Riqko Nur Ardi Windayanto
Unknown Affiliation

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Pergeseran dan Pemertahanan Bahasa Jawa Kromo Ketika Lebaran Pada Ranah Keluarga: Tinjauan Sosiolinguistik Riqko Nur Ardi Windayanto
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 11, No 2 (2022): Ranah: jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v11i2.3803

Abstract

This study aims to reveal the shift and maintenance of formal Javanese (kromo) during Eid in the family domain by searching the language choices and its underlying factors. This is qualitative research. The research data consists of verbal data (the utterances that used when sungkeman or greeting as a central ritual in Eid) and social data, namely the reasons behind the use of these utterances. Both are obtained by semi-structured interviews. In addition, social data is obtained by literature study. The data are analyzed by using ethnographic methods, namely (1) analyzing the forms of language choice in accordance with the theory; and (2) explaining the constellation factors and language shifts-maintenance of informants’ explanations, interpretations, and expert explanations. Based on the research result, language choices include variations in the same language, code switching, and a combination of code-switching and code-mixing between formal Javanese, Indonesian, and Arabic. The selection is motivated by linguistic factors and social factors. This shows that the shift from Javanese to other languages during Eid do not fully occur. Its use is still maintained. Both are motivated by social factors of each. AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengungkapkan pergeseran dan pemertahanan bahasa Jawa kromo ketika lebaran pada ranah keluarga dengan menelusuri pilihan bahasa dan faktor yang melatarbelakanginya. Data penelitian terdiri atas data verbal (tuturan-tuturan yang digunakan ketika sungkeman atau salaman sebagai ritual sentral dalam lebaran) dan data sosial, yaitu alasan-alasan di balik penggunaan tuturan-tuturan tersebut. Keduanya diperoleh dengan wawancara semi terstruktur. Sebagai tambahan, data sosial diperoleh dengan studi kepustakaan. Data dianalisis dengan menggunakan metode etnografi, yaitu (1) menganalisis bentuk-bentuk pilihan bahasa sesuai dengan teori; serta (2) menjelaskan konstelasi faktor dan pergeseran-pemertahanan bahasa berdasarkan penjelasan informan, interpretasi, dan penjelasan pakar. Berdasarkan hasil penelitian, pilihan-pilihan bahasa meliputi variasi dalam bahasa yang sama, alih kode, dan gabungan alih kode-campur kode antara bahasa Jawa kromo, bahasa Indonesia, dan bahasa Arab. Pemilihan itu dilatarbelakangi oleh faktor linguistis dan faktor sosial. Hal itu menunjukkan bahwa pergeseran dari bahasa Jawa kromo ke bahasa-bahasa lain pada saat lebaran tidak sepenuhnya terjadi. Penggunaannya masih dipertahankan. Keduanya dilatarbelakangi oleh faktor sosial masing-masing.
Pergeseran dan Pemertahanan Bahasa Jawa Kromo Ketika Lebaran Pada Ranah Keluarga: Tinjauan Sosiolinguistik Riqko Nur Ardi Windayanto
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 11, No 2 (2022): Ranah: jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v11i2.3803

Abstract

This study aims to reveal the shift and maintenance of formal Javanese (kromo) during Eid in the family domain by searching the language choices and its underlying factors. This is qualitative research. The research data consists of verbal data (the utterances that used when sungkeman or greeting as a central ritual in Eid) and social data, namely the reasons behind the use of these utterances. Both are obtained by semi-structured interviews. In addition, social data is obtained by literature study. The data are analyzed by using ethnographic methods, namely (1) analyzing the forms of language choice in accordance with the theory; and (2) explaining the constellation factors and language shifts-maintenance of informants’ explanations, interpretations, and expert explanations. Based on the research result, language choices include variations in the same language, code switching, and a combination of code-switching and code-mixing between formal Javanese, Indonesian, and Arabic. The selection is motivated by linguistic factors and social factors. This shows that the shift from Javanese to other languages during Eid do not fully occur. Its use is still maintained. Both are motivated by social factors of each. AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengungkapkan pergeseran dan pemertahanan bahasa Jawa kromo ketika lebaran pada ranah keluarga dengan menelusuri pilihan bahasa dan faktor yang melatarbelakanginya. Data penelitian terdiri atas data verbal (tuturan-tuturan yang digunakan ketika sungkeman atau salaman sebagai ritual sentral dalam lebaran) dan data sosial, yaitu alasan-alasan di balik penggunaan tuturan-tuturan tersebut. Keduanya diperoleh dengan wawancara semi terstruktur. Sebagai tambahan, data sosial diperoleh dengan studi kepustakaan. Data dianalisis dengan menggunakan metode etnografi, yaitu (1) menganalisis bentuk-bentuk pilihan bahasa sesuai dengan teori; serta (2) menjelaskan konstelasi faktor dan pergeseran-pemertahanan bahasa berdasarkan penjelasan informan, interpretasi, dan penjelasan pakar. Berdasarkan hasil penelitian, pilihan-pilihan bahasa meliputi variasi dalam bahasa yang sama, alih kode, dan gabungan alih kode-campur kode antara bahasa Jawa kromo, bahasa Indonesia, dan bahasa Arab. Pemilihan itu dilatarbelakangi oleh faktor linguistis dan faktor sosial. Hal itu menunjukkan bahwa pergeseran dari bahasa Jawa kromo ke bahasa-bahasa lain pada saat lebaran tidak sepenuhnya terjadi. Penggunaannya masih dipertahankan. Keduanya dilatarbelakangi oleh faktor sosial masing-masing.
Air yang Kultural dan Ideologis: Konstruksi Naratologis Kuala dalam Hikayat Parang Puting Riqko Nur Ardi Windayanto
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 13, No 1 (2024): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v13i1.7149

Abstract

This research aims to reveal the narratological construction of kuala in the Hikayat Parang Puting so that its cultural and ideological values can be identified. By amalgamating the narratological theory of Mieke Bal and Ansgar Nünning, this research moves dialectically between literary works and Malay culture to reveal this construction. The Hikayat Parang Puting MSS Malay D 3 as the British Library collection that has been transliterated is the data source for gathering linguistic units representing kuala constructions. Methodologically, this data is textually analyzed with attention to its context in literary works and the narratology theories employed. The analysis is further reinforced with literature reviews to correlate the literary data with cultural data beyond the text. This research found that kuala is a geographical element that is spread out, one of which is in Penang. In Penang, Hikayat Parang Puting was produced by Ibrahim. The presence of kuala in the text, thus, cannot be separated from that fact. Similar to the cultural idea of kuala, kuala in the text is perceived by the characters and narrator as a space of power (Hall-Airriess) and a liminal space (Andaya). However, this power does not mean a force; liminal space does not contain spiritual potential, but rather myth. Kuala tends to be constructed as an intermediate location that is connected to a dangerous world as well as a space that is safe from these dangers. Narratively, kuala is also a location that conveys land and sea as two opposing locations in the story. This research ultimately concludes that the cultural and ideological kuala is a geographical object that articulates animistic energies, which can bring both security and danger as well as disasters and safety. This becomes the reality of the meaning and culture offered by the tale. AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk menguraikan konstruksi naratologis kuala dalam Hikayat Parang Puting sehingga dapat diketahui nilai kultural dan ideologisnya. Penggunaan teori naratologi dari Mieke Bal dan Ansgar Nünning menjadikan penelitian ini bergerak secara dialektal antara karya sastra dan budaya Melayu untuk mengungkapkan konstruksi itu. Hikayat Parang Puting MSS Malay D 3 koleksi British Library yang telah dialihaksarakan menjadi sumber data untuk menghimpun data satuan-satuan lingual yang merepresentasikan konstruksi kuala. Secara metodologis, data ini dianalisis secara tekstual dengan memperhatikan konteksnya dalam karya sastra dan teori naratologi yang digunakan. Analisis diperkuat pula dengan studi pustaka sehingga data karya sastra dikorelasikan dengan data budaya di luar teks. Penelitian ini menemukan bahwa kuala merupakan elemen geografis yang tersebar, salah satunya, di Penang. Di Penang inilah Hikayat Parang Puting diproduksi oleh Ibrahim. Kehadiran kuala dalam teks, dengan demikian, tidak terlepas dari kenyataan itu. Mirip dengan gagasan budaya tentang kuala, kuala dalam teks dipersepsikan oleh karakter dan narator sebagai ruang kekuasaan (Hall-Airriess) dan ruang liminal (Andaya). Namun, kekuasaan ini tidak berarti kekuatan; ruang antara tidak mengandung potensi spiritual, tetapi mitologis. Kuala cenderung dikonstruksi sebagai ruang antara yang terhubung dengan dunia yang berbahaya sekaligus ruang aman dari bahaya tersebut. Secara naratif, kuala juga menjadi lokasi yang mengantarai daratan dan lautan sebagai dua lokasi yang beroposisi dalam cerita. Penelitian ini pada akhirnya menyimpulkan bahwa kuala yang kultural dan ideologis adalah objek geografis yang mengartikulasikan energi animisme, yang bisa mendatangkan rasa aman dan bahaya juga bencana dan keselamatan. Hal itu menjadi kenyataan makna dan budaya yang ditawarkan oleh hikayat.