Claim Missing Document
Check
Articles

Found 18 Documents
Search

PELATIHAN TENTANG PENERAPAN TERAPI KOMPLEMENTER PIJAT BAYI DAN PERBAIKAN POLA MAKAN SEBAGAI UPAYA PENCEGAHAN STUNTING PADA ANAK BALITA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS TANAH KALI KEDINDING KOTA SURABAYA Syuhrotut Taufiqoh; Aryunani Aryunani; Fulatul Anifah
JIPAM : Jurnal Ilmiah Pengabdian kepada Masyarakat Vol. 1 No. 1 (2021): JIPAM : Jurnal Ilmiah Pengabdian kepada Masyarakat
Publisher : STAI Darul Qalam Tangerang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (310.167 KB) | DOI: 10.55883/jipam.v1i1.25

Abstract

Public education can be done to improve health status of the community. One of the health problems that occur in children is stunting. The purpose of this community service activity is to increase knowledge, attitudes, and community behavior in preventing stunting with complementary baby massage therapy as well as improving diet. The results of the educational activities showed that the activities carried out according to the planned time contract with the target of toddler cadres in the working area of ​​the Tanah Kali Kedinding Health Center, Surabaya City. The results of the evaluation showed that the participants were on average active and very enthusiastic in participating activities. Furthermore, the cadres of toddlers can teach mothers of toddlers about the education that has been obtained. The application of complementary baby massage therapy and improvement of diet, parenting, and sanitation is expected to be carried out by mothers of toddlers with the assistance of toddler cadres as an effort to prevent stunting in children under five
HUBUNGAN POLA ASUH ORANG TUA DENGAN PERKEMBANGAN EMOSIONAL ANAK PRASEKOLAH USIA 3-6 TAHUN DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS MULYOREJO KOTA SURABAYA Fanny, Shellya Dwi; Nadhiroh, Aim Matun; Taufiqoh, Syuhrotut
Sinar : Jurnal Kebidanan Vol 5 No 1 (2023): SINAR Jurnal Kebidanan
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30651/sinar.v5i1.18873

Abstract

ABSTRACTObjective: Masa anak prasekolah merupakan periode penting dalam perkembangan anak, karena tidak semua anak dapat melalui masa tumbuh kembangnya dengan optimal. World Health Organization (WHO) 2017, melaporkan bahwa 5-25% dari anak usia prasekolah mengalami gangguan perkembangan emosional dengan populasi anak sebesar 23,979,000. Pola asuh orang tua sangat membantu anak dalam mencapai dan melewati pertumbuhan dan perkembangan sesuai tingkatan usianya dengan normal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan pola asuh orang tua dengan perkembangan emosional anak prasekolah usia 3-6 tahun di Wilayah Kerja Puskesmas Mulyorejo Kota Surabaya.Methods: Rancangan penelitian berupa analitik korelasional dengan pendekatan Cross Sectional. Penelitian ini dilakukan selama bulan Januari 2023. Populasi penelitian ini sebanyak 125 orang dengan pengambilan sampel menggunakan teknik Quota Sampling dengan jumlah sampel yang diperoleh sebanyak 95 orang tua dan anak. Pengumpulan data dilakukan dengan kuesioner pola asuh yang menggunakan dari Parental Questionnaire (PAQ) dan kuisioner perkembangan emosional anak prasekolah yang menggunakan kuesioner KMPE. Results: Mayoritas ibu menerapkan pola asuh otoriter sebanyak 52 (54,9%) dan mayoritas anak prasekolah memiliki perkembangan emosional yang menyimpang sebanyak 75 (78,9%) anak prasekolah. Data diolah menggunakan uji Rank Spearman  dengan nilai ρ value = 0,01 sehingga dapat diartikan bahwa signifikan antara pola asuh orang tua dengan perkembangan emosional anak prasekolah. Hal ini membuktikan bahwa ada hubungan antara pola asuh orang tua dengan perkembangan emosional anak prasekolah..Conclusion: Praktik pengasuhan dimasyarkat setiap orang tua dapat menerapkan pola asuh yang berbeda, dengan adanya perbedaan pola asuh tersebut dapat membentuk perkembangan emosional anak yang berbeda-beda
Habits of Drinking Herbal Medicine in Postpartum Mothers in the Working Area of PD 'Aisyiyah Bangkalan Regency Anifah, Fulatul; Taufiqoh, Syuhrotut; Nuzula, Firdausi
Journal La Medihealtico Vol. 5 No. 5 (2024): Journal La Medihealtico
Publisher : Newinera Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37899/journallamedihealtico.v5i5.1636

Abstract

The aim of this study is to find out what factors encourage mothers to take herbal medicines and what are the effects after taking herbal medicin. This research method is qualitative descriptive with a case study approach. The research subjects in this study are postpartum mothers who drink herbal medicine with inclusion criteria who do not experience complications during puerperal and are in the postpartum period. The main informants in this study were 5 people with triangulation informants of 4 people consisting of midwives, cadres, families and shamans. The methods used in this study are interviews, FGDs, and observations. The instruments used are interview guidelines and observation sheets.the data obtained is processed, analyzed and presented textually. The results of the study showed that all informants consumed jau for postpartum mothers. All of them consume instant herbal medicine in powder form. Drinking herbal medicine begins at 7 days after giving birth until 40 days of the postpartum period. The driving factor for postpartum mothers to drink herbal medicine is orders from parents and the surrounding community. The efficacy of postpartum herbal medicine felt by the informant was that the body felt healthy, increased breast milk production, tightened muscles, while the negative impact obtained was constipation. The behavior of consuming herbal medicine for postpartum mothers is seen from a medical point of view as not harmful to the health of the postpartum mother's body.
HUBUNGAN POLA ASUH ORANG TUA DENGAN PERKEMBANGAN EMOSIONAL ANAK PRASEKOLAH USIA 3-6 TAHUN DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS MULYOREJO KOTA SURABAYA Fanny, Shellya Dwi; Nadhiroh, Aim Matun; Taufiqoh, Syuhrotut
Sinar : Jurnal Kebidanan Vol 5 No 1 (2023): SINAR Jurnal Kebidanan
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30651/sinar.v5i1.18873

Abstract

ABSTRACTObjective: Masa anak prasekolah merupakan periode penting dalam perkembangan anak, karena tidak semua anak dapat melalui masa tumbuh kembangnya dengan optimal. World Health Organization (WHO) 2017, melaporkan bahwa 5-25% dari anak usia prasekolah mengalami gangguan perkembangan emosional dengan populasi anak sebesar 23,979,000. Pola asuh orang tua sangat membantu anak dalam mencapai dan melewati pertumbuhan dan perkembangan sesuai tingkatan usianya dengan normal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan pola asuh orang tua dengan perkembangan emosional anak prasekolah usia 3-6 tahun di Wilayah Kerja Puskesmas Mulyorejo Kota Surabaya.Methods: Rancangan penelitian berupa analitik korelasional dengan pendekatan Cross Sectional. Penelitian ini dilakukan selama bulan Januari 2023. Populasi penelitian ini sebanyak 125 orang dengan pengambilan sampel menggunakan teknik Quota Sampling dengan jumlah sampel yang diperoleh sebanyak 95 orang tua dan anak. Pengumpulan data dilakukan dengan kuesioner pola asuh yang menggunakan dari Parental Questionnaire (PAQ) dan kuisioner perkembangan emosional anak prasekolah yang menggunakan kuesioner KMPE. Results: Mayoritas ibu menerapkan pola asuh otoriter sebanyak 52 (54,9%) dan mayoritas anak prasekolah memiliki perkembangan emosional yang menyimpang sebanyak 75 (78,9%) anak prasekolah. Data diolah menggunakan uji Rank Spearman  dengan nilai ρ value = 0,01 sehingga dapat diartikan bahwa signifikan antara pola asuh orang tua dengan perkembangan emosional anak prasekolah. Hal ini membuktikan bahwa ada hubungan antara pola asuh orang tua dengan perkembangan emosional anak prasekolah..Conclusion: Praktik pengasuhan dimasyarkat setiap orang tua dapat menerapkan pola asuh yang berbeda, dengan adanya perbedaan pola asuh tersebut dapat membentuk perkembangan emosional anak yang berbeda-beda
IMPLEMENTASI MASSAGE EFFLEURAGE PADA NYERI DISMENOREA REMAJA PUTRI DI PONDOK PESANTREN: IMPLEMENTATION OF EFFLEURAGE MASSAGE FOR DYSMINORHEA PAIN MANAGEMENT AMONG ADOLESCENT GIRLS AT ISLAMIC BOARDING SCHOOL Irma Maya Puspita; Umi Ma’rifah; Asta Adyani; Syuhrotut Taufiqoh; Nur Hidayatul Ainiyah
GEMAKES: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 6 No. 2 (2026): GEMAKES: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : Politeknik Kesehatan Kemenkes RI Jakarta I

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36082/gemakes.v6i2.2069

Abstract

Dismenorea merupakan kondisi yang sering dialami oleh remaja putri. Meskipun sering dianggap sebagai bagian normal dari proses menstruasi, dismenorea dapat mempengaruhi kualitas hidup remaja putri, menyebabkan gangguan emosional, penurunan konsentrasi, dan bahkan ketidakhadiran dari sekolah. Dismenorea dapat diatasi dengan manajemen non farmakologi yaitu teknik relaksasi seperti massage effleurage. Massage effleurage dapat meningkatkan sirkulasi darah, memberikan tekanan, mendorong relaksasi fisik dan mental. Efek tersebut dapat menurunkan dismenorea. Metode kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dilakukan melalui pendekatan Participatory Action Research (PAR). Kegiatan ini dilakukan melalui pelatihan dengan pemberian materi, demonstrasi, dan praktik. Tempat pengabdian kepada masyarakat ini dilakukan pada santriwati di Pondok Pesantren Al Ishlah Sendang Agung Lamongan. Jumlah peserta yang mengikuti kegiatan ini adalah 135 santriwati. Hasil dari kegiatan ini menunjukkan peningkatan pengetahuan peserta pengabdian kepada masyarakat, dapat dilihat dari hasil pengisian kuisioner sebelum pelatihan peserta yang memiliki pengetahuan baik hanya 12 (8.9%) orang, setelah diberikan materi praktik massage effleurage terjadi perubahan, santriwati yang memiliki pengetahuan baik menjadi 117 santriwati (86.7%). Sebelum pelatihan tidak ada santri yang dapat melakukan massage effleurage saat mengalami dismenorea. Setelah pelatihan 122 santriwati (90 %) dapat melakukan massage effleurage. Pendidikan kesehatan tentang dismenorea dan massage effleurage memberikan manfaat yang signifikan bagi santriwati. Kegiatan ini dapat bermanfaat bagi santriwati dalam mengatasi dismenorea. Dengan meningkatnya pengetahuan tersebut, santriwati menjadi lebih mampu melakukan penanganan yang tepat sehingga dapat mengurangi dampak negatif dismenorea dan meningkatkan kualitas hidup mereka.
IMPLEMENTASI MASSAGE EFFLEURAGE PADA NYERI DISMENOREA REMAJA PUTRI DI PONDOK PESANTREN: IMPLEMENTATION OF EFFLEURAGE MASSAGE FOR DYSMINORHEA PAIN MANAGEMENT AMONG ADOLESCENT GIRLS AT ISLAMIC BOARDING SCHOOL Irma Maya Puspita; Umi Ma’rifah; Asta Adyani; Syuhrotut Taufiqoh; Nur Hidayatul Ainiyah
GEMAKES: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 6 No. 2 (2026): GEMAKES: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : Politeknik Kesehatan Kemenkes RI Jakarta I

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36082/gemakes.v6i2.2069

Abstract

Dismenorea merupakan kondisi yang sering dialami oleh remaja putri. Meskipun sering dianggap sebagai bagian normal dari proses menstruasi, dismenorea dapat mempengaruhi kualitas hidup remaja putri, menyebabkan gangguan emosional, penurunan konsentrasi, dan bahkan ketidakhadiran dari sekolah. Dismenorea dapat diatasi dengan manajemen non farmakologi yaitu teknik relaksasi seperti massage effleurage. Massage effleurage dapat meningkatkan sirkulasi darah, memberikan tekanan, mendorong relaksasi fisik dan mental. Efek tersebut dapat menurunkan dismenorea. Metode kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dilakukan melalui pendekatan Participatory Action Research (PAR). Kegiatan ini dilakukan melalui pelatihan dengan pemberian materi, demonstrasi, dan praktik. Tempat pengabdian kepada masyarakat ini dilakukan pada santriwati di Pondok Pesantren Al Ishlah Sendang Agung Lamongan. Jumlah peserta yang mengikuti kegiatan ini adalah 135 santriwati. Hasil dari kegiatan ini menunjukkan peningkatan pengetahuan peserta pengabdian kepada masyarakat, dapat dilihat dari hasil pengisian kuisioner sebelum pelatihan peserta yang memiliki pengetahuan baik hanya 12 (8.9%) orang, setelah diberikan materi praktik massage effleurage terjadi perubahan, santriwati yang memiliki pengetahuan baik menjadi 117 santriwati (86.7%). Sebelum pelatihan tidak ada santri yang dapat melakukan massage effleurage saat mengalami dismenorea. Setelah pelatihan 122 santriwati (90 %) dapat melakukan massage effleurage. Pendidikan kesehatan tentang dismenorea dan massage effleurage memberikan manfaat yang signifikan bagi santriwati. Kegiatan ini dapat bermanfaat bagi santriwati dalam mengatasi dismenorea. Dengan meningkatnya pengetahuan tersebut, santriwati menjadi lebih mampu melakukan penanganan yang tepat sehingga dapat mengurangi dampak negatif dismenorea dan meningkatkan kualitas hidup mereka.
Antara Mitos dan Kesehatan: Praktik Pijat Bayi Tradisional Pada Ibu dengan Bayi Usia 0–12 Bulan Aim Nadhiroh; Firdausi Nuzula; Nur Hidayatul Ainiyah; Syuhrotut Taufiqoh
Journal Center of Research Publication in Midwifery and Nursing Vol 10 No 1 (2026): Journal Center of Research Publication in Midwifery and Nursing
Publisher : STIKES Bina Usada Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36474/caring.v10i1.624

Abstract

Background: Infant massage is a complementary therapy that supports infant comfort and development. However, infant massage practices in the community are still predominantly performed by traditional practitioners and influenced by sociocultural factors, family experiences, and myth-based beliefs. Studies integrating traditional infant massage practices, information sources, and myth beliefs within community midwifery services remain limited. Methodology: This quantitative descriptive study with a cross-sectional approach was conducted at TPMB Farida Hajri Surabaya in December 2025. The study involved 19 mothers with infants aged 0–12 months selected using total sampling. Data were collected through a structured questionnaire covering respondent characteristics, infant massage information sources, massage practices, and myth beliefs. Data were analyzed descriptively using frequency and percentage distributions. Results: Most mothers were aged 20–35 years (84%). A total of 74% had received information about infant massage, mainly from family members or close relatives (57%). Most mothers had practiced infant massage (63%), and all practices were performed by traditional practitioners. Myth beliefs identified included infant fussiness due to sawanen (67%), fatigue (25%), and sprain (8%). Conclusion: Infant massage practices remain influenced by cultural factors and family-based information. Midwives should develop safe infant massage education using family-centered and culturally sensitive approaches to improve acceptance of evidence-based midwifery practices
Antara Mitos dan Kesehatan: Praktik Pijat Bayi Tradisional Pada Ibu dengan Bayi Usia 0–12 Bulan Aim Nadhiroh; Firdausi Nuzula; Nur Hidayatul Ainiyah; Syuhrotut Taufiqoh
Journal Center of Research Publication in Midwifery and Nursing Vol 10 No 1 (2026): Journal Center of Research Publication in Midwifery and Nursing
Publisher : STIKES Bina Usada Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36474/caring.v10i1.624

Abstract

Background: Infant massage is a complementary therapy that supports infant comfort and development. However, infant massage practices in the community are still predominantly performed by traditional practitioners and influenced by sociocultural factors, family experiences, and myth-based beliefs. Studies integrating traditional infant massage practices, information sources, and myth beliefs within community midwifery services remain limited. Methodology: This quantitative descriptive study with a cross-sectional approach was conducted at TPMB Farida Hajri Surabaya in December 2025. The study involved 19 mothers with infants aged 0–12 months selected using total sampling. Data were collected through a structured questionnaire covering respondent characteristics, infant massage information sources, massage practices, and myth beliefs. Data were analyzed descriptively using frequency and percentage distributions. Results: Most mothers were aged 20–35 years (84%). A total of 74% had received information about infant massage, mainly from family members or close relatives (57%). Most mothers had practiced infant massage (63%), and all practices were performed by traditional practitioners. Myth beliefs identified included infant fussiness due to sawanen (67%), fatigue (25%), and sprain (8%). Conclusion: Infant massage practices remain influenced by cultural factors and family-based information. Midwives should develop safe infant massage education using family-centered and culturally sensitive approaches to improve acceptance of evidence-based midwifery practices