Yuli Darwati
Prodi Psikologi Islam, Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kediri

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Perilaku Cheating Mahasiswa Psikologi Islam Stain Kediri Angkatan 2013 Dalam Ujian Akhir Semester Mochammad Faqih Sholahudin; Robingatun; Yuli Darwati
Happiness (Journal of Psychology and Islamic Science) Vol. 1 No. 1 (2017)
Publisher : Program Studi Psikologi Islam (IAIN) Kediri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1387.487 KB) | DOI: 10.30762/happiness.v1i1.328

Abstract

Perilaku cheating merupakan salah satu fenomena yang sering muncul di dalam dunia pendidikan. Cheating bisa diartikan sebagai bentuk perilaku moral yang menunjukkan ketidakjujuran siswa pada saat mengikuti evaluasi. Fenomena tersebut juga terjadi pada mahasiswa STAIN Kediri angkatan 2013, padahal mereka sudah mendapatkan mata kuliah mengenai pentingnya kejujuran. Oleh karenanya, penelitian ini dilakukan guna mengetahui mengapa mahasiswa Psikologi Islam STAIN Kediri angkatan 2013 melakukan perilaku cheating dalam ujian akhir semester dan bagaimana bentuk perilaku cheating tersebut. Penelitian ini menggunakan sebuah pendekatan kualitatif, dengan jenis penelitian menggunakan studi kasus. Subjek penelitian ini ada 9 orang mahasiswa dari progam studi Psikologi Islam STAIN Kediri angkatan 2013. Teknik pengumpulan data menggunakan observasi, wawancara, dan dokumentasi. Penelitian ini menggunakan analisis data dengan teknik induktif. Sedangkan untuk pengecekan keabsahan data menggunakan perpanjangan pengamatan, meningkatkan ketekunan, dan triangulasi dalam bentuk sumber. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mahasiswa Psikologi STAIN Kediri angkatan 2013 memiliki beberapa alasan yang mendorongnya untuk melakukan perilaku cheating. Penyebab utama mereka melakukan cheating adalah karena adanya kecemasan yang berlebihan, kurang begitu memiliki motivasi belajar dan berprestasi, ambisius terhadap nilai tinggi, pikiran negatif dan harga diri tinggi. Selain itu, pengawasan yang kurang ketat, regulasi tes yang kurang memadai, termasuk jarak duduk dan sistem blacklist juga mendorong mahasiswa untuk melakukan perilaku cheating. Selain itu, dari penelitian ini juga didapat informasi bahwa subjek melakukan cheating dengan menggunakan HP atau mencontoh jawaban teman.
Penerimaan Diri Remaja Dengan Orang Tua Tunggal Alif Hidayatul Lail; Tasmin; Yuli Darwati
Happiness (Journal of Psychology and Islamic Science) Vol. 1 No. 2 (2017)
Publisher : Program Studi Psikologi Islam (IAIN) Kediri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2036.394 KB) | DOI: 10.30762/happiness.v1i2.330

Abstract

Tidak semua anak bisa menerima bahwa sekarang mereka memiliki orang tua tunggal dan ini bisa mempengaruhi penerimaan diri mereka. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan gambaran penerimaan diri pada remaja yang berasal dari orang tua tunggal dan faktor-faktor yang mempengaruhinya yang tinggal di Dusun Munengkulon Desa Muneng Kecamatan Purwoasri Kabupaten Kediri. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus. Subjek dalam penelitian ada 4 remaja dengan orang tua tunggal dengan rentang usia 12-21 tahun. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah metode wawancara. Hasil dari penelitian ini menyatakan bahwa tiga dari empat remaja dengan orang tua tunggal memiliki penerimaan diri yang positif yang ditunjukkan dengan sikap mempunyai keyakinan untuk menjalani hidup, menganggap dirinya sederajat dengan orang lain, tidak menganggap dirinya aneh, tidak malu dan tidak hanya memperhatikan dirinya, berani memikul tanggungjawab, dan mampu menerima pujian dan celaan. Penerimaan diri positif pada remaja ini muncul pada remaja yang berasal dari orang tua tunggal ayah maupun ibu dan juga pada remaja yang berasal dari orang tua tunggal karena meninggal maupun bercerai. Penerimaan diri pada remaja pada penelitian dipengaruhi oleh pemahaman tentang diri sendiri, adanya harapan yang realistik, sikap anggota masyarakat yang menyenangkan dan pola asuh yang baik di masa kecil. Dan satu remaja menunjukkan sikap yang sebaliknya, ia malu karena hanya memiliki satu orang tua. Hal ini membuatnya menarik diri dari lingkungan sekitar dan kurang mampu menerima saran dan kritik dari orang lain.