Muallim Lubis
UIN Sjech M. Djamil Djambek BUkittinggi

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Nahdlatul Ulama, Education, and Da'wah: Tuan Mukhtar Muda Nasution's Contribution in South Tapanuli Muallim Lubis
Tamaddun Vol 5, No 2 (2021): July - December 2021
Publisher : Universitas Islam Negeri Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (469.683 KB) | DOI: 10.30983/fuaduna.v5i2.4585

Abstract

This article aims to analyze the contribution of Tuan Mukhtar Muda Nasution to the Nahdlatul Ulama (NU) organization, education, and da'wah, especially in the South Tapanuli region, North Sumatra. In the midst of Tuan Mukhtar’s achievement, researchers have not mentioned much about his contribution. He is also not well known within the NU organization and the wider community in North Sumatra. This study uses a social history approach with the main source coming from the autobiography of Tuan Mukhtar Muda Nasution and other books he has written such as Sejarah Singkat Nahdlatul Ulama and supported by data from interviews with his friends and students. The results of this study indicate that Tuan Mukhtar was an educated man from the Mandailing tribe, who studied at the intellectual center of the early 20th-century Sunni tradition in the land of the Hijaz. In North Sumatra, Tuan Mukhtar is an icon of Islamic religious education, especially among pesantren (Islamic boarding schools). In Nahdlatul Ulama in North Sumatra, he was once the Mustasyar of PBNU and Syuriah of PWNU of North Sumatra. As for the field of da'wah, he is highly appreciated because he is widely known as a cleric who contributed to Islam in South Tapanuli. This study presents a broader elaboration of Tuan Mukhtar based on new and reliable sources.Artikel ini bertujuan untuk menganalisis kontribusi Tuan Mukhtar Muda Nasution terhadap organisasi Nahdlatul Ulama (NU), pendidikan, dan dakwah, khususnya di wilayah Tapanuli Selatan, Sumatra Utara. Di tengah pencapaian Tuan Mukhtar, para peneliti belum banyak meneliti tentang kontribusinya. Ia juga kurang dikenal baik dalam organisasi Nahdlatul Ulama dan masyarakat luas di Sumatera Utara. Studi ini menggunakan pendekatan sejarah sosial dengan sumber utama berasal dari autobiografi karya Tuan Mukhtar Muda Nasution dan buku-buku lain yang ditulisnya seperti Sejarah Singkat Nahdlatul Ulama, serta didukung oleh data wawancara dengan para sahabat dan murid-muridnya. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Tuan Mukhtar adalah seorang terpelajar dari suku Mandailing, yang belajar di pusat intelektual dari tradisi Sunni awal abad ke-20 di tanah Hijaz. Di Sumatra Utara, Tuan Mukhtar merupakan ikon tokoh pendidikan agama Islam, terkhusus di kalangan pesantren. Dalam Nahdlatul Ulama di Sumatera Utara, ia pernah menjabat sebagai Mustasyar PBNU dan Syuriah PWNU Sumatera Utara. Adapun dalam dunia dakwah, ia sangat dihargai sebab dikenal luas sebagai ulama yang berkontribusi terhadap Islam di Tapanuli Selatan. Studi ini menyajikan elaborasi yang lebih luas dari Tuan Mukhtar berdasarkan sumber baru dan tepercaya.
KONTRIBUSI SYAIKH ABDUL WAHAB SEI LUMUT TERHADAP PENDIDIKAN ISLAM DI SUMATERA UTARA Muallim Lubis
Ta'allum: Jurnal Pendidikan Islam Vol 10 No 2 (2022)
Publisher : Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21274/taalum.2022.10.2.191-219

Abstract

Syaikh Abdul Wahab Sei Lumut yang lahir pada 1864 M adalah seorang ulama dan tokoh yang berkontribusi terhadap pendidikan Islam di Sumatera Utara. Kontribusinya adalah berupa pendirian Madrasah Ittihadul Wathaniyah, salah satu madrasah yang pertama kali berdiri di Sumatera Utara, tepatnya di daerah pesisir Kecamatan Panai Hilir, Kabupaten Labuhanbatu, Sumatera Utara. Diketahui bahwa Madrasah yang ia dirikan tersebut dari sisi pembelajaran lebih maju dibanding madrasah lain yang ada di Kabupaten Labuhanbatu, umumnya Sumatera Utara, baik dari segi sarana dan metode pembelajaran. Madrasah Ittihadul Wathaniyah, sebagai sebuah lembaga pendidikan Islam, pada masanya telah memiliki ruang belajar, meja belajar, dan alat tulis yang terbilang lengkap, sedangkan yang lainnya masih bentuk halaqoh-halaqoh. Ia juga dikenal sebagai salah satu tokoh yang ikut serta memperjuangkan pendidikan Islam dari aturan ordinansi Belanda yang mengekang pendidikan Islam di Sumatera Utara. Abstract: Shaykh Abdul Wahab Sei Lumut who was born in 1864 is a scholar and figure who contributed to Islamic education in North Sumatra. His contribution was in the form of the establishment of Madrasa Ittihadul Wathaniyah, one of the first madrasas to be established in North Sumatra, precisely in the coastal area of ​​Panai Hilir District, Labuhanbatu Regency, North Sumatra. It is known that the Madrasa he founded is more advanced in terms of learning than other madrasas in Labuhanbatu Regency, generally North Sumatra, both in terms of facilities and learning methods. Madrasah Ittihadul Wathaniyah, as an Islamic educational institution, in its time had a complete study room, study table, and writing utensils, while the others were still in the form of halaqoh-halaqoh. He is also known as one of the figures who participated in the struggle for Islamic education from the Dutch ordinance rules that curbed Islamic education in North Sumatra