gaya Pengasuhan yang Sesuai untuk Anak Usia Dini Pada Generasi Alpha Dwiyani Anggraeni; Ika Juhriati
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 7 No. 1 (2023): April 2023
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Setiap anak usia dini sejak dilahirkan ke dunia memerlukan pendampingan dari orang dewasa di sekitar anak khususnya orang tua. Orang tua memiliki tanggung jawab dan kewajiban untuk menjaga, merawat, mendidik dan melindungi anak-anak mereka dengan baik sampai anak tersebut dewasa dan memiliki kemandirian untuk hidup sendiri dari orang tua. Secara garis besar orang tua yang akan mendampingi anak hampir di seluruh kehidupan anak dari usia dini hingga dewasa. tingkat Pendidikan akan mempengaruhi pola piker dan kebiasaan orang tua dalam mengasuh anak. Pendidikan juga akan mempengaruhi penerimaan informasi baru mengenai pengasuhan anak. factor yang mempengaruhi pengasuhan orang tua adalah : etnis budaya ( kebiasaan suatu suku atau etnis seringkali memberikan pandangan mengenal pengalaman dan tradisi yang harus dilakukan dalam mengasuh anak ), budaya ( adat dan tradisi pengasuhan yang dipegang oleh masing-masing budaya yang berbeda akan mempengaruhi dalam gaya pengasuhan anak ) dan tingkat sosial ekonomi orang tua ( tingkat Pendidikan orang tua, tingkat stress yang dihadapi oran tua , hubungan antar suami istri dan tingkat ekonomi keluarga ).Generasi Alpha adalah anak-anak yang terlahir dengan pemahaman yang tinggi terhadap penggunaan teknologi digital. factor yang mempengaruhi pengasuhan orang tua adalah : etnis budaya ( kebiasaan suatu suku atau etnis seringkali memberikan pandangan mengenal pengalaman dan tradisi yang harus dilakukan dalam mengasuh anak ), budaya ( adat dan tradisi pengasuhan yang dipegang oleh masing-masing budaya yang berbeda akan mempengaruhi dalam gaya pengasuhan anak ) dan tingkat sosial ekonomi orang tua ( tingkat Pendidikan orang tua, tingkat stress yang dihadapi oran tua , hubungan antar suami istri dan tingkat ekonomi keluarga ).Generasi Alpha adalah anak-anak yang terlahir dengan pemahaman yang tinggi terhadap penggunaan teknologi digital. Penelitian ini menggunakan Metodologi dalam penelitian ini adalah metode Deskriptif Kuantitatif..Hasil dari penelitian ini mendeskripsikan bahwa orang tua anak usia dini perlu menerapkan pola pengasuhan disiplin demokrasi, di mana orang tua harus menjalin komunikasi dan interaksi yang baik dengan anak mereka sehingga anak usia dini generasi alpha dapat menggunakan teknologi dengan baik dan bermanfaat bagi hidup mereka.
Pengabdian Masyarakat Pelatihan Design Pembelajaran Anak Usia Dini Berbasis Kurikulum Merdeka Belajar PAUD Dwiyani Anggraeni; Azimatur Rahmi; Ika Juhriati; Asral Asral
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 7 No. 2 (2023): Agustus 2023
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) dilaksanakan dalam rangka meningkatkan kualitas pendidikan pada Lembaga anak usia dini. Berdasarkan hasil pengamatan di lapangan beberapa fakta diperoleh bahwa kondisi dan keadaan kelas pada Lembaga pendidikan anak usia dini di cikarang masih bersifat sederhana dan belum mengembangkan kreativitas dari pendidik sehingga suasana kelas terlihat monoton dan tidak marik perhatian anak sehingga hasil pembelajaran tidak mencapai hasil pembelajaran yang diharapkan. Dalam rangka mengembangkan kualitas dan hasil pembelajaran anak usia dini, maka kami melaksanakan kegiatan pengabdian dengan judul kegiatan “Pelatihan Design Pembelajaran Anak Usia Dini berbasis Kurikulum Merdeka Belajar PAUD “.Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat ini diarahkan kepada memberikan pelatihan kepada para guru anak usia dini agar dapat menciptakan berbagai design pembelajaran dan mengembangkan serta membuat dekorasi kelas anak usia dini yang edukatif dan menarik minat anak usia dini sehingga tujuan pembelajaran dapat mencapai hasil yang maksimal.
PERANAN PEMBELAJARAN BERBASIS BUDAYA TERHADAP PERKEMBANGAN SIKAP EMPATI PADA ANAK USIA 5-6 TAHUN Dwiyani Anggraeni; Muhammad Cholid; Putri Ayu Nurkholik
Al-ATHFAL: Jurnal Pendidikan Anak Vol. 6 No. 4 (2025): Oktober
Publisher : LPPM IAD Probolinggo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46773/q8cwwr40

Abstract

Education plays a crucial role in introducing culture to children from an early age and developing cultural insights as part of character building. Observations at Bina Pelita Global Kindergarten revealed that children were less interested in learning Sundanese folk songs because local cultural learning was not yet a focus of learning activities. This condition led to low interest and motivation in Sundanese culture. This study aims to analyze the role of local culture-based learning in developing empathy skills in children aged 5–6 years. Local culture-based learning is designed to help children recognize, understand, develop, and preserve cultural values ​​in their surroundings. Empathy is a child's ability to understand and feel the emotions of others, enabling them to demonstrate concern in everyday life. This study used qualitative methods with data collection techniques such as observation, interviews, and documentation. Data analysis was carried out through data reduction, data presentation, and conclusion drawing. The results show that local culture-based learning can improve children's empathy skills. Therefore, teachers and parents need to consistently instill local cultural values ​​as an effort to develop empathy from an early age.
UPAYA GURU MENANGGULANGI DYSARTHRIA MELALUI METODE BERNYANYI PADA KELOMPOK BERMAIN Dwiyani Anggraeni
Al-ATHFAL: Jurnal Pendidikan Anak Vol. 5 No. 2 (2024): Desember
Publisher : LPPM IAD Probolinggo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46773/wkzx4493

Abstract

Children aged 4–6 years are in the preschool stage, which is a crucial period in language development. At this stage, children's language skills develop rapidly, marked by increased fluency and vocabulary. However, disorders in this system can cause obstacles to language development, one of which is dysarthria. Dysarthria is a speech disorder that affects articulation skills, making it difficult for others to understand what the sufferer says. This condition can hinder communication and impact children's self-confidence and social skills. This study aims to describe the use of singing methods to help overcome dysarthria in early childhood. The method used is a qualitative descriptive study with data collection techniques in the form of observation, interviews, and documentation. The singing method was chosen because it can provide enjoyable stimulation and train children's articulation, pronunciation, and speech motor coordination skills. The results of the study indicate that the application of the singing method can help improve the speech skills of children with dysarthria. Through singing activities, children become more active, confident, and able to pronounce words more clearly. Thus, the singing method can be an effective learning alternative to help overcome dysarthria in early childhood.
Keterlibatan Ayah dalam Pengasuhan Anak Usia Dini dan Implikasinya terhadap Program Parenting PAUD: Penelitian Gina Asri Ruwaida; Mariana Panji Ramadan; Dwiyani Anggraeni; Eka Wahyuni
Jurnal Pustaka Cendekia Pendidikan Vol. 2 No. 3 (2025): Jurnal Pustaka Cendekia Pendidikan, Volume 2 Nomor 3, Januari - April 2025
Publisher : PT PUSTAKA CENDEKIA GROUP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70292/jpcp.v2i3.505

Abstract

Keterlibatan ayah merupakan aspek penting dalam pengasuhan dan perkembangan anak usia dini, tetapi program parenting di lembaga PAUD sering kali masih menempatkan ibu sebagai peserta utama. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk, makna, tantangan, dan implikasi keterlibatan ayah dalam pengasuhan anak usia dini terhadap pengembangan program parenting PAUD. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Data dikumpulkan melalui wawancara semi-terstruktur, catatan observasi, dan dokumentasi yang berkaitan dengan komunikasi keluarga dan lembaga PAUD. Data dianalisis melalui reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keterlibatan ayah tampak dalam beberapa bentuk, yaitu kehadiran emosional, interaksi bermain, dukungan disiplin, pendampingan belajar, keterlibatan dalam rutinitas harian, dan komunikasi dengan guru. Namun, keterlibatan ayah dipengaruhi oleh tuntutan pekerjaan, kelelahan, anggapan budaya bahwa pengasuhan lebih banyak menjadi tanggung jawab ibu, serta terbatasnya kegiatan parenting yang secara khusus melibatkan ayah. Penelitian ini menyarankan agar program parenting PAUD dikembangkan secara lebih inklusif terhadap ayah melalui jadwal yang fleksibel, kegiatan praktik ayah-anak, diskusi kasus pengasuhan, dan strategi komunikasi yang secara aktif mengundang partisipasi ayah.
Pelatihan Pengembangan Pendidikan Karakter di Jenjang PAUD untuk Menuju Generasi Emas Dwiyani Anggraeni; Azimatur Rahmi; Abdi Chairul
Jurnal Pengabdian Masyarakat (ABDIRA) Vol 6, No 2 (2026): Abdira
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/abdira.v6i2.1856

Abstract

Education of character building is the most important things for early childhood education. Education of character not only about knowledge but must include morality value to develop a good human character. Education character goals for early childhood education are to make stakeholder child to ready for enter the work activity when their grow up. This training would do at Bimba Rainbow Kids at Cikarang Selatan. The goals of this training to prepare and practice all teachers at early childhood to manage and create education character programs with daily habits and life character practice in classroom activity. This training is give to all teachers at Bimba Rainbow Kids. The Training result early childhood education teachers have knowledge and ability to create and manage characters programs for students, students have a good progress to develop good characters and knowledge of morality value and can control and manage emosional self.
Pelatihan Desain Media Komputasional Interaktif bagi Guru PAUD Desa Cikarang untuk Penguatan Karakter Yossi Srianita; Dwiyani Anggraeni; Siti Juariah; Nina Amalia Putri
Jurnal Pengabdian Masyarakat (ABDIRA) Vol 6, No 4 (2026): Abdira
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/abdira.v6i4.2294

Abstract

Early Childhood Education (PAUD) teachers play a crucial role in shaping children's character through creative and meaningful learning processes. However, utilizing digital technology as an interactive learning medium remains a challenge for some PAUD teachers, particularly in rural areas. This community service initiative aims to enhance the competence of PAUD teachers in Cikarang Village regarding the design of interactive computational media that supports character building in early childhood. The implementation method encompasses needs assessment, content delivery, training on media design applications, hands-on media creation, mentoring, and evaluation of training outcomes. PAUD teachers participated actively in every stage of the training. The results demonstrate an improvement in participants' understanding of interactive computational media concepts and their ability to produce engaging, user-friendly learning media that integrate character values such as discipline, responsibility, cooperation, honesty, and caring. This training contributes to enhancing teachers' digital competence while fostering the implementation of learning practices that are more innovative, effective, and child-centered. Consequently, this initiative serves as a strategic effort to support character building through technology-based early childhood education.