This Author published in this journals
All Journal Widyaparwa
Dhanu Priyo Probowo
Unknown Affiliation

Published : 4 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

SASTRA PROPAGANDA: SEBUAH STUDI KASUS TEMBANG MACAPAT PADA ERA ORDE BARU DI KMD KANDHA RAHARJA Dhanu Priyo Probowo
Widyaparwa Vol 40, No 2 (2012)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3131.032 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v40i2.53

Abstract

Kehadiran sastra sebagai bagian dari ekspresi masyarakat dapat memanifestasikan fenomena kehidupan dalam kelembagaan karya. Sastra sebagai lembaga sosial yang memuat gambaran kehidupan realitas manusia dapat digunakan sebagai media penyebaran suatu kebudayaan. Sebagai karya bertendens, tembang macapat di KMD Kandha Raharja dipakai untuk menanamkan hegemoni. Hegemoni ditujukan untuk mempertahankan kekuasaan dan sebagai sarana pembentuk kebudayaan dan tradisi masyarakat. Tembang macapat yang dimuat di KMD Kandha Raharja berhasil menjadi media hegemoni pemerintah atas karya sastra. Dilihat dari estetika konvensi dasar penyusunan telah memenuhi syarat, tetapi tembang-tembang macapat itu tidak memperhatitan faktor-faktor filosofi/isi yang kontemplatif. Pada Zaman Orde Baru, propaganda politik lewat kesusastraan dilakukan lewat media massa/surat kabar/majalah. Media massa ditempatkan sebagai ujung tombak Orde Baru dalam rangka mewujudkan cita-citanya dalam membangun bangsa. KMD Kandha Rahardja diterbitkan masyarakat pedesaan. KMD Kandha Raharja menjadi sastra propaganda dari rezim Orde Baru. Dalam tulisan ini, dipergunakan teori hegemoni sastra untuk mengungkapkan persoalan sastra (tembang macapat) proganda. Penelitian sastra bersifat penelitian kepustakaan. Oleh karena itu, dalam pengumpulan data, penelitian ini menggunakan metode kepustakaan. Literature existence as social expression part could manifest living phenomena in works institution. Literature as social institution that portrays human reality life is functionable as cultural spreading media. Tembang Macapat KMD Kandha Raharja, as tendentious works, is made use to establish hegemony to defend authority and as means to form social tradition and culture. Tembang Macapat in KMD Kandha Raharja his successfully become hegemony media over literary works. The Tembang Macapat had been appropriate to basic convention aesthetics, but it was still incoutious to contemplative philosophy factors philosophy factor. In New Order Era, political propaganda through literature was carried out through mass media/newspapers/magazines. Mass media was placed as Ney Order Era pioneer in realize its nation building idealism. KMD Kanda Raharja was published by village dweller. KMD Kandha Raharja became propaganda literature of New Order Era regime. This paper uses hegemony theory to reveal propaganda literature problem (Tembang Macapat). This research is a library research, therefore it uses library method in collecting data.
TEKS BASIYO PAK DENGKEK: SEBUAH GAMBARAN KELUARGA JAWA DI DALAM DAGELAN MATARAM Dhanu Priyo Probowo
Widyaparwa Vol 38, No 2 (2010)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1086.258 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v38i2.21

Abstract

Teks Basiyo Pak Dengkek berisi ajaran-ajaran yang bernilai kejawaan, khususnya tentang keluarga Jawa. Keluarga Jawa mengajarkan tentang kerukunan dan kehalusan. Sebagai teks, pesan itu dikemas dalam suasana lucu dan dengan latar kehidupan sehari-hari. Di samping itu, teks Basiyo Pak Dengkek menjadi sebuah sapaan halus kepada orang Jawa untuk menyadari kekurangan, kesombongan, dan kerakusannya yang sangat akrab dengan kehidupan manusia.Basiyo Pak Dengkek text consisted of Javanese value teaching, particularly of Javanese family teaching. The Javanese family taught harmonious and soft. As text, those message were compiled in funny situation with daily life background. Besides that, Basiyo Pak Dengkek text became a soft greeting io Javanese people to realize their weakness, arrogant and greedy that attached to human life.
MITOS AIR "NYAI ANDAN SARI DAN KYAI GURU SOKA" (CERITA RAKYAT KABUPATEN GUNUNGKIDUL) Dhanu Priyo Probowo
Widyaparwa Vol 42, No 2 (2014)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3527.999 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v42i2.93

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengungkapkan mitos "Nyai Andan Sari dan Kyai Guru Soka". Mitos itu berasal dari Kabupaten Gungkidul, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Mitos itu mengandung makna simbol proyeksi pikiran manusia tentang air. Di dalam mitos ini ditemukan bahwa di Gunungkidul terdapat 31 sendang (mata air). Simbol air di dalam mitos memiliki makna yang tersembunyi di tengah kebudayaan masyarakat pendukungnya. Air menjadi simbol manusia (Dawung, Playen, Gunungkidul) untuk memperbaiki keadaan hidupnya supaya lepas dari himpitan kemiskinan. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah strukturalisme Levi-Strauss. Teori ini didasarkan atas asumsi-asumsi bahwa mitos "Nyai Andan Sari dan Kyai Guru_Soka" mengandung makna tertentu dan sebagai fenomena bermakna. Mitos "Nyai Andan Sari dan Kyai Guru Soka" baru dapat dipahami makna dan pesannya jika di dalamnya diketahui struktur dan makna berbagai elemennya. Sesuai dengan teori yang dipakai, penetitian ini mempergunakan metode struktur. This study aims to reveal the myth of "Nyai Andan Sari and Kyai Guru Soka". The myth is from Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta. In this mythical it is stated that in Gunungkidul there are 31. The myth implies projection symbol meaning of the human mind on the water springs. Water symbol in the mythical symbol has hidden meaning in cultural community of supporters. The theory used in this research is Levi-Strausss structuralism. This water has become a symbol o of human (Dawung, Playen, Gunung) to improve the state of his life in order to escape the crush of poverty. The theory is based on the assumption that the myth "Andan Nyai Sari and Kyai Guru Soka" contain certain meaning, and as a meaningful phenomenon. The meaning and the messange, Andan Nyai Sari and Kyai Guru Soka" myth can only be understood if the structure and meaning of the various elements are known. In accordance with the theory in this research, this study uses structure method.
DINAMIKA PENGARANG NOVEL JAWA TAHUN 1960-1965: 2 ANY ASMARA Dhanu Priyo Probowo
Widyaparwa Vol 41, No 2 (2013)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2044.601 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v41i2.70

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengungkapkan dinamika pengarang novel Jawa Any Asmara sebagai penggerak tindakan, pemikiran dan representasi dunia kepengarangan Jawa tahun 1960-1965. Teori yang diterapkan adalah teori sosiologi Pierre Bordieu, habitus. Habitus adalah mindset seseorang yang disesuaikan dengan kondisi-kondisi tertentu yang dihadapinya. Pengetahuan individual memiliki kekuatan konstitutif (membangun yang esensial) dan bukan sekedar refleksi dari dunia nyata. Habitus selalu dinamis sesuai dengan waktu bagi individual atau dengan secara regeneratif. Disposisi (persepsi, pikiran, dan tindakan yang diperoleh dan bertahan lama) Any Asmara (habitus) selalu menyesuaikan dengan kondisi yang berkembang di dalam masyarakatnya dan persoalan yang dihadapi. Ia berhasil dan berani membangun ketenaran karena sikapnya tidak patuh dalam aturan-aturan yang berlaku pada zamannya. Any Asmara yang menjadi sumber penggerak tindakan, pemikiran, dan representasi kepengaran dunia sastra Jawa. This research aims to reveal dynamic of Javanese author, Any Asmar, as motor for action, thought, and Javanese authorship representation in 1960- 1965. This research is conducted using sociology theory of Pierre Bordieu, habitus. Habitus is mindset of someone that is suited to particular condition he faced. lndividual knowledge has constitutive power (building the essential) and not merely reflection ofre1l world. Habitus is dynamic in time accordance or regeneratively. Disposition (perception, thought, and obtained and endured actions) of Any Asmara (habitus is always appropriate to developing condition among society and his faced problems'. He was succeded and brave to build famous for his attitude in disobeying rules in his age' Any 'Asmara is source of action motor, thought, and authority representation in Javanese literature.