Stephanus Liem
Sekolah Tinggi Teologi Soteria Purwokerto

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Konsep Iman Yang Benar: Iman Yang Hidup Di Dalam Roh Dan Bukan Hukum Taurat Menurut Galatia 3:1-5 Yolin Ilo; Stephanus Liem
HARVESTER: Jurnal Teologi dan Kepemimpinan Kristen Vol 7, No 2 (2022): Teologi dan Kepemimpinan Kristen - Desember 2022
Publisher : STTI Harvest Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (218.788 KB) | DOI: 10.52104/harvester.v7i2.99

Abstract

This article is the result of the discovery of four layers of exegesis meaning from Galatians 3:1-5 and is supported by secondary literature that supports the findings of this article. True faith is faith in Jesus Christ and not the law. Claiming to believe in God alone is not enough, because living faith is faith that continues to grow in Christ through every human action. Through faith and a good relationship with God will make humans united with God in eternity. The thing that every believer needs to realize is that through mature faith before God, humans always hunger and thirst for fellowship with God through an intimate relationship with God. God has given the gift of salvation to us humans and now it is human's part to work out a union with God through a real relationship before God, until in the end the faith that grows with actions that are more real before God will make humans unite with God in eternity.AbstrakArtikel ini merupakan hasil penemuan empat lapisan makna eksegesis dari surat Galatia 3:1-5 dan didukung oleh literatur-literatur sekunder yang mendukung penemuan artikel ini. Iman yang benar adalah iman yang bertumbuh di dalam Yesus Kristus yang adalah Anak Allah dan bukan iman yang berasal dari hukum taurat. Mengaku percaya kepada Tuhan saja tidak cukup, karena Iman yang hidup adalah iman yang terus bertumbuh di dalam Kristus melalui setiap perbuatan manusia. Melalui Iman serta relasi yang baik dengan Allah akan membuat manusia bersatu bersama dengan Allah dalam kekekalan. Bagi orang percaya kepada Tuhan ada hal-hal yang harus diperhatikan yaitu, bahwa melalui Iman yang dewasa di hadapan Allah membuat manusia selalu lapar dan haus akan persekutuan dengan Allah melalui relasi yang intim dengan Tuhan. Tuhan sudah memberikan anugerah keselamatan kepada kita manusia dan sekarang bagiannya manusia untuk mengerjakan penyatuan dengan Allah melalui relasi yang nyata dihapan Tuhan, sampai pada akhirnya iman yang semakin bertumbuh dengan perbuatan yang semakian nyata di hadapan Allah akan membuat manusia bersatu dengan Allah dalam kekekalan.
Konsep Kasih Menurut St. Maximus The Confessor: Proses Menyatu Dengan Allah Fitri Juliani; Stephanus Liem
JURNAL TRANSFORMASI: Jurnal Teologi dan Kepemimpinan Vol. 2 No. 1 (2023): Mei 2023
Publisher : STT INTI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kasih adalah suatu hal yang sangat penting dalam hidup orang percaya, karena melalui kasih manusia bisa mencintai Allah dan mengasihi sesamanya manusia. Namun realitanya banyak orang percaya yang justru menyelepekan dan bahkan mereka sangat susah untuk mengasihi orang-orang yang mungkin derajatnya tidak sesuai dengan ekspektasi yang diharapkan. Maka dari itu, penelitian ini bertujuan memberi penjelasan bagi setiap orang supaya mereka bisa memahami kasih itu seperti apa menurut pandangan St. Maximus, dan setelah mengetahui definisi tentang kasih, maka mereka akan mengaplikasikannya dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari baik untuk mengasih sesama manusia terlebih-lebih untuk mengasihi Allah.
Pandangan Etika Kristen Terhadap Tindakan Bunuh Diri Raymond Gulo; Stephanus Liem
JURNAL TRANSFORMASI: Jurnal Teologi dan Kepemimpinan Vol. 3 No. 1 (2024): Vol. 3 No. 1 (Mei 2024)
Publisher : STT INTI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk menggali dan menganalisis pendangan etika Kristen terhadap fenomena bunuh diri. Karena fenomena ini merupakan isu yang kompeleks dan sensitif, yang mempertimbangkan nilai-nilai moral dan spirtual yang mendasari kepercayaan Kristen. Berdasarkan hal itu, maka penulis menggunakan pendekatan kualitatif dan menitik beratkan pada data atau informasi dari Alkitab sebagai sumber utama serta pendekatan studi literatur. Karena penyebab utama tindakan bunuh diri bukan semata-mata persoalan mental namun berakar pada tindakan yang dapat di sengaja oleh seseorang, dan akhirnya berkembang pada perilaku-perilaku moral serta diakhiri dengan tindakan bunuh diri.