Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Optimalisasi Pembelajaran Melalui Peningkatan Kompetensi Guru Dalam Mendesain Model, Metode, dan Media yang Inovatif, Kreatif, Komunikatif-Interaktif dan Menyenangkan Di PAUD/TK Kamboja Berseri 01 Wilayah Binaan Jakarta Nur Aeni Marta; Mindarto; Djunaidi Djunaidi; Sri Martini; Ratu Husmiati; Atikah Afrizal; Widya Putri
Satwika: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 2 No 2 (2022): SATWIKA: Volume 2, Number 2, December 2022
Publisher : Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21009/satwika.020205

Abstract

Artikel ini merupakan hasil dari kegiatan pengabdian kepada masyarakat civitas akademika prodi Pendidikan Sejarah FIS UNJ. Kegiatan ini merupakan bagian dari bentuk nyata peran serta FIS UNJ dalam membina dan membimbing guru yang kompeten dan professional. Tujuan workshop pelatihan ini adalah meningkatkan kompetensi guru guru PAUD Kamboja Berseri RW 01 Kelurahan Kampung Makasar, Jakarta Timur. Guru-guru PAUD ini menajdi pengajar di sekolah tersebut belum memiliki kompetensi sesuai dengan UU N0.20 tahun 2003 tentang Kompetensi Guru dan Dosen. Mereka secara umum adalah lulusan SMA/SMK, sehingga kurang memahami pedagogik untuk usia dini. Guru PAUD seharusnya memiliki kemampuan mengembangkan model pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan siswa, termasuk mampu mengembangkan media yang interaktif dan menyenangkan. Guru merupakan kunci keberhasilan proses kegiatan pembelajaran. Dalam rangka Peningkatan dan pembinaan guru PAUD, agar mampu mendidik anak-anak usia Dini, menjadi anak yang memiliki kompetensi yang seimbang antara intelektual, fisikal, emosional dan spiritual sehingga tumbuh menjadi anak yang tidak hanya memiliki kecerdasan hardskill tetapi juga softskill.
Tjileungsi pada Masa Perang Revolusi (1946-1949) Tomas Bagasgoro Tamba; Nur'aeni Marta; Sri Martini
Jurnal Pattingalloang Vol. 9 No. 3 Desember 2022
Publisher : Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26858/jp.v9i3.34488

Abstract

Penelitian skripsi ini bertujuan untuk menjelaskan keadaan Tjileungsi pada masa perang revolusi 1946-1949. Metode penelitian yang digunakan dalam kajian ini adalah metode sejarah, yaitu yang terdiri dari pemilihan topik, heuristik, verifikasi atau kritik sumber, interpretasi dan historiografi. Dalam tahap heuristik, peneliti mengumpulkan sumber penulisan baik sumber primer seperti tulisan Arsip Kementrian Penerangan 1945-1949, dan juga sumber sekunder seperti buku yang berkaitan dengan Tjileungsi. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa telah terjadi peristiwa perang revolusi dengan melibatkan rakyat di daerah Tjileungsi. Rakyat yang berjuang saat itu menggunakan senjata perang seadanya yaitu bambu runcing, golok, dan parang. Atas dasar kemerdekaan rakyat berjuang bersama-sama. Rakyat yang bergerak tidak memiliki pemimpin dan secara spontan inisiatif menjaga Tjileungsi dari NICA karena jauhnya markas komando Siliwangi yang terletak di Tjibinong, jadi wilayah Tjileungsi kurang terjangkau keamanannya oleh pasukan Siliwangi. Daerah Tjileungsi terdapat salah satu pejuang dari rakyat yang masih hidup sampai saat ini yang ikut dalam membela kemerdekaan dan mempertahankannya dari tangan penjajah. Salah satu pejuang rakyat yang masih hidup hingga saat ini dan menyandang status veteran.Kata Kunci: Perang Revolusi, Tjileungsi. AbstractThis thesis research aims to explain the situation of Tjileungsi during the revolutionary war of 1946-1949. The research method used in this study is the historical method, which consists of topic selection, heuristics, verification or source criticism, interpretation and historiography. In the heuristic stage, the researcher collects sources of writing, both primary sources such as the 1946-1949 Archives of the Ministry of Information, and also secondary sources such as books related to Tjileungsi. The results of this study indicate that a revolutionary war has occurred involving the people in the Tjileungsi area. The people who fought at that time used makeshift weapons of war, namely sharpened bamboo, machetes and cleavers. On the basis of independence, the people fought together. The people who moved did not have a leader and spontaneously took the initiative to guard Tjileungsi from NICA because the Siliwangi command headquarter was far away, which was located in Tjibinong, so the security of the Tjileungsi area is less accessible to the Siliwangi troops. The Tjileungsi area has one of the fighters from the people who is still alive today who participated in defending independence and defending it from the hands of the invaders. One of the people’s fighters who is still alive today and holds the status of a veteran.Keywords: Revolutionary War, Tjileungsi.